RSS

Arsip Kategori: tentang kita

Mengucap Syukurlah Dalam Segala Hal

download

Bersyukur kepada Tuhan..bersyukur kepada Tuhan… Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan

Entah sejak kapan dan bagaimana awal mulanya, setiap kali Yobel melihat tanda salib, dia akan langsung berkata, “Bersyukur kepada Tuhan“. Tidak jarang, dia lanjutkan dengan menyanyikan lagu berjudul sama. Bukan hanya tanda salib, sambungan ubin dan tanda tambah di kalkulator pun baginya terlihat sama. Dia juga akan mengatakan, “Bersyukur kepada Tuhan” saat melihatnya.

Meski sudah diajarkan, bahwa lambang palang itu bernama salib, dia lebih sering mengucapkan kalimat “Bersyukur kepada Tuhan”. Mungkin di dalam kepala kecil-nya sudah tertanam bahwa nama lambang itu adalah “Bersyukur kepada Tuhan“.

Sampai satu kali, dia diajak Bapaknya ke rumah seorang teman yang memproduksi peti mati. Di peti mati itu ada tanda salib. Spontan, Yobel langsung berteriak sambil menunjuk petinya, “Wow…bersyukur kepada Tuhan“.

Oalah, nak… kebayanglah bagaimana kalau anak ini dibawa ke acara pemakaman, dan dia akan melihat tanda salib di peti mati atau nisannya. Bisa-bisa orang akan salah kaprah mendengarnya. Hehe…

Tapiโ€ฆ di satu sisi, Yobel mengajarkan kepada kami bahwa ucapan syukur memang sepantasnya dipanjatkan saat melihat salib itu. Mengucap syukur atas kasihNya, atas pengorbananNya, atas karuniaNya, atas keselamatan dariNya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2017 in entahlah..., tentang DIA, tentang kita

 

Enam Enam

Enam tahun yang lalu, “kita” berarti aku dan kamu.

holding-hands1

Enam bulan yang lalu, “kita” berarti aku, kamu dan dia.

hands

Happy 6th anniversary to our li’l family

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2014 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Tag: ,

Meet Our Son, Yobel Nugraha Panggabean

Dulu, waktu belum hamil, saya berangan-angan akan menuliskan semacam jurnal selama saya hamil. Nyatanya begitu hamil, angan-angan ga jadi kenyataan. Sebenarnya sih malas nulis aja… ๐Ÿ™‚

Padahal ada banyak hal yang bisa diceritakan selama hamil kemarin. Kalau soal ngidam, mual-muntah, itu sudah biasa dan umumnya dialami semua ibu hamil. Salah satu yang spesial adalah karena kehamilan dengan placenta previa totalis yang saya alami. Kondisi spesial ini membuat saya harus ekstra hati-hati menjaga janin di dalam kandungan.

Hingga minggu ke 34 nyaris tidak ada masalah, kecuali gerakan si baby yang sangat aktif. Berhubung kami sudah tahu dia adalah baby boy, kami merasa itu hal yang wajar. Namun, tanggal 11 April dini hari, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Kami berdua panik, dan segera ke IGD di RS. Panti Rapih. Hasil observasi dokter mewajibkan saya untuk bedrest total. Empat hari di RS, semua kegiatan dilakukan di atas tempat tidur. Setelah pendarahan berhenti dan tinggal flek-flek saja, dokter membolehkan untuk pulang ke rumah dengan syarat tetap bedrest (tapi urusan kamar mandi tidak lagi di atas tempat tidur). Jadilah saya hanya tiduran saja sampai bosan.

Pas usia kandungan 36 minggu, pendarahan kembali terjadi. Kali ini dokter tidak membolehkan saya pulang dari RS. Seminggu saya kembali bedrest total. Kedua tangan sampai bengkak gara2 berurusan dengan infus yang sering macet. Dokter baru mau melakukan operasi caesar setelah kandungan berusia 37 minggu.

Sabtu, 3 Mei 2014, usia kandungan 37 minggu, waktu operasi caesar ditentukan jam 12 siang. Jam 11, perawat mulai melakukan persiapan. Mulai dari pasang kateter, sampai ganti infus (lagi). Jam 11.30 saya diantar ke ruang bedah. Jam 12.00 masuk ke dalam ruang operasi. Sampai di ruang operasi, ternyata saya harus menunggu 1 jam lebih, karena dokter kandungan-nya masih ada pasien di poliklinik. Setelah ada konfirmasi bahwa dokter kandungan sudah menuju ke ruanh operasi, barulah dokter anestesi bekerja. Saya mulai dibius spinal, perut kebawah mulai kebas dan mati rasa. Begitu dokter kandungan datang, operasi segera dimulai. Jam 13.47 suara tangisan anak saya (yang kami beri nama Yobel) untuk pertama kalinya terdengar. Kencang banget, sampai rasanya saya ingin langsung memeluknya. Apa daya, saya hanya bisa menitikkan air mata bahagia. Yobel langsung dibawa pergi untuk diobservasi (ditimbang, diukur panjangnya, dicek kelengkapannya), didampingi sama bapaknya. Sementara saya lanjut “dibereskan”.

Yobel saat diobservasi

Yobel saat diobservasi

Ohya, ada yang menarik saat Yobel lahir. Pada saat Yobel diangkat dari dalam kandungan, kata suster di luar lagi hujan deras. Padahal langitnya terang. Dokternya langsung bilang, “anaknya bawa hujan berkat ya, Bu.” Amin…

Operasi beres, saya diantar ke ruang pemulihan. Di sana, saya sampai menggigil sampai badan saya bergetar semua. Saya sampai minta diselimuti 2 lapis. Ada sejam saya menggigil di ruang pemulihan, sampai perawat membolehkan untuk kembali ke kamar. Jam 15.30 saya diantar ke kamar ditemani suami dan mama. Suami pun memperlihatkan video yang dia ambil saat Yobel diobservasi. Waduh… saya nangis lagi pas liat videonya. Apalagi pas Yobel diantar suster masuk ke kamar jam 21.00. Pengen langsung meluk, tapi saya ga bisa gerak dari tempat tidur. Seharusnya malam itu Yobel sudah bisa rawat gabung bersama saya, tapi mama menganjurkan untuk rawat gabungnya mulai besoknya saja. Tunggu saya pulih dulu. Ternyata besoknya, saya harus transfusi darah, karena menurut hasil lab pasca operasi, Hb saya turun sampai 8,6.
Selebihnya proses pemulihan pasca operasi lumayan lancar. Kami diperbolehkan pulang pada hari ke-3. Sukacita saya berlipat-lipat, anak saya lahir dengan selamat, plus saya terbebas dari bedrest total ๐Ÿ™‚

Yobel Nugraha Panggabean

Yobel Nugraha Panggabean

Ohya, soal nama anak kami ada ceritanya sendiri. Nama lengkapnya Yobel Nugraha Panggabean. Nama Yobel itu diberikan oleh opungnya, yang diambil dari nama tahun di Alkitab yang berarti tahun pembebasan/kemenangan. Dari kakeknya (papa saya) tadinya mau dikasih nama Anugerah, tapi saya dan bapaknya Yobel kurang sreg. Saya pun kepikiran nama saya sendiri Nugrainy itu artinya anugerah juga. Saya pun mengusulkan nama Nugraha sebagai nama keduanya. Lagian nama Yobel mirip nama bapaknya, Joel; nama Nugraha mirip sama mamanya dong… ๐Ÿ˜€

So, world… Please welcome our son, Yobel Nugraha Panggabean.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2014 in entahlah..., tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

We Are Three Now

Mungkin beberapa teman sudah tahu kalau saat ini saya sedang hamil. Setelah menanti hampir 5 tahun, si Baby mau-nya “hadir” di Jogja. Kalau kata dokter kandungan dimana saya konsultasi setiap bulannya, si Baby tahu Jogja memang istimewa ๐Ÿ™‚ย Sekarang sudah mencapai usia 16 minggu. Kemarin pas “ngintip” si Baby di ruangan dokter, dia udah punya dua lengan dan dua kaki. Tulangnya tumbuh dengan baik, dan sepertinya ada sesuatu di antara kakinya… ๐Ÿ˜€

Selama 4 bulan kehamilan, yang namanya morning sick tentunya saya alami juga. Perubahan hormon di dalam tubuh menyebabkan asam lambung jadi meningkat. Udahlah saya pada dasarnya punya bawaan maag, naiknya asam lambung ini makin menjadi-jadi. Makanan yang masuk sebagian besar akan keluar lagi. Udah gitu muntahnya pake segenap hati pula, sampai habis isi lambung. Syukurlah saya masih bisa makan. Habis keluar, langsung isi lagi.

Ngidamnya apa ya? Yang pasti masakan mama, trus makanan yang akrab di lidah sedari kecil. Pernah ngidam pengen makan jalangkote (pastel khas dari Sulawesi Selatan) sama bakpao Lompobattang. Akhirnya dikirimin langsung dari Makassar sama mama dan tante. Trus ga suka-nya minum susu sama cium bau nasi. Waktu ditanyain ke dokter soal ga minum susu, dokternya dengan simple jawab ; “Ga usah… ga wajib kan? yang penting banyak makan ya…”

Bawaan si Baby juga agak beda sama keseharian saya. Biasanya saya pengen jalan-jalan, ini jadi pengennya di kamar kost aja. Biasanya rajin baca buku, jadi susah menamatkan satu buku. Biasanya kalau ada tugas langsung dikerjain, ini nunggu deadline dulu… Hehe..

Yang pasti kehamilan ini membawa banyak perubahan dalam hidup saya. Di satu sisi saya begitu gembira, ternyata saya dikasih berkat sama Tuhan menjadi seorang Ibu. Di sisi lain, saya bimbang dan penuh kegalauan. Gimana dengan kuliah saya? Gimana dengan thesis saya? Gimana kalau si Baby harus lahir tidak dengan cara normal alias caesar? Campur aduk deh pikirannya. Kalau udah kayak gini, biasanya ngadu sama Yang Di Atas.

Ah…semoga semuanya baik-baik saja. Mari berucap, all is well ๐Ÿ™‚

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 8, 2013 in tentang kita

 

Chapter 4

Akhir dari bab keempat sudah kita lewati…

365 hari yang tidak mudah bagimu, saya tahu dengan pasti.

Tapi dalam hari-hari itu, kamu tetap menjadi tempatku berpegang.

You complete me… ever.

I love you more and more…

Mari menjalani babak selanjutnya, meskipun (mungkin) hanya ada kita berdua ๐Ÿ™‚

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2012 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Baju Baru di Hari Raya

Masih ingat sewaktu kecil, setiap memasuki bulan Desember ada perasaan deg-degan, harap-harap cemas menantikan baju baru dari orang tua untuk dipakai pas Natalan. Untuk ukuran saya yang jarang dapat baju baru, hal tersebut sangat menyenangkan. Terusan berenda-renda dan berwarna-warni, atau hanya gaun simpel tapi elegan untuk anak kecil. Adik saya bahkan punya syarat khusus untuk baju barunya waktu itu, warna merah dan banyak kantungnya ๐Ÿ™‚ Kalau ditanya buat apa kantungnya banyak? Buat nampung kue natal yang banyak, katanya ๐Ÿ™‚

Tapi kebiasaan itu berhenti kurang-lebih sejak saya SMP. Mungkin karena bukan anak kecil lagi, sehingga mama menganggap bukan lagi umurnya untuk mendapatkan baju baru tiap hari raya. Atau bisa jadi karena kebutuhan keluarga semakin meningkat, sehingga urusan baju baru menjadi hal yang kesekian dalam urutan kebutuhan. Entahlah… sejak saat itu, saya sendiri juga sudah malu kalau minta baju baru ke orang tua. Syukur-syukur kalau ada kerabat yang ngasih.

Setiap natal, saya sendiri tidak mewajibkan diri memiliki baju baru. Toh sejak saya berpenghasilan, saya mampu membeli baju kapanpun saya mau. Tidak ada lagi euphoria berbaju ย baru di hari raya. Yang penting penampilannya rapi, sesuai, dan tidak ketinggalan jaman. Terkadang koleksi baju mama atau saudara jadi incaran. Asyiknya karena kami bersaudara perempuan semua dan umurnya hampir sebaya. Mix and match… we’re ready to go…

Dan kemarin, tiba-tiba mama menelpon pada saat saya sedang istirahat jam kerja. Saya disuruh datang ke toko baju kenalannya. Sesampainya di sana, mama dan kakak saya sudah pilih-pilih baju. Saya pun disuruh memilih. Agak segan juga, soalnya baju baru ga ada dalam budget bulan ini. Setelah memilih 1 pasang pakaian, mama langsung bilang, “sudah.. masuk kerja sana…“. Ternyata, saya dapat baju baru lagi dari mama. Yippie…

Btw, rasanya ternyata sama menyenangkannya sewaktu saya masih kecil. :mrgreen:

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 16, 2011 in tentang kita, tentang saya

 

Tag: ,

Chapter 3

Semalam baru saja kita akhiri babak ketiga dari kehidupan pernikahan kita.

Thanks Godย kita akhirnya bisa menjalani rumah tangga yang sebenarnya. Kamu dan saya, satu waktu, satu tempat, satu masa. Tidak mudah ternyata, apalagi hampir setiap hari kita hanya berdua. Ah.. soal ‘hanya berdua” itu, saya akhirnya belajar menerima rumah tangga kita apa adanya. Ternyata Tuhan masih perlu waktu lebih lama lagi untuk mempercayai kita menjadi orang tua.

Terima kasih karena kamu adalah suami yang sangat pengertian, dimana setiap hari kamu mengambil sebagian peranku sebagai ibu rumah tangga karena pekerjaan yang menyita waktuku.

Terima kasih dengan segala upayamu, mencari penghasilan untuk keluarga kecil kita (dan masih sempat mengantar dan menjemputku dari tempat kerja)

Terima kasih atas semua perabotan baru yang mengisi rumah kita (walaupun kita harus bertengkar dulu tentang penting tidaknya barang itu) :mrgreen:

Hari ini kita buka babak keempat dalam rumah tangga kita. Mudah-mudahan ada gambar bayi di halaman berikutnya ya ๐Ÿ™‚

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2011 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Tag: , ,