RSS

Pillow Talk

Semalam, perutku sakit. Untuk meredakan nyerinya, saya mengusap-usap perut. Tingkah saya ternyata diperhatikan oleh Yobel.
“Kenapa, mama?”
“Perut mama sakit”
Yobel mendekat dan memegang perut saya. “Dulu Yobel waktu baby dalam perut mama ya?”, tanyanya. Yobel pernah melihat foto sewaktu saya dirawat pasca melahirkan dia, juga fotonya waktu bayi.
“Iya. Dulu Yobel dalam perutnya mama.”, jawabku.
“Bagaimana Yobel bisa masuk perut mama?”
“Hm… Tuhan yang kasih masuk Yobel dalam perutnya mama”
“Tuhan punya baby jugakah?”
“Iya… Tuhan punya banyaaak baby. Trus Tuhan masukkan baby ke perutnya mama-mama. Trus mamanya punya baby. Kayak mama sama Yobel”
“Oooh… kakak Agung juga?”, tanya Yobel merujuk ke sepupunya.
“Iya…Tuhan kasih masuk kakak Agung ke perutnya Nina. Jadi Nina itu mamanya kakak Agung.
“Oooh iyaaa… nanti mama punya baby lagi kah?”
“Mungkin. Kalau Tuhan kasih masuk baby lagi”
“Aku dulu baby trus besar….besar…besar…. nanti aku seperti papa”
“Iya…kalau kamu rajin makan dan sekolah, nanti besarnya kayak papa”
“Nanti Yobel juga kerjakah seperti Papa?”
“Iya…kalau sudah besar”
“Tapi aku mau kerja di rumah saja….kayak Papa.”
“Terserah…tapi kan Papa juga kadang kerjanya tidak di rumah.”
“Iya…papa kerjanya di orang kawin. Kalau mama kerjanya di rumah kah?”
“Tidak….mama kerjanya di kantor”
“Oooh…iya…mama belajar”
“Bukan belajar….mengajar”
“Aku tadi di sekolah belajar kepiting”
“Kenapa kepitingnya?”
“Kepiting itu bisa jepit-jepit”
“Warna kepiting apa?”
“Orange.”
“Kayak udang ya?”
“Iya…seperti udang.”
“Jeruk juga orange”
“Kalau kepiting itu bahasa Inggrisnya crab.”
“Iya…”

 

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 5, 2018 in tentang kita

 

Female of The Week

Seumur hidup, seingat saya, sudah tiga kali profil saya dimuat di koran lokal tempat tinggal saya. Yang pertama, waktu masih SMP, dimana saya menjadi utusan daerah (Kabupaten Luwu waktu itu) untuk mengikuti Lomba Olimpiade MIPA di tingkat provinsi. Sepertinya potongan artikel di koran itu masih disimpan oleh papa saya.

Yang kedua, ketika mewakili Fakultas Sains (tempat kerja saya) untuk mengikuti Seminar Nasional di Lombok. Tapi karena beritanya masuk di kolom advetorial edukasi (berita khusus promosi kampus) dan profil yang dimuat bersama-sama dengan beberapa teman lainnya, saya menganggapnya biasa saja.

WhatsApp Image 2017-10-07 at 09.17.24

Yang ketiga, dimuat hari ini, sebagai Female of The Week. Di situ menceritakan tentang profil saya sebagai wanita karir, yang dalam usia 30-an bisa memegang satu jabatan di universitas favorit di kota ini. Tentang bagaimana saya membagi waktu antara keluarga dan karir, tentang kedisiplinan yang selalu saya terapkan saat bekerja, dan juga tentang hobby membaca buku yang membuat saya beberapa kali memenangkan lomba membuat review. Ada juga tentang komunitas BBI yang membuat saya semakin mencintai buku.

Well…sejujurnya saat wartawan koran itu datang menemui dan mewawancarai saya, dalam hati saya sudah harap-harap cemas. Saya mengkhawatirkan reaksi dari orang-orang yang membaca profil itu. Hehe… yah begitulah orang introvert kalau tiba-tiba “tampil”.

Reaksi pertama yang saya baca adalah tanggapan rekan-rekan kerja saya di grup WA. Apresiasi mereka membuat saya terharu. They know exactly apa yang sudah saya lakukan dan bagaimana saya di tempat kerja sampai saya berada di posisi itu. Bahkan beberapa komentar dari rekan-rekan kerja saya tentang kedisiplinan yang saya terapkan dimuat juga dalam beritanya. Reaksi berikutnya adalah dari keluarga. Mereka juga mengapresiasi munculnya saya di koran harian lokal itu. Anakku, Yobel (3 thn), bahkan dengan bangganya memperlihatkan koran itu pada saya saat pulang kerja dan berkata, “look…Mama… Mama ada di sini”

Kemudian suami saya memasang potongan koran di atas di halaman facebook-nya. Ohya, foto saya di situ adalah hasil jepretannya dia. Suami saya menuliskan bahwa dia senang hasil jepretannya bisa masuk di koran lokal. Lalu muncullah komentar-komentar dari beberapa orang. Most of them mengomentari tentang badan saya yang gemuk, kelihatannya seperti hamil, prestasi berat badan yang bertambah, dan seterusnya. Dan saat membacanya disitulah saya merasa sedih.

Saya bukannya mengingkari kalau saya memang terlihat lebih gemuk seperti yang dituliskan oleh komentar-komentar itu. Kalau soal berat badan, bukan sekali dua kali ini saya mendapatkan komentar seperti itu. But… kenapa sih harus “main fisik”? Suddenly I’m having an impostor syndrome and say to myself… well maybe I don’t deserve any publication like that. Dan inilah yang berkembang di masyarakat kita. Semacam kalau kamu punya badan gemuk atau kulit berwarna gelap, kamu adalah manusia sial binti terpurukwati. Sama halnya kalau kamu jomblo atau belum nikah atau belum punya anak, kamu layak buat ditertawakan dan di-bullyIt hurts, people…

Saya menuliskan ini bukan hanya sekadar ingin curhat. Tetapi saya menuliskannya sebagai pengingat bagi diri saya sendiri agar saya selalu “memasang kaki di sepatu orang lain sebelum mengomentari pemilik sepatunya”. Karena lidah itu lemah. Dan ucapan yang keluar dari lidah (atau tangan yang mengetikkannya) bisa membuat kepingan hati milik orang menjadi retak. Layaknya kertas, setelah diremas-remas, kerutannya tidak akan bisa hilang.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2017 in entahlah..., lihat..baca..dengar, tentang saya

 

Mengucap Syukurlah Dalam Segala Hal

download

Bersyukur kepada Tuhan..bersyukur kepada Tuhan… Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan

Entah sejak kapan dan bagaimana awal mulanya, setiap kali Yobel melihat tanda salib, dia akan langsung berkata, “Bersyukur kepada Tuhan“. Tidak jarang, dia lanjutkan dengan menyanyikan lagu berjudul sama. Bukan hanya tanda salib, sambungan ubin dan tanda tambah di kalkulator pun baginya terlihat sama. Dia juga akan mengatakan, “Bersyukur kepada Tuhan” saat melihatnya.

Meski sudah diajarkan, bahwa lambang palang itu bernama salib, dia lebih sering mengucapkan kalimat “Bersyukur kepada Tuhan”. Mungkin di dalam kepala kecil-nya sudah tertanam bahwa nama lambang itu adalah “Bersyukur kepada Tuhan“.

Sampai satu kali, dia diajak Bapaknya ke rumah seorang teman yang memproduksi peti mati. Di peti mati itu ada tanda salib. Spontan, Yobel langsung berteriak sambil menunjuk petinya, “Wow…bersyukur kepada Tuhan“.

Oalah, nak… kebayanglah bagaimana kalau anak ini dibawa ke acara pemakaman, dan dia akan melihat tanda salib di peti mati atau nisannya. Bisa-bisa orang akan salah kaprah mendengarnya. Hehe…

Tapi… di satu sisi, Yobel mengajarkan kepada kami bahwa ucapan syukur memang sepantasnya dipanjatkan saat melihat salib itu. Mengucap syukur atas kasihNya, atas pengorbananNya, atas karuniaNya, atas keselamatan dariNya.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2017 in entahlah..., tentang DIA, tentang kita

 

Everybody, Somebody, Anybody and Nobody

fable
This is a story about four people: Everybody, Somebody, Anybody and Nobody.
There was an important job to be done and Everybody was asked to do it.
Everybody was sure that Somebody would do it.
Anybody could have done it, but Nobody did.
Somebody got angry because it was Everybody’s job.
Everybody knew that Anybody could do it,
but Nobody realized that Somebody wouldn’t do it.
And it ended up that Everybody blamed Somebody
because Nobody did what Anybody could have done.

Saya pernah membaca puisi di atas di sebuah ruangan di kantor tempat saya bekerja sebelumnya. Puisi itu sangat membekas di benak saya karena permainan katanya, dan tentu saja isinya. Puisi ini memang mengingatkan tentang pentingnya delegasi dan tanggung jawab dalam sebuah tim. Dan saya baru tahu kalau puisi ini ditulis oleh Charles Osgood.

Saya menemukan versi panjang-nya di sini:

A Poem About Responsibility

There was a most important job that needed to be done,
And no reason not to do it, there was absolutely none.
But in vital matters such as this, the thing you have to ask
Is who exactly will it be who’ll carry out the task?

Anybody could have told you that everybody knew
That this was something somebody would surely have to do.
Nobody was unwilling; anybody had the ability.
But nobody believed that it was their responsibility.

It seemed to be a job that anybody could have done,
If anybody thought he was supposed to be the one.
But since everybody recognised that anybody could,
Everybody took for granted that somebody would.

But nobody told anybody that we are aware of,
That he would be in charge of seeing it was taken care of.
And nobody took it on himself to follow through,
And do what everybody thought that somebody would do.

When what everybody needed so did not get done at all,
Everybody was complaining that somebody dropped the ball.
Anybody then could see it was an awful crying shame,
And everybody looked around for somebody to blame.

Somebody should have done the job
And Everybody should have,
But in the end Nobody did
What Anybody could have.

Charles Osgood
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2016 in entahlah...

 

Cinta Sejati

truelove28429

“Lo pikir di dunia ini yang namanya cinta sejati tuh kayak apa? Yang penghuninya nggak pernah berantem? Yang mulus dan lancar, macam ‘a walk in the park’? Salah, Al! Cinta sejati itu penuh bompel-bompel, growakan, tambal sana-sini, retak sana-sini. But guess what? Ketika dia masih bernyawa, dia akan tambah kuat selepas tiap cobaan yang datang”

(Kismet, hal. 278)

Tulisan di atas adalah adegan favorit dari novel Kismet karya Nina Addison. Kenapa? Selama saya membaca novel bertemakan cinta, baru kali ini seorang penulis menggambarkan sebuah cinta sejati dengan blak-blakan apa adanya. Dan saya bilang “amen” dalam hati untuk tulisan itu.

Cinta sejati harus diuji dan ditempa, baik itu oleh waktu maupun peristiwa. Kalau ada cinta yang mulus-mulus saja, sepertinya cinta itu belum teruji. Cinta sejati terlalu kuat menampung segala retakan, tambalan, growakan, dan bompel-bompel. Saya berharap cinta yang saya miliki akan seperti itu.

Untitled

*tulisan ini disertakan dalam ajang #KismetGoodieBag

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 5, 2015 in lihat..baca..dengar

 

Aku Belajar

Religious-Inspirational-QuotesBeberapa hari ini bisa saya masukkan dalam kelompok hari-hari terberat dalam hidup saya. Pasalnya, saat saya sedang dikejar deadline untuk menyelesaikan tesis biar bisa lulus April besok, ada aja halangannya. Jadi ceritanya untuk tinggal satu jenis data lagi yang perlu saya lengkapi agar penelitian tesis saya dianggap selesai, yaitu data tentang DNA tanaman yang menjadi objek penelitian saya. Karena tanaman yang saya teliti jumlahnya sangat terbatas saya harus mencari metode yang tepat. Pas lagi uji coba metode itu, eh mesin PCR yang ada di lab rusak. Pas saya yang make lagi. Pas baanget apesnya.

Meski saya berusaha sok tegar, tetap saja di dalam kepala saya berkecamuk. Stres pake banget. Semua rencana saya ke depan terancam buyar.

Sampai tadi malam, saat saya mencari beberapa literatur di antara tumpukan buku di dalam lemari, saya menemukan Alkitab saya yang sudah lama terlupakan (salahkan kecanggihan handphone yang bisa memuat program Alkitab di dalamnya). Alkitab saya ini adalah pemberian Papa saya saat saya masuk SMP dulu. Memang sampai sekarang saya masih menyimpan Alkitab itu, karena lembaran-lembarannya penuh warna-warni. Kebiasaan saya dahulu memberi warna pada ayat-ayat yang punya arti tersendiri bagi saya. Saat membuka Alkitab itu, saya menemukan tulisan yang pernah saya tulis dengan pulpen. Tulisannya saja sudah mulai pudar tapi masih bisa terbaca.

Aku belajar…bahwa tidak selamanya hidup ini indah. Kadang Tuhan mengijiinkan aku melalui derita. Tetapi aku tahu bahwa Ia tidak pernah meninggalkanku. Sebab itu aku belajar menikmati hidup ini dengan bersyukur.

Aku belajar… bahwa tidak semua yang aku harapkan akan menjadi kenyataan. Kadang Tuhan membelokkan rencananku. Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik daripada apa yang aku rencanakan. Sebab itu aku belajar menerima semua itu dengan sukacita.

Aku belajar… bahwa pencobaan itu pasti datang dalam hidupku. Aku tidak mungkin berkata, tidak Tuhan! Karena aku tahu bahwa semua itu tidak melampaui kekuatanku. Sebab itu aku balajr menghadapinya dengan sabar.

Aku belajar… bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali. Karena semua rancanganNya indah bagiku. Maka dari itu aku akan bersyukur dan bersukacita dalam segala perkara. Maka sehatlah jiwaku dan segarlah hidupku. Inilah yang kudapat dari setiap perkara Bapaku di surga. 

………

Saya jadi tersadar. God will ensure my success in accordance with His plan, not mine. Saya hanya harus percaya dan berserah. Hal sederhana tapi kadang terlupakan.

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 21, 2015 in tentang DIA, tentang saya

 

Enam Enam

Enam tahun yang lalu, “kita” berarti aku dan kamu.

holding-hands1

Enam bulan yang lalu, “kita” berarti aku, kamu dan dia.

hands

Happy 6th anniversary to our li’l family

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2014 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Tag: ,