RSS

Arsip Kategori: tentang kamu

Enam Enam

Enam tahun yang lalu, “kita” berarti aku dan kamu.

holding-hands1

Enam bulan yang lalu, “kita” berarti aku, kamu dan dia.

hands

Happy 6th anniversary to our li’l family

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2014 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Tag: ,

Meet Our Son, Yobel Nugraha Panggabean

Dulu, waktu belum hamil, saya berangan-angan akan menuliskan semacam jurnal selama saya hamil. Nyatanya begitu hamil, angan-angan ga jadi kenyataan. Sebenarnya sih malas nulis aja… 🙂

Padahal ada banyak hal yang bisa diceritakan selama hamil kemarin. Kalau soal ngidam, mual-muntah, itu sudah biasa dan umumnya dialami semua ibu hamil. Salah satu yang spesial adalah karena kehamilan dengan placenta previa totalis yang saya alami. Kondisi spesial ini membuat saya harus ekstra hati-hati menjaga janin di dalam kandungan.

Hingga minggu ke 34 nyaris tidak ada masalah, kecuali gerakan si baby yang sangat aktif. Berhubung kami sudah tahu dia adalah baby boy, kami merasa itu hal yang wajar. Namun, tanggal 11 April dini hari, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Kami berdua panik, dan segera ke IGD di RS. Panti Rapih. Hasil observasi dokter mewajibkan saya untuk bedrest total. Empat hari di RS, semua kegiatan dilakukan di atas tempat tidur. Setelah pendarahan berhenti dan tinggal flek-flek saja, dokter membolehkan untuk pulang ke rumah dengan syarat tetap bedrest (tapi urusan kamar mandi tidak lagi di atas tempat tidur). Jadilah saya hanya tiduran saja sampai bosan.

Pas usia kandungan 36 minggu, pendarahan kembali terjadi. Kali ini dokter tidak membolehkan saya pulang dari RS. Seminggu saya kembali bedrest total. Kedua tangan sampai bengkak gara2 berurusan dengan infus yang sering macet. Dokter baru mau melakukan operasi caesar setelah kandungan berusia 37 minggu.

Sabtu, 3 Mei 2014, usia kandungan 37 minggu, waktu operasi caesar ditentukan jam 12 siang. Jam 11, perawat mulai melakukan persiapan. Mulai dari pasang kateter, sampai ganti infus (lagi). Jam 11.30 saya diantar ke ruang bedah. Jam 12.00 masuk ke dalam ruang operasi. Sampai di ruang operasi, ternyata saya harus menunggu 1 jam lebih, karena dokter kandungan-nya masih ada pasien di poliklinik. Setelah ada konfirmasi bahwa dokter kandungan sudah menuju ke ruanh operasi, barulah dokter anestesi bekerja. Saya mulai dibius spinal, perut kebawah mulai kebas dan mati rasa. Begitu dokter kandungan datang, operasi segera dimulai. Jam 13.47 suara tangisan anak saya (yang kami beri nama Yobel) untuk pertama kalinya terdengar. Kencang banget, sampai rasanya saya ingin langsung memeluknya. Apa daya, saya hanya bisa menitikkan air mata bahagia. Yobel langsung dibawa pergi untuk diobservasi (ditimbang, diukur panjangnya, dicek kelengkapannya), didampingi sama bapaknya. Sementara saya lanjut “dibereskan”.

Yobel saat diobservasi

Yobel saat diobservasi

Ohya, ada yang menarik saat Yobel lahir. Pada saat Yobel diangkat dari dalam kandungan, kata suster di luar lagi hujan deras. Padahal langitnya terang. Dokternya langsung bilang, “anaknya bawa hujan berkat ya, Bu.” Amin…

Operasi beres, saya diantar ke ruang pemulihan. Di sana, saya sampai menggigil sampai badan saya bergetar semua. Saya sampai minta diselimuti 2 lapis. Ada sejam saya menggigil di ruang pemulihan, sampai perawat membolehkan untuk kembali ke kamar. Jam 15.30 saya diantar ke kamar ditemani suami dan mama. Suami pun memperlihatkan video yang dia ambil saat Yobel diobservasi. Waduh… saya nangis lagi pas liat videonya. Apalagi pas Yobel diantar suster masuk ke kamar jam 21.00. Pengen langsung meluk, tapi saya ga bisa gerak dari tempat tidur. Seharusnya malam itu Yobel sudah bisa rawat gabung bersama saya, tapi mama menganjurkan untuk rawat gabungnya mulai besoknya saja. Tunggu saya pulih dulu. Ternyata besoknya, saya harus transfusi darah, karena menurut hasil lab pasca operasi, Hb saya turun sampai 8,6.
Selebihnya proses pemulihan pasca operasi lumayan lancar. Kami diperbolehkan pulang pada hari ke-3. Sukacita saya berlipat-lipat, anak saya lahir dengan selamat, plus saya terbebas dari bedrest total 🙂

Yobel Nugraha Panggabean

Yobel Nugraha Panggabean

Ohya, soal nama anak kami ada ceritanya sendiri. Nama lengkapnya Yobel Nugraha Panggabean. Nama Yobel itu diberikan oleh opungnya, yang diambil dari nama tahun di Alkitab yang berarti tahun pembebasan/kemenangan. Dari kakeknya (papa saya) tadinya mau dikasih nama Anugerah, tapi saya dan bapaknya Yobel kurang sreg. Saya pun kepikiran nama saya sendiri Nugrainy itu artinya anugerah juga. Saya pun mengusulkan nama Nugraha sebagai nama keduanya. Lagian nama Yobel mirip nama bapaknya, Joel; nama Nugraha mirip sama mamanya dong… 😀

So, world… Please welcome our son, Yobel Nugraha Panggabean.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2014 in entahlah..., tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Chapter 4

Akhir dari bab keempat sudah kita lewati…

365 hari yang tidak mudah bagimu, saya tahu dengan pasti.

Tapi dalam hari-hari itu, kamu tetap menjadi tempatku berpegang.

You complete me… ever.

I love you more and more…

Mari menjalani babak selanjutnya, meskipun (mungkin) hanya ada kita berdua 🙂

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2012 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Happy Birthday, Dear

I wanna make you smile whenever you’re sad
Carry you around when your arthritis is bad
All I wanna do is grow old with you

I’ll get your medicine when your tummy aches
Build you a fire if the furnace breaks
Oh it could be so nice, growing old with you

I’ll miss you
Kiss you
Give you my coat when you are cold

Need you
Feed you
Even let ya hold the remote control

So let me do the dishes in our kitchen sink
Put you to bed if you’ve had too much to drink
I could be the (wo)man who grows old with you
I wanna grow old with you

Happy 36th year old, dear honey….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2012 in tentang kamu

 

Chapter 3

Semalam baru saja kita akhiri babak ketiga dari kehidupan pernikahan kita.

Thanks God kita akhirnya bisa menjalani rumah tangga yang sebenarnya. Kamu dan saya, satu waktu, satu tempat, satu masa. Tidak mudah ternyata, apalagi hampir setiap hari kita hanya berdua. Ah.. soal ‘hanya berdua” itu, saya akhirnya belajar menerima rumah tangga kita apa adanya. Ternyata Tuhan masih perlu waktu lebih lama lagi untuk mempercayai kita menjadi orang tua.

Terima kasih karena kamu adalah suami yang sangat pengertian, dimana setiap hari kamu mengambil sebagian peranku sebagai ibu rumah tangga karena pekerjaan yang menyita waktuku.

Terima kasih dengan segala upayamu, mencari penghasilan untuk keluarga kecil kita (dan masih sempat mengantar dan menjemputku dari tempat kerja)

Terima kasih atas semua perabotan baru yang mengisi rumah kita (walaupun kita harus bertengkar dulu tentang penting tidaknya barang itu) :mrgreen:

Hari ini kita buka babak keempat dalam rumah tangga kita. Mudah-mudahan ada gambar bayi di halaman berikutnya ya 🙂

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2011 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Tag: , ,

Lampu

Sebulan yang lalu

Me   : “Lampunya jangan dimatikan dulu ya… aku masih mau membaca”

Him : “Iya… tapi jangan terlalu malam tidurnya”

Seminggu yang lalu

Him   : (membaca-baca isi blogku) ” Ha?? 25 buku dalam satu bulan? Pantas saja            disenggol dikit ngambek. Pacaran sama buku ternyata…

Me  : (senyum-senyum)

Semalam yang lalu

Me   : “Ngapain beli lampu baca, hon?”

Him  : ‘Biar kalau kamu membaca sampai larut malam, saya ndak terganggu                     tidurnya”.

 

 

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 29, 2011 in tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Tag:

Balada Tukang Foto Keliling

Akhir-akhir ini saya lebih sering posting dengan judul Weekly Photo Challenge. Itu adalah tantangan posting dari wordpress untuk menampilkan foto-foto sesuai tema yang ditentukan setiap minggunya. Kalau ada yang memperhatikan, di bawah setiap foto yang saya unggah ada tulisan “credit to @joelgabe photography“. 

@joelgabe photography adalah usaha sederhana yang dilakukan oleh suami saya. Sejak meninggalkan hutan Papua pada bulan Maret 2011 dan berkumpul bersama dengan saya di Palopo, suami saya mulai mengembangkan usaha ini. Berangkat dari hobby fotografi dengan modal sebuah kamera Nikon D90 bekas dan Nikon D3100 modifikasi IR yang dia punya, dia belajar fotografi secara otodidak. Sampai saat ini, dia belum pernah ikut kursus atau pelatihan fotografi. Semuanya dia pelajari lewat internet.

Beberapa waktu kemudian, dia menemukan komunitas fotografi di Palopo, yang bernama Kapolo. Kemampuan fotografinya semakin terasah. Seringkali mereka melakukan kegiatan hunting foto bersama menggunakan model-model lokal. Kadang anak-anak kecil sebelah rumah juga jadi objeknya. Lumayan buat latihan, katanya.

Beberapa hasil jepretan menggunakan kamera IR

Akhirnya, sekitar 3 bulan yang lalu, Joel, suami saya memutuskan untuk menjadi freelance photographer (baca :tukang foto keliling). Saat ini dia belum mempunyai tempat usaha yang tetap, karena terkendala di modal usaha. Tapi dengan mengubah satu kamar di rumah menjadi studio sederhana, dan meja makan merangkap meja kerja, setidaknya penghasilan dia sebulan terkadang sudah lebih dari penghasilan saya yang pergi pagi pulang petang ini. Yah.. namanya juga tukang foto keliling, penghasilan tidak menentu sudah jadi resiko.

Saya pernah membaca entah di mana, kalau defenisi sukses salah satunya adalah mampu menjadikan passion dan hobby menjadi sumber penghasilan. Kalau merunut dari kategori itu, saya berani mengatakan suami saya sudah termasuk orang sukses.

Saya tidak menyesal dengan pilihan pekerjaannya. Justru saya kagum dengan kemampuannya yang berangkat dari nol sampai bisa menghidupi keluarga. Tidak jarang saya iri dengan keberhasilannya itu. Lagipula, dengan pekerjaannya sebagai freelance photographer dia jadi punya banyak waktu luang. Termasuk memasak makan siang buat kami berdua setiap harinya. Bagaimana mungkin saya merasa rugi? :mrgreen:

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada September 23, 2011 in lihat..baca..dengar, tentang kamu

 

Tag: , ,