RSS

Arsip Tag: cinta

unfinished draft

Pagi ini, atas permintaan Jojo (suamiku) saya mengutak-atik blognya yang sudah hampir berkarat karena tidak disentuh. Dia ingin menggunakan blognya untuk menampung tulisan-tulisan #fiksimini-nya dari twitter. Jadinya postingan lama dihapus, dan mengganti theme serta segala kelengkapannya.

Postingannya tidak banyak. Hanya ada 2 buah. Itupun satu diantaranya masih dalam bentuk draft. Ketika saya mau menghapus draft itu, iseng saya membacanya. Dan inilah draftnya itu. Read the rest of this entry »

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2010 in lihat..baca..dengar, tentang kita, tentang saya

 

Tag: ,

Terima kasih, suamiku

thanks

Sesekali, (atau bisa saja setiap kali), seorang istri perlu mengucapkan kalimat itu untuk suaminya.

Kemarin malam, seperti biasanya, sebelum tidur saya menelpon suami yang (karena tuntutan pekerjaannya) tinggal di kota lain. Tapi yang tidak seperti biasanya, dia mendominasi percakapan dengan menceritakan harinya yang melelahkan. Selama hampir 30 menit dia bercerita tentang bos-nya, tugas-tugasnya, dan kesulitan yang dia hadapi. Sesekali saya berusaha menanggapi, walaupun pengetahuan saya soal pekerjaannya sangat minim.

Setelah telepon ditutup, saya berusaha mencerna curhatan suami. Sebenarnya bukan sekali ini dia bercerita (baca: curhat) soal pekerjaannya. Biasanya saya akan menanggapinya dengan kalimat, “Kalau kamu ga betah, keluar saja. Tapi ya…setiap pekerjaan pasti ada kesulitannya. Contohnya saya, tadi di kantor….bla…bla…bla…” (dan subjeknya pun beralih dari dia ke saya).

Dalam pemikiranku,  sebagai kepala rumah tangga sudah menjadi “kewajiban” bagi seorang suami untuk bekerja menghidupi keluarganya. Kalaupun seorang istri (harus) bekerja, itu hanya sebagai additional. Tambahan.  Saya sempat melupakan bahwa selain sebagai kewajiban, adalah suatu “kehormatan” bagi seorang kepala rumah tangga jika dia mampu mencari nafkah buat keluarganya.

Dan apakah saya pernah mengucapkan terima kasih padanya, ketika dia masih mampu (dan mau) melakukan “kehormatannya” itu (yang tentu saja akan berdampak pada kelangsungan hidupku juga)?

Belum.

Padahal di luar sana, ada kepala keluarga yang entah karena ketidak mampuannya atau ketidak mauannya, tidak dapat memberi nafkah bagi keluarganya.

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan seorang istri sebagai wujud terima kasih. Hal yang paling sederhana misalnya menyambut suami pulang kerja dengan senyuman, menyiapkan air hangat untuk mandinya, dan menyediakan makanan untuknya,.  Tetapi karena masalah jarak, saya (bahkan) belum pernah melakukan hal yang paling sederhana itu.

Saya lalu mengambil kembali telepon genggam, dan menuliskan pesan singkat kepada suami :

“maaf (kalau)  aku belum pernah bilang, terima kasih atas kerja kerasmu mencari nafkah buat keluarga kecil kita. Aku bersyukur pada Dia karena kamu masih dimampukan untuk itu. Love you, hon. ”

Pesan terkirim. Dan hatiku belum pernah selega ini.

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada November 19, 2009 in Ngerumpi, tentang kita

 

Tag: , ,

It Takes Two, Baby

it takes two

Ketika cinta hinggap di hati, kita tidak ingin dia pergi. Kita ingin menikmatinya selama mungkin. Tetapi kita sering berpatokan pada “ingin menikmati” dan agak lupa dengan usahanya. Kita sering bercokol pada keinginan tanpa mengingat bahwa untuk mencapainya diperlukan kerja keras dan usaha yang tidak sedikit. Saat waktu berjalan, kita sering lupa menjaga nyala api cinta ini. Kita terlalu yakin ia akan menyala, tumbuh subur dengan sukarela, tanpa perlu pupuk. Maaf, cinta tak bisa dibiarkan sendiri. Kita harus tumbuh bersamanya. Kita harus giat menyiraminya. Caranya? Dengan saling membuka hati. Jujur, berani menerima kritik dan saran dari pasangan. Ditambah kemauan untuk memakai akal sehat. Memang ini tidak gampang. Tetapi bukannya mustahil buat dilakukan. Sebaliknya, cinta menjadi bekal saat kita melakukannya. Ketika si dia menyampaikan keluhannya, cinta menguatkan kita untuk mendengarkan hingga tuntas. Cinta pula yang menjadikan kita mau mencari jalan keluar.
Diperlukan dua hati seia-sekata, setuju untuk menjaga nyala api cinta. Mau tidak mau, perlu dua hati yang setuju mempertahankan cinta. Dan untuk itu kita harus merelakan waktu untuk benar-benar bicara dari hati ke hati. Tentang isi hati, kekhawatiran, ketakutan, kebahagiaan. Apa saja. Lalu bergantian melakukan hal yang sama untuk pasangan. Kita tak bisa hanya ingin didengar, tapi enggan mendengar. Dan sebaliknya. Masalah sepele, bisa jadi malapetaka bila dihadapi dengan emosi. Tapi masalah besar bisa jadi remeh bila dihadapi dengan hati yang bening. It takes two strong heart to build a strong relationship.

Cosmopolitan Magazine, Februari 2002

Manusia ditakdirkan menjadi ciptaan-Nya yang paling sempurna di antara ciptaan lainnya. Tapi manusia tidak bisa menciptakan kesempurnaan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 1, 2009 in Ngerumpi

 

Tag: , ,

Miss you already

Tadinya udah bangga ga menangis lagi ditinggal ama suami ke Papua, eh begitu masuk kamar…krik…krik..(sepi banget), langsung deh bercucuran…hwaa.

Gimana nggak sepi, dalam 3 minggu terakhir, hampir 16 jam mendengar suara dan  tawanya yang menggelegar khas batak itu.  Belum lagi volume televisi yang selalu disetel pada dua digit angka. Bahkan saat tidur pun saya masih mendengar suara ngoroknya. Dan ketika telingaku sudah bisa menyesuaikan pada semua itu, dia pergi lagi. Ternyata saya bisa merindukan suara ngorok juga.

Cuti Liburan Jojo kali ini adalah yang terpanjang selama dia kerja di Papua. Kalau kata Jojo, melanjutkan bulan madu yang tertunda. Walaupun bulan madunya belum membawa hasil, setidaknya ada beberapa hal dalam things-to-do-list di agenda Jojo yang bisa terpenuhi. Salah satunya hunting lokasi rumah. Ternyata mencari rumah tinggal tuh susah. Ada yang pas lokasinya ga pas di harganya. Ada yang pas harganya ga pas di kondisi rumahnya. Kata orang sih nyari rumah tuh kayak nyari jodoh. Ga usah keburu-buru.

Agenda penting lainnya bagi Jojo kalau pulang ke Bogor adalah kumpul bersama teman-temannya semasa kuliah. Acara barbeque di rumah salah seorang teman sepertinya sudah menjadi ritual wajib, yang anehnya hanya terjadi kalo Jojo ada. Kalo kata temannya sih, Jojo itu emang jadi lem-nya buat mereka ngumpul. Ga ada Jojo ga rame. Mereka pasti selalu nanya kapan Jojo pulang. Kalau ga salah sih, agenda kepulangan Jojo berikutnya sudah terisi dengan acara barbeque lagi.

Bukan hanya saya dan teman-temannya, ibu dan bapak kostku saja merasa kehilangan kalau ga ada Jojo. Mereka-lah yang berjasa memperkenalkan saya dan Jojo. Sejak saya rutin diapelin hampir tiap malam sama Jojo waktu masih pacaran, sampai sesudah menikah, kalau mereka ketemu ada aja yang jadi bahan tertawaan. Makanya begitu Jojo baru berangkat ke bandara, mereka langsung nanya kapan Jojo datang lagi.

Ah..Jojo…we all miss you already. Wish to see you soon.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2009 in tentang kita

 

Tag: , ,

33 hal tentang dia

Dia itu…
1. tentunya lelaki tulen..(sudah dibuktikan..hehe)
2. putih (tadinya), tinggi, dan berkacamata…kriteria utama yang kusebutkan dalam memilih suami
3. humoris…ada dia, pasti ada tawa
4. karena itu punya banyak teman…
5. takut naik pesawat terbang, tapi demi menghidupi keluarga rela menempuh penerbangan jauh ke Kaimana
6. suka makan mie goreng,
7. untungnya suka masak juga…
8. ada aja “resep” baru ala cemplung-cemplung kreasinya
9. punya hobby baru…memancing di laut,
10. makanya suka pamer foto hasil pancingannya kemana-mana.
11. sering jadi “sopir dadakan”,
12. karena dia memang suka menolong teman
13. sekarang lagi doyan ngotak-atik hape E61i punyanya
14. bisa seharian di depan internet nyariin aplikasi buat hapenya
15. sukanya pake kaos
16. ga suka pake kemeja
17. apalagi pakai jas
18. kalau boleh pake celana pendek, tidak akan memakai celana panjang
19. soalnya ga suka yang resmi-resmian
20. ga doyan minum kopi
21. lebih memilih air putih
22. suka nonton film action dan animasi
23. malas ngumpul di acara keluarga (hehe..sama dengan aku)
24. ga suka berbasa-basi,
25. tampil apa adanya
26. pernah mengaku kalo dulu waktu kuliah banyak gadis terpikat dengan permainan gitarnya
27. tapi dia emang jago sih main gitar
28. meskipun ngaku kalau masih kalah ama saudara-saudaranya dalam hal bermain musik
29. biasa-biasa saja
30. mengaku tidak romantis
31. tapi pernah memberi kejutan terindah di hari ultahku
32. cintaku..my soulmate
33. Joel Panggabean

happy birthday hon...

happy birthday hon...

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2009 in tentang mereka

 

Tag: , ,

At the end of that day

Jadi, 20 Desember kemarin adalah hari ulang tahunku. Setelah mewujudkan impian untuk menikah di usia yang ke-25, maka impian pertama saya di usia ke-26 adalah merayakannya bersama suami tercinta. Tapi apa daya, karena suamiku sedang mengadu nasib di pulau paling timur Indonesia, impian itu mulai terkubur dengan sendirinya.

Dari pagi, sms dan telepon mengucapkan selamat ulang tahun terus berdatangan di hapeku. Tentu saja, Jojo juga menelepon setelah terlebih dahulu mengirimkan sms selamat ulang tahun yang kata dia tujuannya untuk membangunkan aku terlebih dahulu sebelum menerima teleponnya. Tapi mengingat hari itu akan kulalui sendirian, tidak urung membuatku sedikit bersedih.

“Jadi acaramu apa hari ini?”, tanya Jojo
“Belum tahu. Mungkin cari makan siang aja di luar.”
“Oh gitu..ohya, aku keluar dulu ya..mau cari jahe merah pesananmu. Kalau sore pasarnya tutup.”
“Kamu ga kerja hari ini?”
“Kerja sih..tapi lagi mati lampu, jadi jalan-jalan aja dulu..hehe”
“Ya sudahlah…ntar telepon lagi ya”

Menjelang siang, seorang sahabat lama , Tika, mengirimkan sms dan mengajak untuk nonton bersama di XXI Botani Square. Tentu saja tawaran ini tidak aku lewatkan, hitung-hitung bisa melewati hari ini bersama seseorang. Tapi Tika, temanku terlambat datang. Aku menunggu sambil menelepon Jojo. Telpon Jojo juga tidak aktif. Mungkin dia lagi berada di tempat yang tidak ada sinyalnya. Akhirnya Tika datang dan jadilah kami menonton film Twilight yang lagi happening itu, walaupun sempat ketinggalan 20 menit di awal film. Kata orang sih film ini bakal jadi the next Harry Potter. Tapi setelah menontonnya aku berpendapat film ini ga ada apa-apanya dibandingkan dengan Harry Potter. Alih-alih film tentang vampire yang jatuh cinta, lebih cocok disebut film percintaan yang dilakoni oleh vampire.

Sementara menonton, Jojo sms lagi.
Jadi ngapain dek? Sinyalnya lagi jelek nih. Battrey hapeku jadi habis karena sinyal jelek.”

“Lagi nonton ama teman. Film Twilight, film vampire untuk abg.”

Habis nonton, kami makan siang (makan sore lebih tepatnya). Sementara makan, aku menelepon Jojo. Sempat ngobrol sebetar, karena Jojo mau ngecahrge hape-nya mumpung lagi nyala lampunya. Di tempat Jojo sekarang memang sering mati lampu. Setelah makan, aku pulang ke rumah, soalnya Tika juga mau ke tempat temannya di Jakarta.

Malamnya, seperti biasa sebelum tidur aku menelepon Jojo. Ada nada panggil tapi tidak diangkat. Ga lama kemudian ada sms dari Jojo.

Hon di mess masih rame ada tamu. Ntar agak malaman aku telepon ya..hehe. Tamunya menyebalkan bawa kerjaan lagi.

Ya sudah…aku menunggu aja sambil baca buku. Tapi sampai jam 22.00 WIB dia belum menelepon. Di sana berarti sudah jam 00.00 WIT. Berkali-kali aku coba menelepon, tapi tidak diangkat juga. Sampai sms dari Jojo datang lagi.

“Sori mbak. Pak zul lg keluar anter temennya. Sbntr kembali. Hp nya ada tertinggal”

Ough…ternyata temannya yang sms pake hape Jojo. Aku jadi semakin uring-uringan. Harusnya malam ini aku dan dia bisa ngobrol panjang sebelum tidur. Setengah jam kemudian aku mengirimkan sms ke Jojo.

“Hon kalo dah pulang telepon aku. Aku ga mau tidur sebelum kamu pulang.”

Beberapa menit kemudian, akhirnya Jojo menelpon. Belum sempat dia berbicara aku sudah nyerocos duluan, marah-marah karena dia pulang larut malam. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Dan begitu pintu aku buka…

“Selamat ulang tahun, sayang…”

Aku terperanjat melihat Jojo berdiri di depan pintu. Aku langsung memeluk Jojo sambil terus melanjutkan omelanku, dan tentu saja sambil menangis. Entah tangisan lega atau bahagia.

“Kamu jahat, hon…kamu ngerjain aku…”, omelku dalam pelukan Jojo.
“Katanya mau kado ulang tahun bersama aku? Selamat ulang tahun…Jangan nangis..”, kata Jojo sambil mencium keningku.

Ternyata Jojo sudah lama merencanakan akan pulang dan memberi kejutan di hari ulang tahunku. Tapi dia tidak mengatakan kepada siapapun, kecuali ke teman mess-nya untuk jaga-jaga seandainya aku menelpon ke temannya menanyakan dia.

Dan di akhir hari itu, aku bisa bersama Jojo merayakan ulang tahunku. Ternyata impianku tidak terkubur begitu saja. Walaupun tetap saja tidak tiup lilin bersama tapi tidur dalam pelukan Jojo sudah menjawab keinginanku tanpa harus meniup lilin terlebih dahulu.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih sayangku…Love you much.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2009 in tentang mereka

 

Tag: ,