RSS

Arsip Kategori: entahlah…

Farewell

Smile though your heart is aching 
Smile even though it’s breaking. 
When there are clouds in the sky you’ll get by.

If you smile through your pain and sorrow 
Smile and maybe tomorrow
You’ll see the sun come shining through for you.

Saya mendapatkan penggalan lagu itu pada status saya di Facebook delapan tahun yang lalu. Entah apa yang saya alami sehingga saya menghibur diri dengan lagu tersebut.

Hari ini saya kembali ingin mendengarkan lagu itu, meresapi setiap kalimatnya, untuk menguatkan diri. Sudah seminggu saya patah hati, karena akan ditinggalkan oleh rekan kerja yang lulus seleksi ASN di Perguruan Tinggi Negeri. Bukan hanya satu orang, tapi lima orang sekaligus. Bahkan ada tiga puluh orang dari kampus tempat saya bekerja yang juga lulus seleksi ASN.

Bukannya saya tidak berbahagia atas pencapaian mereka. Konon menjadi ASN itu sulit. Dan jika mereka berhasil artinya kualifikasi mereka teruji. Setidaknya melewati tes-tes komputer yang sulit dan serangkaian tes berikutnya. Tapi yang namanya ditinggalkan itu nggak pernah enak. Apalagi ditinggalkan oleh rekan kerja terbaik. Saya kira kami sudah menjadi satu tim yang solid. Ternyata menjadi ASN jauh lebih menggiurkan.

Saya menyayangkan kemudahan berpindah bagi dosen swasta yang sudah ber-NIDN, ber-jabatan fungsional, ber-sertifikasi, bahkan ada yang ber-jabatan struktural menjadi ASN di PTN. Ibaratnya sudah susah-susah menanam pohon, buahnya dinikmati oleh orang lain.

Hari ini mereka datang dengan membawa surat pengunduran diri. Rasanya kayak menerima surat putus sama pacar yang masih kita sayangi. Hanya saja, benar kata Eka: solusi dari ditinggal (kawin) itu apa kecuali MERELAKAN???

Well…so long, fellas. Sukses di tempat kerjamu yang baru.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 17, 2019 in entahlah...

 

Pillow Talk #3

Ini pillow talk antara Yobel dan Papanya.

Papa : “Yobel, Mama mau ulang tahun.”

Yobel : “Oh iya, kita belikan kado ya…”

Papa : “Kado apa?”

Yobel : “Buku animal saja… Nanti Mama bacakan untuk Yobel”

………….

Ini kado untuk siapa sih sebenarnya??

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 14, 2018 in entahlah..., tentang kita

 

Pillow Talk #2

Yobel punya teman akrab di sekolah. Mereka sering pulang sekolah bersama-sama naik motor dijemput sama papanya Yobel. Si teman ini belum punya helm, sementara Yobel ga mau naik motor kalau ga make helm angry bird andalannya. Papanya Yobel berinisiatif membelikan si teman ini helm bergambar Tayo via online shop.

Kami sempat cemas, nanti Yobel akan ngambek kalau lihat temannya pake helm baru bergambar Tayo. Waktu paketnya datang, Yobel lihat saya terima paket itu dari kurir. Hanya karena dia asyik nonton, sepertinya dia cuek saja. Saya pun menyimpan paketnya, dan ga dibuka.

Kemarin, ketika si teman mampir ke rumah sepulang sekolah, papanya Yobel memberikan helmnya pada si teman. Si teman senang sekali bisa punya helm bergambar Tayo. Yobel melihat si teman pakai helm baru.

“Itu helm barukah?”, tanyanya.
“Iya…ini helmnya temanmu”, jawab papanya.
“Itu mamaku kan yang belikan kemarin. Aku lihat ada om-om yang antar”, kata Yobel.

Malamnya, dia bertanya ke saya, “Kenapa kamu belikan helm Tayo untuk temanku?”
“Karena temanmu nggak punya helm, Nak”, jawabku pelan-pelan sambil menunggu respon berikutnya.
“Oh…aku tahu. Supaya temanku tidak ditangkap polisi karena tidak pakai helm ya”, katanya lagi.
“Hm… iya. Helmnya bagus kah?”
“Iya… temanku pake helm Tayo, aku pake helm angry bird. Jadi nanti tidak ditangkap polisi ya…kan kami sama-sama pakai helm”

Kadang naluri kekuatiran emak itu berlebihan ya. Padahal respon anaknya biasa saja.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 23, 2018 in entahlah...

 

Female of The Week

Seumur hidup, seingat saya, sudah tiga kali profil saya dimuat di koran lokal tempat tinggal saya. Yang pertama, waktu masih SMP, dimana saya menjadi utusan daerah (Kabupaten Luwu waktu itu) untuk mengikuti Lomba Olimpiade MIPA di tingkat provinsi. Sepertinya potongan artikel di koran itu masih disimpan oleh papa saya.

Yang kedua, ketika mewakili Fakultas Sains (tempat kerja saya) untuk mengikuti Seminar Nasional di Lombok. Tapi karena beritanya masuk di kolom advetorial edukasi (berita khusus promosi kampus) dan profil yang dimuat bersama-sama dengan beberapa teman lainnya, saya menganggapnya biasa saja.

WhatsApp Image 2017-10-07 at 09.17.24

Yang ketiga, dimuat hari ini, sebagai Female of The Week. Di situ menceritakan tentang profil saya sebagai wanita karir, yang dalam usia 30-an bisa memegang satu jabatan di universitas favorit di kota ini. Tentang bagaimana saya membagi waktu antara keluarga dan karir, tentang kedisiplinan yang selalu saya terapkan saat bekerja, dan juga tentang hobby membaca buku yang membuat saya beberapa kali memenangkan lomba membuat review. Ada juga tentang komunitas BBI yang membuat saya semakin mencintai buku.

Well…sejujurnya saat wartawan koran itu datang menemui dan mewawancarai saya, dalam hati saya sudah harap-harap cemas. Saya mengkhawatirkan reaksi dari orang-orang yang membaca profil itu. Hehe… yah begitulah orang introvert kalau tiba-tiba “tampil”.

Reaksi pertama yang saya baca adalah tanggapan rekan-rekan kerja saya di grup WA. Apresiasi mereka membuat saya terharu. They know exactly apa yang sudah saya lakukan dan bagaimana saya di tempat kerja sampai saya berada di posisi itu. Bahkan beberapa komentar dari rekan-rekan kerja saya tentang kedisiplinan yang saya terapkan dimuat juga dalam beritanya. Reaksi berikutnya adalah dari keluarga. Mereka juga mengapresiasi munculnya saya di koran harian lokal itu. Anakku, Yobel (3 thn), bahkan dengan bangganya memperlihatkan koran itu pada saya saat pulang kerja dan berkata, “look…Mama… Mama ada di sini”

Kemudian suami saya memasang potongan koran di atas di halaman facebook-nya. Ohya, foto saya di situ adalah hasil jepretannya dia. Suami saya menuliskan bahwa dia senang hasil jepretannya bisa masuk di koran lokal. Lalu muncullah komentar-komentar dari beberapa orang. Most of them mengomentari tentang badan saya yang gemuk, kelihatannya seperti hamil, prestasi berat badan yang bertambah, dan seterusnya. Dan saat membacanya disitulah saya merasa sedih.

Saya bukannya mengingkari kalau saya memang terlihat lebih gemuk seperti yang dituliskan oleh komentar-komentar itu. Kalau soal berat badan, bukan sekali dua kali ini saya mendapatkan komentar seperti itu. But… kenapa sih harus “main fisik”? Suddenly I’m having an impostor syndrome and say to myself… well maybe I don’t deserve any publication like that. Dan inilah yang berkembang di masyarakat kita. Semacam kalau kamu punya badan gemuk atau kulit berwarna gelap, kamu adalah manusia sial binti terpurukwati. Sama halnya kalau kamu jomblo atau belum nikah atau belum punya anak, kamu layak buat ditertawakan dan di-bullyIt hurts, people…

Saya menuliskan ini bukan hanya sekadar ingin curhat. Tetapi saya menuliskannya sebagai pengingat bagi diri saya sendiri agar saya selalu “memasang kaki di sepatu orang lain sebelum mengomentari pemilik sepatunya”. Karena lidah itu lemah. Dan ucapan yang keluar dari lidah (atau tangan yang mengetikkannya) bisa membuat kepingan hati milik orang menjadi retak. Layaknya kertas, setelah diremas-remas, kerutannya tidak akan bisa hilang.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 7, 2017 in entahlah..., lihat..baca..dengar, tentang saya

 

Mengucap Syukurlah Dalam Segala Hal

download

Bersyukur kepada Tuhan..bersyukur kepada Tuhan… Sebab Ia baik, bersyukur kepada Tuhan

Entah sejak kapan dan bagaimana awal mulanya, setiap kali Yobel melihat tanda salib, dia akan langsung berkata, “Bersyukur kepada Tuhan“. Tidak jarang, dia lanjutkan dengan menyanyikan lagu berjudul sama. Bukan hanya tanda salib, sambungan ubin dan tanda tambah di kalkulator pun baginya terlihat sama. Dia juga akan mengatakan, “Bersyukur kepada Tuhan” saat melihatnya.

Meski sudah diajarkan, bahwa lambang palang itu bernama salib, dia lebih sering mengucapkan kalimat “Bersyukur kepada Tuhan”. Mungkin di dalam kepala kecil-nya sudah tertanam bahwa nama lambang itu adalah “Bersyukur kepada Tuhan“.

Sampai satu kali, dia diajak Bapaknya ke rumah seorang teman yang memproduksi peti mati. Di peti mati itu ada tanda salib. Spontan, Yobel langsung berteriak sambil menunjuk petinya, “Wow…bersyukur kepada Tuhan“.

Oalah, nak… kebayanglah bagaimana kalau anak ini dibawa ke acara pemakaman, dan dia akan melihat tanda salib di peti mati atau nisannya. Bisa-bisa orang akan salah kaprah mendengarnya. Hehe…

Tapi… di satu sisi, Yobel mengajarkan kepada kami bahwa ucapan syukur memang sepantasnya dipanjatkan saat melihat salib itu. Mengucap syukur atas kasihNya, atas pengorbananNya, atas karuniaNya, atas keselamatan dariNya.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2017 in entahlah..., tentang DIA, tentang kita

 

Everybody, Somebody, Anybody and Nobody

fable
This is a story about four people: Everybody, Somebody, Anybody and Nobody.
There was an important job to be done and Everybody was asked to do it.
Everybody was sure that Somebody would do it.
Anybody could have done it, but Nobody did.
Somebody got angry because it was Everybody’s job.
Everybody knew that Anybody could do it,
but Nobody realized that Somebody wouldn’t do it.
And it ended up that Everybody blamed Somebody
because Nobody did what Anybody could have done.

Saya pernah membaca puisi di atas di sebuah ruangan di kantor tempat saya bekerja sebelumnya. Puisi itu sangat membekas di benak saya karena permainan katanya, dan tentu saja isinya. Puisi ini memang mengingatkan tentang pentingnya delegasi dan tanggung jawab dalam sebuah tim. Dan saya baru tahu kalau puisi ini ditulis oleh Charles Osgood.

Saya menemukan versi panjang-nya di sini:

A Poem About Responsibility

There was a most important job that needed to be done,
And no reason not to do it, there was absolutely none.
But in vital matters such as this, the thing you have to ask
Is who exactly will it be who’ll carry out the task?

Anybody could have told you that everybody knew
That this was something somebody would surely have to do.
Nobody was unwilling; anybody had the ability.
But nobody believed that it was their responsibility.

It seemed to be a job that anybody could have done,
If anybody thought he was supposed to be the one.
But since everybody recognised that anybody could,
Everybody took for granted that somebody would.

But nobody told anybody that we are aware of,
That he would be in charge of seeing it was taken care of.
And nobody took it on himself to follow through,
And do what everybody thought that somebody would do.

When what everybody needed so did not get done at all,
Everybody was complaining that somebody dropped the ball.
Anybody then could see it was an awful crying shame,
And everybody looked around for somebody to blame.

Somebody should have done the job
And Everybody should have,
But in the end Nobody did
What Anybody could have.

Charles Osgood
 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2016 in entahlah...

 

Meet Our Son, Yobel Nugraha Panggabean

Dulu, waktu belum hamil, saya berangan-angan akan menuliskan semacam jurnal selama saya hamil. Nyatanya begitu hamil, angan-angan ga jadi kenyataan. Sebenarnya sih malas nulis aja… 🙂

Padahal ada banyak hal yang bisa diceritakan selama hamil kemarin. Kalau soal ngidam, mual-muntah, itu sudah biasa dan umumnya dialami semua ibu hamil. Salah satu yang spesial adalah karena kehamilan dengan placenta previa totalis yang saya alami. Kondisi spesial ini membuat saya harus ekstra hati-hati menjaga janin di dalam kandungan.

Hingga minggu ke 34 nyaris tidak ada masalah, kecuali gerakan si baby yang sangat aktif. Berhubung kami sudah tahu dia adalah baby boy, kami merasa itu hal yang wajar. Namun, tanggal 11 April dini hari, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Kami berdua panik, dan segera ke IGD di RS. Panti Rapih. Hasil observasi dokter mewajibkan saya untuk bedrest total. Empat hari di RS, semua kegiatan dilakukan di atas tempat tidur. Setelah pendarahan berhenti dan tinggal flek-flek saja, dokter membolehkan untuk pulang ke rumah dengan syarat tetap bedrest (tapi urusan kamar mandi tidak lagi di atas tempat tidur). Jadilah saya hanya tiduran saja sampai bosan.

Pas usia kandungan 36 minggu, pendarahan kembali terjadi. Kali ini dokter tidak membolehkan saya pulang dari RS. Seminggu saya kembali bedrest total. Kedua tangan sampai bengkak gara2 berurusan dengan infus yang sering macet. Dokter baru mau melakukan operasi caesar setelah kandungan berusia 37 minggu.

Sabtu, 3 Mei 2014, usia kandungan 37 minggu, waktu operasi caesar ditentukan jam 12 siang. Jam 11, perawat mulai melakukan persiapan. Mulai dari pasang kateter, sampai ganti infus (lagi). Jam 11.30 saya diantar ke ruang bedah. Jam 12.00 masuk ke dalam ruang operasi. Sampai di ruang operasi, ternyata saya harus menunggu 1 jam lebih, karena dokter kandungan-nya masih ada pasien di poliklinik. Setelah ada konfirmasi bahwa dokter kandungan sudah menuju ke ruanh operasi, barulah dokter anestesi bekerja. Saya mulai dibius spinal, perut kebawah mulai kebas dan mati rasa. Begitu dokter kandungan datang, operasi segera dimulai. Jam 13.47 suara tangisan anak saya (yang kami beri nama Yobel) untuk pertama kalinya terdengar. Kencang banget, sampai rasanya saya ingin langsung memeluknya. Apa daya, saya hanya bisa menitikkan air mata bahagia. Yobel langsung dibawa pergi untuk diobservasi (ditimbang, diukur panjangnya, dicek kelengkapannya), didampingi sama bapaknya. Sementara saya lanjut “dibereskan”.

Yobel saat diobservasi

Yobel saat diobservasi

Ohya, ada yang menarik saat Yobel lahir. Pada saat Yobel diangkat dari dalam kandungan, kata suster di luar lagi hujan deras. Padahal langitnya terang. Dokternya langsung bilang, “anaknya bawa hujan berkat ya, Bu.” Amin…

Operasi beres, saya diantar ke ruang pemulihan. Di sana, saya sampai menggigil sampai badan saya bergetar semua. Saya sampai minta diselimuti 2 lapis. Ada sejam saya menggigil di ruang pemulihan, sampai perawat membolehkan untuk kembali ke kamar. Jam 15.30 saya diantar ke kamar ditemani suami dan mama. Suami pun memperlihatkan video yang dia ambil saat Yobel diobservasi. Waduh… saya nangis lagi pas liat videonya. Apalagi pas Yobel diantar suster masuk ke kamar jam 21.00. Pengen langsung meluk, tapi saya ga bisa gerak dari tempat tidur. Seharusnya malam itu Yobel sudah bisa rawat gabung bersama saya, tapi mama menganjurkan untuk rawat gabungnya mulai besoknya saja. Tunggu saya pulih dulu. Ternyata besoknya, saya harus transfusi darah, karena menurut hasil lab pasca operasi, Hb saya turun sampai 8,6.
Selebihnya proses pemulihan pasca operasi lumayan lancar. Kami diperbolehkan pulang pada hari ke-3. Sukacita saya berlipat-lipat, anak saya lahir dengan selamat, plus saya terbebas dari bedrest total 🙂

Yobel Nugraha Panggabean

Yobel Nugraha Panggabean

Ohya, soal nama anak kami ada ceritanya sendiri. Nama lengkapnya Yobel Nugraha Panggabean. Nama Yobel itu diberikan oleh opungnya, yang diambil dari nama tahun di Alkitab yang berarti tahun pembebasan/kemenangan. Dari kakeknya (papa saya) tadinya mau dikasih nama Anugerah, tapi saya dan bapaknya Yobel kurang sreg. Saya pun kepikiran nama saya sendiri Nugrainy itu artinya anugerah juga. Saya pun mengusulkan nama Nugraha sebagai nama keduanya. Lagian nama Yobel mirip nama bapaknya, Joel; nama Nugraha mirip sama mamanya dong… 😀

So, world… Please welcome our son, Yobel Nugraha Panggabean.

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2014 in entahlah..., tentang kamu, tentang kita, tentang saya