RSS

Arsip Kategori: entahlah…

Female of The Week

Seumur hidup, seingat saya, sudah tiga kali profil saya dimuat di koran lokal tempat tinggal saya. Yang pertama, waktu masih SMP, dimana saya menjadi utusan daerah (Kabupaten Luwu waktu itu) untuk mengikuti Lomba Olimpiade MIPA di tingkat provinsi. Sepertinya potongan artikel di koran itu masih disimpan oleh papa saya.

Yang kedua, ketika mewakili Fakultas Sains (tempat kerja saya) untuk mengikuti Seminar Nasional di Lombok. Tapi karena beritanya masuk di kolom advetorial edukasi (berita khusus promosi kampus) dan profil yang dimuat bersama-sama dengan beberapa teman lainnya, saya menganggapnya biasa saja.

WhatsApp Image 2017-10-07 at 09.17.24

Yang ketiga, dimuat hari ini, sebagai Female of The Week. Di situ menceritakan tentang profil saya sebagai wanita karir, yang dalam usia 30-an bisa memegang satu jabatan di universitas favorit di kota ini. Tentang bagaimana saya membagi waktu antara keluarga dan karir, tentang kedisiplinan yang selalu saya terapkan saat bekerja, dan juga tentang hobby membaca buku yang membuat saya beberapa kali memenangkan lomba membuat review. Ada juga tentang komunitas BBI yang membuat saya semakin mencintai buku.

Well…sejujurnya saat wartawan koran itu datang menemui dan mewawancarai saya, dalam hati saya sudah harap-harap cemas. Saya mengkhawatirkan reaksi dari orang-orang yang membaca profil itu. Hehe… yah begitulah orang introvert kalau tiba-tiba “tampil”.

Reaksi pertama yang saya baca adalah tanggapan rekan-rekan kerja saya di grup WA. Apresiasi mereka membuat saya terharu. They know exactly apa yang sudah saya lakukan dan bagaimana saya di tempat kerja sampai saya berada di posisi itu. Bahkan beberapa komentar dari rekan-rekan kerja saya tentang kedisiplinan yang saya terapkan dimuat juga dalam beritanya. Reaksi berikutnya adalah dari keluarga. Mereka juga mengapresiasi munculnya saya di koran harian lokal itu. Anakku, Yobel (3 thn), bahkan dengan bangganya memperlihatkan koran itu pada saya saat pulang kerja dan berkata, “look…Mama… Mama ada di sini”

Kemudian suami saya memasang potongan koran di atas di halaman facebook-nya. Ohya, foto saya di situ adalah hasil jepretannya dia. Suami saya menuliskan bahwa dia senang hasil jepretannya bisa masuk di koran lokal. Lalu muncullah komentar-komentar dari beberapa orang. Most of them mengomentari tentang badan saya yang gemuk, kelihatannya seperti hamil, prestasi berat badan yang bertambah, dan seterusnya. Dan saat membacanya disitulah saya merasa sedih.

Saya bukannya mengingkari kalau saya memang terlihat lebih gemuk seperti yang dituliskan oleh komentar-komentar itu. Kalau soal berat badan, bukan sekali dua kali ini saya mendapatkan komentar seperti itu. But… kenapa sih harus “main fisik”? Suddenly I’m having an impostor syndrome and say to myself… well maybe I don’t deserve any publication like that. Dan inilah yang berkembang di masyarakat kita. Semacam kalau kamu punya badan gemuk atau kulit berwarna gelap, kamu adalah manusia sial binti terpurukwati. Sama halnya kalau kamu jomblo atau belum nikah atau belum punya anak, kamu layak buat ditertawakan dan di-bullyIt hurts, people…

Saya menuliskan ini bukan hanya sekadar ingin curhat. Tetapi saya menuliskannya sebagai pengingat bagi diri saya sendiri agar saya selalu “memasang kaki di sepatu orang lain sebelum mengomentari pemilik sepatunya”. Karena lidah itu lemah. Dan ucapan yang keluar dari lidah (atau tangan yang mengetikkannya) bisa membuat kepingan hati milik orang menjadi retak. Layaknya kertas, setelah diremas-remas, kerutannya tidak akan bisa hilang.

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2017 in entahlah..., lihat..baca..dengar, tentang saya

 

Mengucap Syukurlah Dalam Segala Hal

download

Bersyukur kepada Tuhan..bersyukur kepada Tuhan… Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan

Entah sejak kapan dan bagaimana awal mulanya, setiap kali Yobel melihat tanda salib, dia akan langsung berkata, “Bersyukur kepada Tuhan“. Tidak jarang, dia lanjutkan dengan menyanyikan lagu berjudul sama. Bukan hanya tanda salib, sambungan ubin dan tanda tambah di kalkulator pun baginya terlihat sama. Dia juga akan mengatakan, “Bersyukur kepada Tuhan” saat melihatnya.

Meski sudah diajarkan, bahwa lambang palang itu bernama salib, dia lebih sering mengucapkan kalimat “Bersyukur kepada Tuhan”. Mungkin di dalam kepala kecil-nya sudah tertanam bahwa nama lambang itu adalah “Bersyukur kepada Tuhan“.

Sampai satu kali, dia diajak Bapaknya ke rumah seorang teman yang memproduksi peti mati. Di peti mati itu ada tanda salib. Spontan, Yobel langsung berteriak sambil menunjuk petinya, “Wow…bersyukur kepada Tuhan“.

Oalah, nak… kebayanglah bagaimana kalau anak ini dibawa ke acara pemakaman, dan dia akan melihat tanda salib di peti mati atau nisannya. Bisa-bisa orang akan salah kaprah mendengarnya. Hehe…

Tapi… di satu sisi, Yobel mengajarkan kepada kami bahwa ucapan syukur memang sepantasnya dipanjatkan saat melihat salib itu. Mengucap syukur atas kasihNya, atas pengorbananNya, atas karuniaNya, atas keselamatan dariNya.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2017 in entahlah..., tentang DIA, tentang kita

 

Everybody, Somebody, Anybody and Nobody

fable
This is a story about four people: Everybody, Somebody, Anybody and Nobody.
There was an important job to be done and Everybody was asked to do it.
Everybody was sure that Somebody would do it.
Anybody could have done it, but Nobody did.
Somebody got angry because it was Everybody’s job.
Everybody knew that Anybody could do it,
but Nobody realized that Somebody wouldn’t do it.
And it ended up that Everybody blamed Somebody
because Nobody did what Anybody could have done.

Saya pernah membaca puisi di atas di sebuah ruangan di kantor tempat saya bekerja sebelumnya. Puisi itu sangat membekas di benak saya karena permainan katanya, dan tentu saja isinya. Puisi ini memang mengingatkan tentang pentingnya delegasi dan tanggung jawab dalam sebuah tim. Dan saya baru tahu kalau puisi ini ditulis oleh Charles Osgood.

Saya menemukan versi panjang-nya di sini:

A Poem About Responsibility

There was a most important job that needed to be done,
And no reason not to do it, there was absolutely none.
But in vital matters such as this, the thing you have to ask
Is who exactly will it be who’ll carry out the task?

Anybody could have told you that everybody knew
That this was something somebody would surely have to do.
Nobody was unwilling; anybody had the ability.
But nobody believed that it was their responsibility.

It seemed to be a job that anybody could have done,
If anybody thought he was supposed to be the one.
But since everybody recognised that anybody could,
Everybody took for granted that somebody would.

But nobody told anybody that we are aware of,
That he would be in charge of seeing it was taken care of.
And nobody took it on himself to follow through,
And do what everybody thought that somebody would do.

When what everybody needed so did not get done at all,
Everybody was complaining that somebody dropped the ball.
Anybody then could see it was an awful crying shame,
And everybody looked around for somebody to blame.

Somebody should have done the job
And Everybody should have,
But in the end Nobody did
What Anybody could have.

Charles Osgood
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2016 in entahlah...

 

Meet Our Son, Yobel Nugraha Panggabean

Dulu, waktu belum hamil, saya berangan-angan akan menuliskan semacam jurnal selama saya hamil. Nyatanya begitu hamil, angan-angan ga jadi kenyataan. Sebenarnya sih malas nulis aja… 🙂

Padahal ada banyak hal yang bisa diceritakan selama hamil kemarin. Kalau soal ngidam, mual-muntah, itu sudah biasa dan umumnya dialami semua ibu hamil. Salah satu yang spesial adalah karena kehamilan dengan placenta previa totalis yang saya alami. Kondisi spesial ini membuat saya harus ekstra hati-hati menjaga janin di dalam kandungan.

Hingga minggu ke 34 nyaris tidak ada masalah, kecuali gerakan si baby yang sangat aktif. Berhubung kami sudah tahu dia adalah baby boy, kami merasa itu hal yang wajar. Namun, tanggal 11 April dini hari, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Kami berdua panik, dan segera ke IGD di RS. Panti Rapih. Hasil observasi dokter mewajibkan saya untuk bedrest total. Empat hari di RS, semua kegiatan dilakukan di atas tempat tidur. Setelah pendarahan berhenti dan tinggal flek-flek saja, dokter membolehkan untuk pulang ke rumah dengan syarat tetap bedrest (tapi urusan kamar mandi tidak lagi di atas tempat tidur). Jadilah saya hanya tiduran saja sampai bosan.

Pas usia kandungan 36 minggu, pendarahan kembali terjadi. Kali ini dokter tidak membolehkan saya pulang dari RS. Seminggu saya kembali bedrest total. Kedua tangan sampai bengkak gara2 berurusan dengan infus yang sering macet. Dokter baru mau melakukan operasi caesar setelah kandungan berusia 37 minggu.

Sabtu, 3 Mei 2014, usia kandungan 37 minggu, waktu operasi caesar ditentukan jam 12 siang. Jam 11, perawat mulai melakukan persiapan. Mulai dari pasang kateter, sampai ganti infus (lagi). Jam 11.30 saya diantar ke ruang bedah. Jam 12.00 masuk ke dalam ruang operasi. Sampai di ruang operasi, ternyata saya harus menunggu 1 jam lebih, karena dokter kandungan-nya masih ada pasien di poliklinik. Setelah ada konfirmasi bahwa dokter kandungan sudah menuju ke ruanh operasi, barulah dokter anestesi bekerja. Saya mulai dibius spinal, perut kebawah mulai kebas dan mati rasa. Begitu dokter kandungan datang, operasi segera dimulai. Jam 13.47 suara tangisan anak saya (yang kami beri nama Yobel) untuk pertama kalinya terdengar. Kencang banget, sampai rasanya saya ingin langsung memeluknya. Apa daya, saya hanya bisa menitikkan air mata bahagia. Yobel langsung dibawa pergi untuk diobservasi (ditimbang, diukur panjangnya, dicek kelengkapannya), didampingi sama bapaknya. Sementara saya lanjut “dibereskan”.

Yobel saat diobservasi

Yobel saat diobservasi

Ohya, ada yang menarik saat Yobel lahir. Pada saat Yobel diangkat dari dalam kandungan, kata suster di luar lagi hujan deras. Padahal langitnya terang. Dokternya langsung bilang, “anaknya bawa hujan berkat ya, Bu.” Amin…

Operasi beres, saya diantar ke ruang pemulihan. Di sana, saya sampai menggigil sampai badan saya bergetar semua. Saya sampai minta diselimuti 2 lapis. Ada sejam saya menggigil di ruang pemulihan, sampai perawat membolehkan untuk kembali ke kamar. Jam 15.30 saya diantar ke kamar ditemani suami dan mama. Suami pun memperlihatkan video yang dia ambil saat Yobel diobservasi. Waduh… saya nangis lagi pas liat videonya. Apalagi pas Yobel diantar suster masuk ke kamar jam 21.00. Pengen langsung meluk, tapi saya ga bisa gerak dari tempat tidur. Seharusnya malam itu Yobel sudah bisa rawat gabung bersama saya, tapi mama menganjurkan untuk rawat gabungnya mulai besoknya saja. Tunggu saya pulih dulu. Ternyata besoknya, saya harus transfusi darah, karena menurut hasil lab pasca operasi, Hb saya turun sampai 8,6.
Selebihnya proses pemulihan pasca operasi lumayan lancar. Kami diperbolehkan pulang pada hari ke-3. Sukacita saya berlipat-lipat, anak saya lahir dengan selamat, plus saya terbebas dari bedrest total 🙂

Yobel Nugraha Panggabean

Yobel Nugraha Panggabean

Ohya, soal nama anak kami ada ceritanya sendiri. Nama lengkapnya Yobel Nugraha Panggabean. Nama Yobel itu diberikan oleh opungnya, yang diambil dari nama tahun di Alkitab yang berarti tahun pembebasan/kemenangan. Dari kakeknya (papa saya) tadinya mau dikasih nama Anugerah, tapi saya dan bapaknya Yobel kurang sreg. Saya pun kepikiran nama saya sendiri Nugrainy itu artinya anugerah juga. Saya pun mengusulkan nama Nugraha sebagai nama keduanya. Lagian nama Yobel mirip nama bapaknya, Joel; nama Nugraha mirip sama mamanya dong… 😀

So, world… Please welcome our son, Yobel Nugraha Panggabean.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2014 in entahlah..., tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 

Kopdar BBI dan Ngerumpi

Minggu kemarin bisa dibilang minggu kopdar-an. Dimulai dengan kopdar bersama BBI Jogja di hari Kamis, 13 September kemudian dilanjutkan dengan kopdar mini Ngerumpi di hari Minggu, 16 September. Mari kita lihat apa yang terjadi pada saat kopdar 🙂

Kopdar BBI Jogja

Berawal dari twitter, Dion, Oky, Alvina dan saya akhirnya membuat rencana untuk kopdar. Sempat deg-degan juga, soalnya ini adalah kopdar pertama saya dengan anak-anak BBI. Selama ini kan hanya saling mengunjungi blog, dan meninggalkan komentar di grup facebook, goodreads dan twitter. Berhubung yang mau kopdar adalah anggota BBI, maka venue-nya dipilih di kedai donat di dekat Toko Buku Gramedia Sudirman. Kenapa ga di toko buku-nya? Yah nanti bukannya kopdar malah jadi kalap sama buku.

Sebelum jam 12 saya udah nyampe di venue. Saya muter-muter dulu di toko buku sebelum duduk manis di kedai donat nungguin teman-teman yang lain. Yang pertama muncul adalah Oky, kemudian Dion (yang sempat makan dulu di parkiran), kemudian terakhir Alvina (dengan temannya yang kemudian didaulat sebagai juru foto).

minjam foto-nya Alvina

Karena kopdar ini konon sekalian dengan penyambutan datangnya saya di Jogja, jadinya Oky, Dion dan Alvina masing-masing datang dengan membawa sesajen untuk saya. Sesajennya ada di foto berikut.

timbunan buku dari Oky, Dion dan Alvina

Hwaa.. senangnya bertemu dengan kalian semua *muaah*

Kopdar Mini dengan Ngerumpi

Masih lewat twitter juga, Matilda dan Christin ngajak kopdar. Sekalian aja ngajak om Warm juga. Soalnya mau nagih hadiah buku sama om Warm (yang sebenarnya aneh juga, nagih buku lewat kopdar, padahal masih bisa dibilang tetanggan sama om Warm :D). Jadinya kita janjian di FoodFezt jam 1 siang, sekalian makan siang maksudnya.

Tapi berhubung ada acara keluarga, saya dan suami datangnya terlambat kurang lebih 30 menit. Pas saya datang sudah ada Matilda, Christin dan om Warm beserta pasukannya (ihiy… ketemuan juga dengan pasukannya om Warm yang sering diceritain di blog. They are so cute 🙂 ). Selama kopdar, om Warm malah lebih asyik ngobrol dengan suami saya. Maklum sama-sama orang hutan plus peminat fotografi. Entah apa yang mereka obrolin, soalnya saya juga asyik ngobrol dengan Matilda dan Christin. Saking asyiknya ngobrol, kita malah lupa foto-foto. Jadinya ga ada bukti otentik kopdar deh..

Tapi… tetap saja ada yang dibawa pulang dari kopdar. Ada kisah Matilda saat mengajar di Maluku Tenggara Barat yang membuat saya dan suami terkagum-kagum, buku-buku bacaan yang dipinjamin oleh Christin (bacaannya Christin klasik euy) plus dapat hadiah buku dari om Warm.

pinjaman dari Christin dan hadiah dari om Warm

Bertemu orang-orang hebat seperti om Warm, Matilda dan Christin sangat menyenangkan. Dan berhubung ga ada bukti otentik kopdaran, sepertinya kita harus merencanakan kopdar berikutnya ya… 🙂

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada September 17, 2012 in entahlah..., jalan-jalan, Ngerumpi, tentang mereka, tentang saya

 

Melihat Lewat Jendela

Kubikel ruang kerja saya letaknya tepat di sebelah jendela yang mengarah ke halaman parkir kampus. Terkadang kalau kerjaan lagi menumpuk dan otak sedang hang, atau kalau ada ribut-ribut di halaman, mata saya otomatis memandang keluar jendela. Dan pemandangan yang paling sering saya jumpai adalah beberapa mahasiswa yang sedak duduk-duduk di depan kelas sambil ngobrol (tidak jarang mereka bersuara sangat keras).

Saya seringkali penasaran apa yang mereka bicarakan dengan semangat seperti itu, padahal saya yakin di dalam kelas mereka tidak seantusias itu menerima materi perkuliahan. Tentu saja saya tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Entahlah. Yang pasti mereka sepertinya punya banyak waktu untuk santai seperti itu. Sebagai seorang dosen, tentu saja saya lantas berpikir “ah seandainya saja mereka memanfaatkan waktu itu untuk membaca di perpustakaan, pasti lebih banyak manfaatnya“.

Tapi kemudian saya bertanya, dulu saat saya menjadi mahasiswa apakah yang saya lakukan di sela waktu luang di kampus? Hm… memori saya hanya mampu mengingat beberapa dari semua yang terjadi sebelas hingga enam tahun yang lalu ( iya… saya setua itu) 🙂

Dulu, kalau ada waktu luang di kampus, saya dan teman-teman dekat punya spot khusus untuk tempat nongkrong. Ada di bawah pohon matoa, di sudut teras kantor akademik, di bangku kopma di bawah jendela laboratorium, di sudut perpustakaan atau di kantin. Waktu luang di kampus dulu rasanya sangat sedikit. Kalau tidak sedang menunggu kuliah berikutnya, ya menunggu jadwal praktikum. Sebagai mahasiswa biologi yang jadwal rutinnya PKK (Praktikum – Kuliah – Kost) waktu-waktu luang itu dimanfaatkan untuk mengerjakan laporan, menghapal materi kuliah, mencari bahan laporan, menyalin tugas dari teman, diskusi dengan senior, atau berhadapan dengan asisten praktikum (karena laporan kemarin harus diperbaiki). Sehingga kalau ada teman yang terlihat santai pasti kesimpulannya hanya dua, “dia sih emang pintar banget” atau “paling dia malas lagi“. Study-oriented? Boleh dikatakan begitu. Rasanya malu sedunia kalau inhal praktikum gara-gara ga lulus pretest. Atau kalau masuk kelas yang isinya adik angkatan semua.

Tapi saya tidak pernah merasa menyesal dengan masa-masa kuliah PKK begitu. Ternyata dengan begitupun kami masih punya banyak memori. Dan kalau melihat lewat jendela seperti yang saya lakukan saat ini, rasanya saya ingin punya mesin waktu kembali ke masa itu. Bagaimana dengan mahasiswa sekarang di almamater saya itu? Melihat perkembangannya di grup situs pertemanan, rasanya saya makin pengen kembali menjadi mahasiswa.

Kembali kepada apa yang terjadi di luar jendela kubikel ruang kerja saya.  Hampir setiap hari saya mendengarkan keluhan dari mahasiswa. “Tugas banyak sekali” atau “Laporan praktikum menumpuk“, tapi mereka masih bisa duduk santai, demonstrasi sana sini, jalan-jalan entah kemana (ini saya tahunya dari halaman facebook mereka yang penuh status entah ngapain dimana). Mengapa mahasiswa di sini sepertinya terlihat santai saja? Apa yang salah?

Seorang teman pernah berkata, tidak semua mahasiswa datang ke kampus untuk menuntut ilmu. Kadang mereka hanya mencari status dan jati diri mereka. Kadang mereka hanya mengisi waktu luang. Kadang juga hanya untuk mencari teman. Hanya bagi saya, rasanya sayang sekali mengeluarkan uang sedemikian banyaknya tapi tidak memanfaatkan sebagaimana tujuannya.

Mahasiswa adalah manusia dewasa. Seorang yang dewasa sudah sepantasnya bijaksana dalam menjalani setiap tapak kehidupannya. Karena dewasa bukan diukur dari banyaknya umur seseorang, tapi bagaimana dia menyikapi suatu kondisi.

Suara mahasiswa di luar jendela kubikel ruang kerja saya kembali menyadarkan saya. Saya merindukan masa-masa menjadi mahasiswa dengan segala rutinitasnya. Saya telah membuat pilihan di masa lampau, dan sekarang saya menikmati hasilnya. Mahasiswa-mahasiswa itupun punya pilihan dalam mengisi hari-hari kuliahnya. Semoga saja nanti mereka merindukan masa-masa kuliahnya dengan pilihan mereka sendiri.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 9, 2011 in entahlah...

 

Tag: , ,

27 Oktober

free glitter text and family website at FamilyLobby.com

Di hari blogger nasional ini, saya mau bilang tulis :

  1. Saya bangga menjadi blogger Indonesia. Terima kasih buat mereka (yang tidak dapat disebutkan namanya karena banyaknya) yang sudah menginspirasi saya membuat blog.
  2. Terima kasih untuk friendster, wordpress, ngerumpi, twitter, pinterest, tumblr, goodreads, yang menyediakan gubuk-gubuk maya untuk saya berbagi cerita.
  3. Terima kasih untuk segala jaringan internet, baik yang lancar jaya maupun yang sesak napas.
  4. Terima kasih untuk semua yang telah searah, berlawanan, maupun bersimpangan hidup dengan saya, hingga akhirnya saya punya cerita untuk dibagi.
  5. Terima kasih untuk pengunjung blog ini. Maafkan saya, karena tidak bisa menepati janji menulis setiap minggu. :mrgreen:

Kadang banyak yang tak sadar bahwa gemuruh di ranah blog mungkin mirip perjalanan kembang api. Seseorang dengan cepat terlontar bercahaya ke angkasa, bak bintang luncur dengan suara riuh. Tapi tak lama kemudian ia meredup, lalu menghilang di kegelampan malam, jatuh sebagai arang yang getas.

Hanya yang tekun dan menyimpan bara hasrat terus berbagi yang akan bertahan. Ngeblog bukan lari jarak pendek. Ia lebih mirip maraton. Di tengah perjalanan, seorang blogger bisa saja megap-megap kehabisan napas. Tak ada yang bersorak memberi semangat atau tepuk tangan.

Tak perlu risau atau patah semangat. Menjadi blogger adalah sebuah pilihan. Buat saya, ia pilihan yang tak pernah saya sesali — Ndoro Kakung, 27 Oktober 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 27, 2011 in entahlah...

 

Tag: