gubuk cerita

Terima kasih, suamiku

thanks

Sesekali, (atau bisa saja setiap kali), seorang istri perlu mengucapkan kalimat itu untuk suaminya.

Kemarin malam, seperti biasanya, sebelum tidur saya menelpon suami yang (karena tuntutan pekerjaannya) tinggal di kota lain. Tapi yang tidak seperti biasanya, dia mendominasi percakapan dengan menceritakan harinya yang melelahkan. Selama hampir 30 menit dia bercerita tentang bos-nya, tugas-tugasnya, dan kesulitan yang dia hadapi. Sesekali saya berusaha menanggapi, walaupun pengetahuan saya soal pekerjaannya sangat minim.

Setelah telepon ditutup, saya berusaha mencerna curhatan suami. Sebenarnya bukan sekali ini dia bercerita (baca: curhat) soal pekerjaannya. Biasanya saya akan menanggapinya dengan kalimat, “Kalau kamu ga betah, keluar saja. Tapi ya…setiap pekerjaan pasti ada kesulitannya. Contohnya saya, tadi di kantor….bla…bla…bla…” (dan subjeknya pun beralih dari dia ke saya).

Dalam pemikiranku,  sebagai kepala rumah tangga sudah menjadi “kewajiban” bagi seorang suami untuk bekerja menghidupi keluarganya. Kalaupun seorang istri (harus) bekerja, itu hanya sebagai additional. Tambahan.  Saya sempat melupakan bahwa selain sebagai kewajiban, adalah suatu “kehormatan” bagi seorang kepala rumah tangga jika dia mampu mencari nafkah buat keluarganya.

Dan apakah saya pernah mengucapkan terima kasih padanya, ketika dia masih mampu (dan mau) melakukan “kehormatannya” itu (yang tentu saja akan berdampak pada kelangsungan hidupku juga)?

Belum.

Padahal di luar sana, ada kepala keluarga yang entah karena ketidak mampuannya atau ketidak mauannya, tidak dapat memberi nafkah bagi keluarganya.

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan seorang istri sebagai wujud terima kasih. Hal yang paling sederhana misalnya menyambut suami pulang kerja dengan senyuman, menyiapkan air hangat untuk mandinya, dan menyediakan makanan untuknya,.  Tetapi karena masalah jarak, saya (bahkan) belum pernah melakukan hal yang paling sederhana itu.

Saya lalu mengambil kembali telepon genggam, dan menuliskan pesan singkat kepada suami :

“maaf (kalau)  aku belum pernah bilang, terima kasih atas kerja kerasmu mencari nafkah buat keluarga kecil kita. Aku bersyukur pada Dia karena kamu masih dimampukan untuk itu. Love you, hon. ”

Pesan terkirim. Dan hatiku belum pernah selega ini.

 

November 19, 2009 Ditulis oleh desty | Ngerumpi, tentang kita | | & Komentar