RSS

Karena, hidup ini seperti secangkir kopi

25 Mei

Sekelompok alumni, mapan dalam karir mereka, berkumpul untuk mengunjungi profesor lama ketika mereka masih kuliah di Universitas. Percakapan segera berisi keluhan tentang stres dalam pekerjaan dan kehidupan. Menawarkan kopi kepada tamu, sang profesor pergi ke dapur dan kembali membawa satu teko besar kopi dan bermacam-macam cangkir : porselen, plastik, gelas, kristal. Beberapa cangkir tersebut biasa saja, beberapa mahal dan beberapa sangat indah. Dia kemudian mempersilahkan tamu-tamunya untuk mengambil cangkir dan menuangkan sendiri kopi.

Setelah semua orang memegang secangkir kopi di tangan, profesor tersebut berkata ‘Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah dipilih, meninggalkan beberapa yang biasa dan murah. Bahwa hal tersebut wajar untuk kalian, karena kalian akan selalu menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri, dan itulah sumber dari segala masalah dan stres kalian.Yakinlah bahwa cangkir tidak menambah kualitas dan rasa kopi. Dalam banyak kasus, hal tersebut hanya menjadikan harga kopi lebih mahal dan beberapa kasus lain malahan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkir. Akan tetapi secara sadar, kalian memilih cangkir terbaik. Dan, kalian mulai saling melirik siapa yang mendapatkan cangkir terbaik’.

Penggalan cerita di atas saya temukan di note milik seorang kawan. Kabarnya, dia terinspirasi oleh video ini. Kawan itu kemudian meneruskan ceritanya dengan menyampaikan satu paragraf penutup, seperti yang saya kutip di bawah ini.

Jika direnungkan, hidup dapat diibaratkan sebagai kopi. Pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir. Mereka hanyalah alat untuk memegang dan menampung kopi (kehidupan) dan jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau mengubah kualitas dari hidup. Terkadang, dengan berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita menjadi tidak menikmati rasa kopi itu sendiri. Menikmati kopi, bukan cangkir ! Mereka yang berbahagia tidaklah memiliki yang terbaik dari segala sesuatu. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari sesuatu. Hidup sederhana. Bertutur kata sopan. Peduli kepada yang lain. Mencintai dengan tulus. Karena, hidup ini seperti secangkir kopi.

Bagi saya, rasa kopi jelas dan pasti dipengaruhi oleh jenis cangkirnya. Meminum kopi yang sama dari cangkir plastik, cangkir aluminium, cangkir sterofoan, cangkir gelas, maupun cangkir keramik pasti memberikan cita rasa yang berbeda. Saya sendiri menyukai cangkir keramik dan cangkir gelas, yang sedikit (bahkan mungkin tidak) bereaksi dengan kopi yang panas. (Ya.. saya tidak begitu menyukai kopi dingin). Ketika di hadapan saya tersedia beberapa pilihan cangkir kopi, tentu saya akan memilih cangkir gelas atau keramik. Tujuannya tidak lain karena saya ingin menikmati kopi yang enak.

Menginginkan yang terbaik. Saya yakin semua manusia pasti menginginkan yang terbaik untuk dirinya jika ada kesempatan. Menginginkan uang yang banyak untuk membiayai hidupya, posisi di masyarakat agar bisa dihargai,ataupun pekerjaan yang dijalani untuk menghasilkan penghidupan dan kehidupan yang baik. Dan ketika semua yang terbaik sudah didapat, tentunya kualitas hidup akan meningkat.

Lalu bagaimana mengukur kualitas hidup itu? Setiap orang punya standar yang berbeda. Ketika kita mencoba melirik “cangkir” milik orang lain, bisa saja saat itu kita sedang mengukur kualitas hidup kita. Mungkin di dalam hati terbersit keinginan ingin mencoba “cangkir” yang berbeda dengan cangkir yang kita pegang. Wajar saja. Toh,manusia memang tidak pernah puas. Tidak ada yang salah dengan mengganti “cangkir” selama kita tidak merebut/mengambil “cangkir” milik orang lain.

Apakah kita akan menjadi stress dan bermasalah dengan menginginkan yang terbaik? Tentu saja. Yang terbaik itu tidak akan didapatkan dengan mudah. Selalu ada usaha untuk itu. Stress dan masalah adalah bagian dari kehidupan yang harus dinikmati.

Ketika hidup diibaratkan dengan secangkir kopi, pastikan dulu cangkir yang kau suka, lalu nikmati kopinya.

Iklan
 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 25, 2011 in entahlah...

 

Tag:

9 responses to “Karena, hidup ini seperti secangkir kopi

  1. aRuL

    Mei 25, 2011 at 11:50 pm

    “Ketika hidup diibaratkan dengan secangkir kopi, pastikan dulu cangkir yang kau suka, lalu nikmati kopinya”

    menarik kalimat yg ini.

     
  2. Imelda

    Mei 26, 2011 at 6:45 pm

    ya aku suka cerita ini, terutama karena aku dikirimi oleh bapakku Youtubenya…. pada hari ultah mama dan hari ultah perkawinannya yang ke 44 th…
    hidup memang seperti secangkir kopi

    EM

     
  3. tikeu

    Mei 28, 2011 at 9:54 pm

    agree!

     
  4. warm

    Juni 7, 2011 at 8:45 am

    bijak sekali, postingan yg keren, makasih yaa 🙂

     
  5. husna

    Juni 12, 2011 at 11:36 am

    hmmm bgus bgt

     
  6. Cie Soeciati

    Juni 29, 2011 at 5:48 pm

    oke … bangettt ….. tuk mengukur kualitas hidup .. kita memang perlu utk melirik “cangkir” yg lain …. ^_^

     
  7. Alvian Tampubolon

    Oktober 12, 2011 at 6:49 pm

    Hidup itu seperti menikmati kopi, kalau langsung diminum pasti rasanya pahit, tapi kalau kita mau sabar menunggu ampasnya sampai turun, pasti rasanya akan manis #kopitubruk…hiihihihii

     
  8. Ijul

    November 3, 2011 at 10:37 am

    Oke bunggg, menginspirasi, izin nyimak yah, heheh

     
    • desty

      November 4, 2011 at 8:11 am

      terima kasih… btw, bukan bung disini 🙂

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: