RSS

Melihat Lewat Jendela

09 Nov

Kubikel ruang kerja saya letaknya tepat di sebelah jendela yang mengarah ke halaman parkir kampus. Terkadang kalau kerjaan lagi menumpuk dan otak sedang hang, atau kalau ada ribut-ribut di halaman, mata saya otomatis memandang keluar jendela. Dan pemandangan yang paling sering saya jumpai adalah beberapa mahasiswa yang sedak duduk-duduk di depan kelas sambil ngobrol (tidak jarang mereka bersuara sangat keras).

Saya seringkali penasaran apa yang mereka bicarakan dengan semangat seperti itu, padahal saya yakin di dalam kelas mereka tidak seantusias itu menerima materi perkuliahan. Tentu saja saya tidak bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Entahlah. Yang pasti mereka sepertinya punya banyak waktu untuk santai seperti itu. Sebagai seorang dosen, tentu saja saya lantas berpikir “ah seandainya saja mereka memanfaatkan waktu itu untuk membaca di perpustakaan, pasti lebih banyak manfaatnya“.

Tapi kemudian saya bertanya, dulu saat saya menjadi mahasiswa apakah yang saya lakukan di sela waktu luang di kampus? Hm… memori saya hanya mampu mengingat beberapa dari semua yang terjadi sebelas hingga enam tahun yang lalu ( iya… saya setua itu)🙂

Dulu, kalau ada waktu luang di kampus, saya dan teman-teman dekat punya spot khusus untuk tempat nongkrong. Ada di bawah pohon matoa, di sudut teras kantor akademik, di bangku kopma di bawah jendela laboratorium, di sudut perpustakaan atau di kantin. Waktu luang di kampus dulu rasanya sangat sedikit. Kalau tidak sedang menunggu kuliah berikutnya, ya menunggu jadwal praktikum. Sebagai mahasiswa biologi yang jadwal rutinnya PKK (Praktikum – Kuliah – Kost) waktu-waktu luang itu dimanfaatkan untuk mengerjakan laporan, menghapal materi kuliah, mencari bahan laporan, menyalin tugas dari teman, diskusi dengan senior, atau berhadapan dengan asisten praktikum (karena laporan kemarin harus diperbaiki). Sehingga kalau ada teman yang terlihat santai pasti kesimpulannya hanya dua, “dia sih emang pintar banget” atau “paling dia malas lagi“. Study-oriented? Boleh dikatakan begitu. Rasanya malu sedunia kalau inhal praktikum gara-gara ga lulus pretest. Atau kalau masuk kelas yang isinya adik angkatan semua.

Tapi saya tidak pernah merasa menyesal dengan masa-masa kuliah PKK begitu. Ternyata dengan begitupun kami masih punya banyak memori. Dan kalau melihat lewat jendela seperti yang saya lakukan saat ini, rasanya saya ingin punya mesin waktu kembali ke masa itu. Bagaimana dengan mahasiswa sekarang di almamater saya itu? Melihat perkembangannya di grup situs pertemanan, rasanya saya makin pengen kembali menjadi mahasiswa.

Kembali kepada apa yang terjadi di luar jendela kubikel ruang kerja saya.  Hampir setiap hari saya mendengarkan keluhan dari mahasiswa. “Tugas banyak sekali” atau “Laporan praktikum menumpuk“, tapi mereka masih bisa duduk santai, demonstrasi sana sini, jalan-jalan entah kemana (ini saya tahunya dari halaman facebook mereka yang penuh status entah ngapain dimana). Mengapa mahasiswa di sini sepertinya terlihat santai saja? Apa yang salah?

Seorang teman pernah berkata, tidak semua mahasiswa datang ke kampus untuk menuntut ilmu. Kadang mereka hanya mencari status dan jati diri mereka. Kadang mereka hanya mengisi waktu luang. Kadang juga hanya untuk mencari teman. Hanya bagi saya, rasanya sayang sekali mengeluarkan uang sedemikian banyaknya tapi tidak memanfaatkan sebagaimana tujuannya.

Mahasiswa adalah manusia dewasa. Seorang yang dewasa sudah sepantasnya bijaksana dalam menjalani setiap tapak kehidupannya. Karena dewasa bukan diukur dari banyaknya umur seseorang, tapi bagaimana dia menyikapi suatu kondisi.

Suara mahasiswa di luar jendela kubikel ruang kerja saya kembali menyadarkan saya. Saya merindukan masa-masa menjadi mahasiswa dengan segala rutinitasnya. Saya telah membuat pilihan di masa lampau, dan sekarang saya menikmati hasilnya. Mahasiswa-mahasiswa itupun punya pilihan dalam mengisi hari-hari kuliahnya. Semoga saja nanti mereka merindukan masa-masa kuliahnya dengan pilihan mereka sendiri.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 9, 2011 in entahlah...

 

Tag: , ,

2 responses to “Melihat Lewat Jendela

  1. Riza-Arief Putranto

    November 9, 2011 at 5:59 pm

    jadilah mahasiswa lagi chy, yukk lanjut studi😉

     
  2. PT. USAHA SAUDARA MANDIRI

    November 15, 2011 at 10:19 am

    intinya gunakanlah waktu sebaik mungkin…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: