RSS

Arsip Tag: karir

Resah

Sarjana yang pengangguran memang selalu meresahkan masyarakat. Dan saat ini, saya masih dianggap sebagai bagian yang meresahkan itu.  Walaupun sebenarnya saya bekerja secara freelance atau honorer, ternyata sebagian besar masih berpendapat itu sama saja dengan pengangguran, alias tidak punya kerjaan (tetap).

Dan sebagai bagian dari masyarakat, orang tua saya termasuk yang ikut resah. Meskipun tidak terlalu ditampakkan. Mereka sibuk mencarikan pekerjaan, yang terkadang sedikit dipaksakan asal kerja. Wajar saja, karena mereka berpendapat sayang (baca: rugi banget) sudah menyekolahkan anak sampai sarjana, sampai banting tulang mencari biaya sekolah, eh si anak malah tidak punya pekerjaan.

Sebagai seorang istri, sebenarnya sangat besar niat saya untuk mengikuti kemanapun suami saya ditempatkan. Tidak bekerja (tetap) pun tidak mengapa.  Tapi sebagai seorang anak, saya merasa memiliki kewajiban untuk menyenangkan kedua orang tua saya dengan bekerja untuk memanfaatkan gelar sarjana saya itu.

Bukan hanya orang tua saya yang resah. Beberapa kerabat (teman orang tua) juga resah melihat saya hanya bekerja secara freelance. Bukan saya tidak berusaha mencari pekerjaan, hanya saja lowongannya tidak ada. Kalaupun ada, syaratnya tidak bisa saya penuhi.

Misalnya, kemarin ada lowongan CPNS menjadi guru Biologi. Berhubung saya bukan sarjana kependidikan, jika ingin melamar harus menyertakan Akta IV bersama dengan ijazah sarjana yang saya peroleh. Entah mengapa pemerintah masih mengeluarkan syarat seperti itu, sementara Akta IV itu sendiri sudah dihapuskan. Saya yang tidak (sempat) memiliki Akta IV tentu saja tidak bisa memasukkan lamaran CPNS. Seorang kerabat yang mendengar bahwa saya tidak memasukkan lamaran, menganjurkan untuk membeli sertifikat Akta IV yang katanya dikeluarkan oleh lembaga perguruan tinggi ternama seharga sekian juta rupiah. “Itu kan hanya syarat saja, tidak ada yang bakal periksa kok. Lagipula sertifikatnya bukan tahun sekarang jadi ga akan ketahuan”, tambah si kerabat ini.

*Sigh*. Sekarang giliran saya yang resah.

Bukannya saya menyombongkan diri, tapi saya lebih memilih tidak mempunyai pekerjaan, daripada mendapatkan pekerjaan dengan cara yang tidak benar. Cara seperti itu sangat bertentangan dengan hati nurani saya. Mungkin di awal tidak akan ketahuan, tapi siapa juga yang tahu apa yang akan terjadi berikutnya? Siapa yang mau sepanjang hidup diliputi kegelisahan? Jujur saja, saya termasuk di antara mereka yang ngiler dengan penghasilan guru saat ini yang kabarnya semakin membaik. Tapi dengan cara itu, maaf. Tidak. Terima kasih.

Lagipula saya tidak benar-benar pengangguran kok. Saya masih punya penghasilan, walaupun sedikit dan diterima hanya sekali dalam beberapa bulan tergantung kontrak kerjanya. Ilmu yang saya peroleh lewat gelar sarjana itu masih bisa saya aplikasikan, dan bukan tidak terpakai begitu saja. Tinggal bagaimana meyakinkan orangtua bahwa freelance itu juga bekerja.

Pernah suatu waktu, saya bersama orang tua bertemu dengan saudara yang sudah lama tidak berjumpa. Saudara ini bertanya, “Jadi, Desty sudah bekerja ya?”. Baru saja saya ingin menjawab, tiba-tiba orang tua saya berkata sambil tersenyum malu, “Ah.. belum. Ini juga masih nyari pekerjaan.”  Dan saya pun ikut tersenyum.

 
17 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 29, 2010 in tentang mereka, tentang saya

 

Tag: , ,

Hari ini saya menjadi dosen

keep dreaming

Waktu masih di taman kanak-kanak, saya punya cita-cita mau jadi guru. Soalnya ibu guru punya banyak mainan. Ibu guru juga yang menentukan kapan waktunya menyanyi, kapan bermain, dan kapan memakan bekal yang dibawa dari rumah. Dan ohya, kalau ada yang nakal, ibu guru boleh memarahi 😀

Begitu menginjak bangku SD, cita-cita menajdi ibu guru pupus. Ternyata menjadi ibu guru banyak tugasnya. Sepanjang hari berdiri di depan kelas, berbicara mejelaskan pelajaran. Wah..harus banyak menghafal ternyata. Cita-cita saya hilang. Lebih jelasnya saya tidak punya cita-cita selain “menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa” (setidaknya itu yang saya tuliskan di halaman biodata pada buku-buku berhalaman cantik milik teman-teman, tepat dibawah isian minuman favorit).

Cita-cita abstrak itu bertahan sampai SMA. Di SMA, saya jatuh cinta pada pelajaran biologi. Terbersit dalam pikiran saya akan menjadi seorang ahli biologi. Nanti saya akan menemukan sesuatu, entah itu teori atau spesies baru. Kecintaan saya pada biologi membawa saya ke Jogjakarta untuk masuk di Fakultas Biologi, UGM.

Di sela-sela kuliah, saya yang tidak aktif di kegiatan mahasiswa, memilih menjadi asisten dosen di laboratorium. Kegiatan menjadi asisten itu, mendekatkan saya apda seorang dosen, yang akhirnya menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Mata kuliah Kultur Jaringan Tumbuhan dan Orchidologi menjadi pilihan saya untuk tugas akhir. Skripsi saya selesaikan dengan baik, bahkan dosen saya menyarankan saya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang Master. “Kamu berbakat jadi dosen, Des”, kata beliau saat itu. Saya hanya tersenyum dan mengatakan saya ingin bekerja terlebih dahulu sebelum kuliah lagi. Mungkin suatu saat, jika kesempatan itu masih ada, saya akan menjadi dosen.

Gelar sarjana sains jurusan biologi dan kemampuan di bidang kultur jaringan membawa saya ke Bogor. Di sana, cita-cita saya terpenuhi. Menjadi seorang peneliti di bidang kultur jaringan tumbuhan. Walaupun hanya empat tahun, saya bahagia sudah menggapai cita-cita itu.

Perjalanan hidup membawa saya kembali ke kota kelahiran saya. Sebuah tawaran menjadi dosen biologi dengan status honorer di salah satu universitas swasta di kota ini, datang dengan mudahnya. Walaupun sempat khawatir karena mata kuliah yang akan saya ajarkan tidak saya kuasai dengan baik, tapi akhirnya hari ini datang juga. Hari ini, di depan sekitar tiga puluh mahasiswa semester 3, saya menggapai kesempatan itu. Hari ini saya menjadi dosen.

Kita tidak pernah tahu kemana jalan hidup kita. Tetaplah bermimpi. Tetaplah bercita-cita.

Palopo, 3 Oktober 2009

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 4, 2009 in tentang saya

 

Tag: ,

Ini bukan gosip

leaving

Seorang rekan kerja menghampiri saya yang sedang mengamati tanaman kultur.

Mbak..anu…saya dengar gosip dari kantor pusat, katanya mbak Desty mau keluar ya?

Saya tersenyum. ” Bukan gosip kok, bu. Saya memang mengundurkan diri.” .

Sejak saya mengajukan surat pengunduran diri seminggu yang lalu,ternyata saya menjadi bahan perbincangan di kantor. Sampai beredar gosip (meminjam istilah ibu tadi) dari mulut ke mulut. Mungkin surat pengunduran diri yang saya masukkan sudah didisposisikan kepada yang terkait, sehingga kabar itu bisa beredar dengan luas. Reaksinya bermacam-macam, tapi awalnya reaksinya semua sama, terkejut. Lalu dilanjutkan dengan menanyakan alasan kenapa saya mengundurkan diri. Hampir setiap hari saya menjelaskan alasan saya kepada orang yang berbeda.

Lalu, kenapa saya mengundurkan diri?

Berkumpul bersama suami. Tidak ada yang lebih lagi saya harapkan selain hal tersebut. Sudah 8 bulan sejak kami menikah, hanya 3 kali saya berkumpul bersamanya. Kalaupun ditotal hanya 1 bulan saja. Terkadang saya mengatakan, saya sudah menikah, tapi belum berumah tangga. Dengan berbekal pemikiran bagaimana mendapatkan sejumlah uang untuk membiayai kehidupan kami, kami hidup terpisah. Saya di Bogor, dia di Papua. Sejauh ini hasilnya lumayan. Karir kami berdua menanjak, penghasilan lancar, dan terisilah pundi-pundi tabungan kami. Hanya saja, kami harus mengesampingkan perasaan kami.

Selanjutnya bagaimana? Tentu kami tidak pernah berharap kami berdua akan hidup terpisah selamanya. Kalau uang yang kami kumpulkan sudah cukup, kami akan memulai untuk “hidup bersama”. Tapi kenyataannya bagaimanakah standar cukup itu? Berapa rupiah yang harus kami kumpulkan sampai akhirnya kami berkata, “okey… sudah cukup”? Tidak ada standar. Semua orang tahu, tidak pernah ada kata cukup untuk uang. Hingga akhirnya, kami menyadari. Apa sih tujuan kami untuk hidup berkeluarga? Kalau kami masing-masing mengejar karir dan uang, untuk apa menikah? Sebenarnya sudah banyak nasihat yang kami terima soal kehidupan berumah tangga sesuai agama yang kami yakini berdua. Tapi ego bahwa kami baik-baik saja masih terlalu tinggi untuk menyimpan nasihat itu dalam hati. Tidak satupun dari kami mau mengalah, karena sebenarnya kami berdua sadar bahwa di tempat kami masing-masing berada saat ini, di situlah zona kenyamanan kami dalam berkarir.

Suatu waktu, entah kapan mulainya,pemikiran kami berangsur-angsur mulai berubah. Kami mulai melihat kembali dasar iman kehidupan berumah tangga. Prosesnya tidak gampang. Penuh argumentasi, kekesalan, marah. Akhirnya kami mengalah satu sama lain. Kami mau berkorban satu sama lain. Kami sepakat (dan tentunya setelah membawa pergumulan ini dalam doa kepada Tuhan) untuk pindah dari zona kenyamananku dan kenyamanannya, beralih ke zona yang kami yakini penuh berkat bagi kami berdua.

Saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku. Rekan-rekan kerjaku banyak yang menyayangkan keputusanku. Dia pun akan mengakhiri pekerjaannya dengan segera, dan memulai hidup baru bersamaku, seadanya tapi damai sejahtera. Kami akan pindah ke kota kelahiranku, kota kecil yang sedang berkembang. Kota yang membutuhkan tenaga-tenaga muda seperti kami untuk berkarya di sana. Walaupun mungkin nantinya penghasilan kami akan berkurang setengahnya, tapi kami bisa bersama lagi di bawah satu atap.

Ah…apakah yang lebih menyenangkan daripada berkumpul bersama keluarga menikmati limpahan berkat dari Tuhan? Karena hidup kami bukan hanya untuk kami saja, tetapi hidup kami adalah untuk kemuliaan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati jalan yang telah kami tempuh ini.

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 22, 2009 in tentang kita

 

Tag: ,

Buku wajib sebelum ke Belanda

Belanda?

Uh..that’s my big dream.. Bukan sekedar jalan-jalan, tapi juga melanjutkan sekolah ke Belanda.  Apalagi salah satu senior di kantor yang ngambil S3 ke Belanda, sering ngasih masukan tentang bagaimana bagusnya pendidikan khususnya masalah pertanian di Wageningen University, Belanda. Tapi..beliau hanya menceritakan yang enak-enaknya saja. Sepertinya yang ga enaknya sengaja disimpan, supaya aku termotivasi melanjutkan S2 di Belanda.

Suatu hari,  suamiku lagi buka halaman fesbuknya dan berkomentar,

” Oh, ternyata benar Rizki temanku yang nulis Negeri van Oranje”.

“Buku apaan, bang? Tentang Belanda ya? Isinya tentang apa?”, tebakku asal aja.

“Ga tahu.  Belum baca juga.”, jawabnya

Ya iyalah..dia kan paling malas baca buku. Akhirnya karena penasaran tentang buku-berbau-Belanda, saya mulai searching dan menemukan markas dari buku itu. Baca-baca sekilas, akhirnya memutuskan untuk mencari novelnya di toko buku terdekat.

Anyway…komentar saya setelah membaca bukunya adalah :ini dia buku yang saya cari-cari”. Walaupun digolongkan dalam genre novel/fiksi, tapi bagi saya buku ini lebih mirip kumpulan tips & trick bagaimana bisa bertahan hidup selama sekolah di Belanda. Berbeda dengan cerita senior saya, di dalam buku ini semua diulas, dari enaknya (dapat teman baru, fasilitas kuliah yang lengkap sampai jalan-jalan keliling Eropa)  juga tidak enaknya (gimana menambah uang saku dengan kerja sambilan sampai tips menghadapi dosen pembimbing yang killer). Wajar aja kalo mbak Trinity merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh para traveller.  Saya kebagian membeli buku cetakan pertama, dan kabarnya di cetakan kedua akan dilengkapi dengan peta Belanda.

Novel yang disusun dari hasil campur-aduk empat kepala penulis (Wahyuningrat, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana, dan Adept Widiarsa) lebih meyerupai biografi dari ke-empat penulisnya. Ada lima tokoh didalamnya yaitu Lintang, Wicak, Daus, Banjar (yang masing-masing mewakili penulisnya, entah siapa-ke-yang-mana), ditambah (ini pendapat pribadi lho) satu tokoh fiktif,  Geri. Kenapa saya bilang fiktif?  Karena satu-satunya karakter yang “kurang hidup” adalah Geri. Sosok Geri yang diceritakan “nyaris” sempurna sepertinya malah terlihat sebagai khayalan. Atau karena mungkin porsi Geri bercerita di dalam novel itu hanya sedikit. Sementara tokoh lainnya seperti Lintang, Wicak, Daus, dan Banjar masing-masing mendapatkan porsi bercerita yang seimbang.

Novel yang cukup detail ini membuat pembacanya serasa berada di negeri empat musim itu. Kalau yang sudah pernah ke sana, membaca buku ini membawa kenangan tersendiri seperti de javu. Sementara yang belum pernah kesana (seperti saya), buku ini menjadi pemompa semangat supaya bisa menginjakkan kaki di sana. So, yang mau ke Belanda, wajib baca buku ini.

@ Jojo : Kamu juga harus baca lho…biar kalo mimpiku terwujud, kamu ga kesulitan hidup di sana..haha. Pst..bulan madu (lagi) ke Belanda aja yuk…

Gambar diambil dari sini

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada April 21, 2009 in lihat..baca..dengar

 

Tag: , ,

Sibuk-sibuk akhir bulan

Akhir bulan Maret ini, ada sibuk-sibuk di lab tempat saya bekerja. Pertama, sibuk persiapan vacation vocation ke pantai. Rencananya sih buat ngambil pasir laut untuk bahan penelitian. Tapi, kejadiannya malah berjudul liburan ke pantai. Yup…kami bertamasya ke Pelabuhan Ratu. Perginya sehari sebelum tanggal merah, dengan alasan besoknya bisa istirahat dulu sebelum masuk kerja (kan capek habis liburan…deuh…).

Acara liburannya sukses. Ngambil pasir iya, main di pantai iya. Plus ke permandian air panas di Cisolok (enaknya punya bos yang senang jalan-jalan kayak gini nih). Tapi…ternyata pada hari yang sama, di kantor pusat ada sosialisasi pengisian SPT Tahunan dari kantor pajak.

Alhasil, begitu masuk kerja pagi ini, semua kelabakan saat disodorkan lembaran SPT tahunan. Tidak tahu cara mengisinya. Padahal lewat dari 31 Maret menyetorkan ke kantor pajak bisa didenda seratus ribu rupiah. Berhubung kenaikan gaji dari kantor jauh kurang dari seratus ribu, semua pada ga rela dikenain pajak. Muncullah kesibukan baru. Sibuk mengisi SPT Tahunan…hehe.

Saya sih tenang-tenang saja. Di lembaran yang saya terima dari kantor, saya hanya perlu mengisi data pribadi, dan jumlah harta kekayaan di akhir tahun 2008 (jumlah utang sih ga diisi…belum pernah kredit apa-apa).  Berhubung belum punya rumah, kendaraan pribadi, deposito (apalagi ini), saya hanya mencantumkan isi tabungan per tanggal 31 Desember 2008.  Itupun direka-reka, soalnya udah lama tidak nge-print buku tabungan.

Berbeda dengan saya, para lelaki di lab sibuk berdiskusi tentang isian SPT. Apalagi yang sudah berkeluarga, harus mencantumkan penghasilan istri, daftar kekayaan, dan sebagainya.  Karena bingung, akhirnya si bos mengumpulkan semua karyawan di aula dan diberi penjelasan mengenai cara mengisi SPT. Sementara mereka mendengarkan penjelasan, saya malah asyik nge-blog. Hehe…

Hm…btw, suamiku sudah mengisi SPT Tahunannya ga ya?

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 27, 2009 in tentang mereka

 

Tag: ,

Ada kuasa dibalik ucapan syukur

Mengucap syukurlah dalam segala hal.

Kalimat di atas adalah salah satu pengajaran Kristiani yang selalu saya dengarkan di beberapa kesempatan beribadah. Kalimat tersebut juga sudah seringkali saya terapkan dalam kehidupan. Tapi selama ini saya berpikir bahwa mengucap syukur itu semacam tindakan terakhir. Maksud saya begini, sesuatu terjadi, kita mengucap syukur, selesai. Finish. Sudah. Kalaupun ada hal yang terjadi, itu adalah persoalan kehidupan yang baru.

Read the rest of this entry »

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2009 in tentang DIA

 

Tag: ,

Curhat senin pagi

Pagi ini, hari pertama dalam minggu ini untuk kembali bekerja. Sayangnya cuaca sangat tidak mendukung. Hujan deras yang disertai angin membuat pilihan untuk tetap berada di bawah selimut lebih memungkinkan diambil. Tapi mengingat hari ini sudah ada setumpuk janji untuk menyelesaikan pekerjaan, pilihan itu disingkirkan jauh-jauh.

Berbekal sebuah payung, aku berjalan kaki ke tempat kerja.  Walaupun jaraknya hanya 10 menit perjalanan, tapi kencangnya angin yang membawa titik-titik air hujan cukup membuat celana panjangku menjadi basah. Beberapa kali aku bersinggungan dengan pejalan kaki lainnya yang juga tergesa-gesa, entah karena hujan atau karena takut terlambat masuk kerja, dan membuat payung kami bersentuhan dan memercikkan air ke baju atau tas.  Belum lagi jika ada mobil yang melintas dengan cepatnya menerjang genangan air dan membuat cipratan ke arah pejalan kaki sepertiku. ” Hm..platnya dengan diawali huruf B. Mungkin mereka juga terburu-buru untuk masuk bekerja pagi ini..”

Sampai di kantor, saat aku mengeluarkan laptop dan perangkatnya dari dalam tas, handphoneku bergetar. Ada sms masuk. Aku sudah menduga, pasti sms dari teknisi yang mengabarkan terlambat atau tidak masuk hari ini. Benar saja, kali ini isi sms dari suaminya yang mengabarkan bahwa si istri tidak masuk karena ada keperluan. Tidak dijelaskan keperluan apa, walaupun aku sudah bertanya apakah si istri sakit.

Aku memulai bekerja hari ini dengan membuat label untuk tanaman-tanaman nanti. 90561, 90562, 90563, 90564, 90565…..satu persatu aku mengetikkan angka-angka itu di laptopku. Tapi pikiranku melayang ke sms tadi.

Aku hanya bisa menduga-duga lagi kenapa dia tidak masuk, mungkinkah karena hujan deras pagi ini? Mengapa harus suaminya yang mengirimkan sms, kenapa bukan dia? Apakah karena ini sudah kali kesekian sms serupa darinya mampir ke handphoneku? Entahlah…

Terkadang aku berpikir, kedekatanku dengan para bawahan disalah-artikan oleh mereka. Tidak jarang mereka memanfaatkan kedekatan itu untuk hal-hal seperti meminta izin pulang cepat, datang terlambat, ataupun tidak masuk  dengan alasan yang tidak jelas. Aku sudah pernah menegur dengan halus, tapi mereka hanya tertawa dan berkata, “ngapain sih harus rajin..toh ga ada rewardnya juga dari kantor. Kalo telat katanya potong gaji, tapi ga juga tuh…kalau dulu mah enak..bonus lancar, karyawan juga rajin kerjanya..

Kondisi keuangan kantor memang belum bisa dikatakan membaik. Sudah beberapa tahun tidak ada surplus sehingga pihak manajemen memutuskan untuk menunda pemberian bonus, demi kelancaran gaji bulanan dan THR setiap tahunnya. Kebanyakan karyawan menganggap tidak baiknya keuangan kantor adalah tanggung jawab manajemen. Keadaan ini yang tidak dimengerti oleh mereka, dan menganggap apa yang mereka lakukan saat ini sebagai kompensasi atas tindakan para atasan terhadap mereka. Akibatnya mereka berpikir atasan harus memahami sepenuhnya kurangnya kinerja mereka.

Untuk saat ini, karyawan di posisi “tengah” sepertiku hanya bisa memahami kondisi pihak atas maupun yang bawah. Hujan masih deras di luar sana…dan aku harus kembali bekerja. Sampai di mana tadi angkanya? Oh…90566, 90567, 90568….jari-jariku kembali mengetikkan angka-angka itu. Semoga hari ini bisa memberikan yang terbaik. Dan hari besok lebih baik dari hari ini.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 2, 2009 in tentang mereka

 

Tag: