RSS

Arsip Tag: mahasiswa

Melihat Lewat Jendela

Kubikel ruang kerja saya letaknya tepat di sebelah jendela yang mengarah ke halaman parkir kampus. Terkadang kalau kerjaan lagi menumpuk dan otak sedang hang, atau kalau ada ribut-ribut di halaman, mata saya otomatis memandang keluar jendela. Dan pemandangan yang paling sering saya jumpai adalah beberapa mahasiswa yang sedak duduk-duduk di depan kelas sambil ngobrol (tidak jarang mereka bersuara sangat keras).

Saya seringkali penasaran apa yang mereka bicarakan dengan semangat seperti itu, padahal saya yakin di dalam kelas mereka tidak seantusias itu menerima materi perkuliahan. Tentu saja saya tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Entahlah. Yang pasti mereka sepertinya punya banyak waktu untuk santai seperti itu. Sebagai seorang dosen, tentu saja saya lantas berpikir “ah seandainya saja mereka memanfaatkan waktu itu untuk membaca di perpustakaan, pasti lebih banyak manfaatnya“.

Tapi kemudian saya bertanya, dulu saat saya menjadi mahasiswa apakah yang saya lakukan di sela waktu luang di kampus? Hm… memori saya hanya mampu mengingat beberapa dari semua yang terjadi sebelas hingga enam tahun yang lalu ( iya… saya setua itu) 🙂

Dulu, kalau ada waktu luang di kampus, saya dan teman-teman dekat punya spot khusus untuk tempat nongkrong. Ada di bawah pohon matoa, di sudut teras kantor akademik, di bangku kopma di bawah jendela laboratorium, di sudut perpustakaan atau di kantin. Waktu luang di kampus dulu rasanya sangat sedikit. Kalau tidak sedang menunggu kuliah berikutnya, ya menunggu jadwal praktikum. Sebagai mahasiswa biologi yang jadwal rutinnya PKK (Praktikum – Kuliah – Kost) waktu-waktu luang itu dimanfaatkan untuk mengerjakan laporan, menghapal materi kuliah, mencari bahan laporan, menyalin tugas dari teman, diskusi dengan senior, atau berhadapan dengan asisten praktikum (karena laporan kemarin harus diperbaiki). Sehingga kalau ada teman yang terlihat santai pasti kesimpulannya hanya dua, “dia sih emang pintar banget” atau “paling dia malas lagi“. Study-oriented? Boleh dikatakan begitu. Rasanya malu sedunia kalau inhal praktikum gara-gara ga lulus pretest. Atau kalau masuk kelas yang isinya adik angkatan semua.

Tapi saya tidak pernah merasa menyesal dengan masa-masa kuliah PKK begitu. Ternyata dengan begitupun kami masih punya banyak memori. Dan kalau melihat lewat jendela seperti yang saya lakukan saat ini, rasanya saya ingin punya mesin waktu kembali ke masa itu. Bagaimana dengan mahasiswa sekarang di almamater saya itu? Melihat perkembangannya di grup situs pertemanan, rasanya saya makin pengen kembali menjadi mahasiswa.

Kembali kepada apa yang terjadi di luar jendela kubikel ruang kerja saya.  Hampir setiap hari saya mendengarkan keluhan dari mahasiswa. “Tugas banyak sekali” atau “Laporan praktikum menumpuk“, tapi mereka masih bisa duduk santai, demonstrasi sana sini, jalan-jalan entah kemana (ini saya tahunya dari halaman facebook mereka yang penuh status entah ngapain dimana). Mengapa mahasiswa di sini sepertinya terlihat santai saja? Apa yang salah?

Seorang teman pernah berkata, tidak semua mahasiswa datang ke kampus untuk menuntut ilmu. Kadang mereka hanya mencari status dan jati diri mereka. Kadang mereka hanya mengisi waktu luang. Kadang juga hanya untuk mencari teman. Hanya bagi saya, rasanya sayang sekali mengeluarkan uang sedemikian banyaknya tapi tidak memanfaatkan sebagaimana tujuannya.

Mahasiswa adalah manusia dewasa. Seorang yang dewasa sudah sepantasnya bijaksana dalam menjalani setiap tapak kehidupannya. Karena dewasa bukan diukur dari banyaknya umur seseorang, tapi bagaimana dia menyikapi suatu kondisi.

Suara mahasiswa di luar jendela kubikel ruang kerja saya kembali menyadarkan saya. Saya merindukan masa-masa menjadi mahasiswa dengan segala rutinitasnya. Saya telah membuat pilihan di masa lampau, dan sekarang saya menikmati hasilnya. Mahasiswa-mahasiswa itupun punya pilihan dalam mengisi hari-hari kuliahnya. Semoga saja nanti mereka merindukan masa-masa kuliahnya dengan pilihan mereka sendiri.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 9, 2011 in entahlah...

 

Tag: , ,

Finish the Race

Adik – adikku mahasiswa baru Biologi UNCP,

Izinkanlah saya menceritakan satu kisah untuk kalian. Kisah nyata ini adalah tentang seorang pelari maraton. Saat itu seluruh pemenang perlombaan telah ditentukan, juara 1, 2, dan 3 dari lari marathon itu sudah jelas, dan tidak mungkin berubah lagi. Saat itu pun para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku stadion yang sudah mulai kosong. Akan tetapi tak berapa lama, penonton yang belum pulang itu dikejutkan dengan adanya pengumuman bahwa akan ada pelari yang akan masuk stadion. Penonton kaget, mereka kira sudah selesai perlombaan, tetapi mereka melihat dengan jelas saat seorang pelari memasuki ke stadion dengan terpincang-pincang. Masih lengkap dengan pakaian larinya serta nomor di dadanya, dia masuk ke stadion dan berlari kecil-kecil sambil terpincang dengan balutan luka di kaki kanannya.

Serentak, seluruh penonton berdiri dan bertepuk tangan. Stadion kembali bergemuruh dengan standing ovation. Mereka menyemangati pelari ini untuk terus berlari hingga finish. Suara dukungan disampaikan kepadanya. Dan ini membuat pelari itu terus bersemangat hingga kemudian dia menyentuh garis finish. Dia berhasil sampai pada garis finish, di saat tidak pelari lain lagi. Dia adalah pelari terakhir dalam perlombaan itu. Dia datang saat hari telah malam. Dia adalah John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania, yang mengikuti lomba lari maraton di Olimpiade Mexico 1986. Ketika ditanya, mengapa dia terus berlari padahal dia sudah pasti bukanlah pemenang dia menjawab,

“My country didn’t sent me 5000 miles to start the finish, but they sent me 5000 miles to finish the race.” 

Adik-adikku mahasiswa baru Biologi UNCP,

Saat ini kalian adalah pelari-pelari maraton. Kalian berasal dari sekolah, kampung, dan latar belakang yang berbeda. Lintasan lari kalian adalah (kurang lebih) empat tahun pendidikan di Program Studi Biologi UNCP. Kalian baru saja meninggalkan garis start dan memulai perlombaan kalian. Garis finish belum terlihat, dan pastinya ada banyak rintangan di sepanjang lintasan tersebut. Perjuangan kalian masih panjang. Bisa jadi, kalian akan tergoda untuk berhenti di tengah lintasan karena lelah, tidak ada biaya, jenuh dan sebagainya. Tetapi kalian masih punya satu pilihan.  Saya ingin kalian memilih untuk menjadi Akhwari-akhwari baru, yang bukan hanya memulai perlombaan, tapi juga mengakhirinya dengan baik. Hingga saatnya nanti, kalian akan menjadi seorang sarjana biologi yang membanggakan.

Adik-adikku mahasiswa baru UNCP,

Selamat datang, selamat berlari, dan teruslah berjuang.  Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Be Excellent!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 11, 2011 in tentang mereka

 

Tag: , ,