RSS

Handphone Sandungan

20 Mei

Handphone a.k.a telepon genggam. Barang yang satu ini sepertinya sudah masuk ke kelompok kebutuhan sekunder. Hampir semua orang dewasa pasti memiliki handphone, mulai dari yang model biasa-biasa saja (hanya bisa menelpon dan sms) sampai ke jenis smartphone. Dalam postingan ini, saya sendiri mengakui kalau rasa-rasanya saya tidak bisa hidup tanpa gadget yang satu itu. Dengan segala fitur yang memudahkan untuk mengakses banyak hal, handphone menjadi barang yang tidak boleh tidak dibawa kemanapun saya pergi.

Tapi, ada kalanya saya merasa jengah punya handphone. Apalagi dengan mudahnya nomor handphone yang kita miliki dimasukkan ke phonebook handphone milik orang lain. Berapa sering dari kita mengatakan hal berikut, “Eh.. minta nomor handphonenya si A dong?” atau ” Lo punya nomor handphonenya si B? Bagi dong?“.  Bahkan kita terkadang sebagai yang dimintai nomor handphone, bisa dengan gampangnya memberikan nomor itu ke orang lain. Tidak perlu minta persetujuan si empunya nomor.

Sebagai seorang dosen, mahasiswa sering meminta nomor handphone saya. Awalnya saya hanya memberikan kepada orang tertentu saja, tapi seperti cerita di atas nomor handphone saya dengan cepat tersebar diantara mahasiswa. Dan masing-masing dari mereka, yang merasa punya kepentingan bisa dengan mudahnya menghubungi saya, kapanpun dimanapun. Seringkali, ketika saya memberikan nomor handphone kepada mahasiswa saya meminta mereka untuk mengirimkan sms jika ada keperluan, tidak perlu langsung menelpon. Mungkin saja saya sedang sibuk atau memang tidak mau diganggu dengan telepon. Tapi dengan berbagai paket bicara murah meriah bahkan gratis, saya lebih sering mendapatkan panggilan telepon ketimbang pesan singkat.

Tentu saja saya tidak mungkin menyimpan semua nomor panggilan yang  masuk ke handphone saya. Dan lebih tidak mungkin menghapal semua nomor telepon itu. Saya pun tidak bisa menduga apakah panggilan yang masuk ke handphone itu penting dijawab segera atau tidak. Bagi saya, ketika seseorang melakukan panggilan via handphone berarti ada sesuatu hal yang penting dan mendesak yang harus segera disampaikan/ditanyakan. Sempat kejadian (dan seringkali) saya mengangkat panggilan di handphone karena berpikir itu penting, ndak tahunya si penelpon hanya ingin bertanya, “Bu.. besok masuk kuliah tidak?“. Padahal sudah ada jadwal yang jelas. Toh kalau saya tidak masuk mengajar, pasti saya sampaikan sebelumnya.

Belum lagi kalau si penelpon memang tidak tahu etika. Menelpon di saat jam istirahat hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting. Aduuh.. rasanya pengen matikan handphone. Tapi bagaimana kalau ada yang penting, dan saya tidak bisa dihubungi? Pernah satu hari, saya pengen ngerasain hari tanpa handphone. Handphone saya matikan. Belum sampai 24 jam, saya didatangi dan diomelin banyak orang gara-gara handphone saya tidak bisa dihubungi.

Tidak mau berlama-lama dalam serba salah itu, saya langsung memasang aplikasi blacklist di handphone saya. Jadi saya bisa mengatur kapan saya tidak mau dihubungi oleh siapapun, kecuali orang-orang tertentu. Atau semua nomor handphone yang tak terdaftar di phonebook saya tidak akan bisa menghubungi saya, kecuali dengan mengirimkan sms. Saya kan juga perlu waktu “me-time“…

Ada yang bilang, kenapa ga punya dua handphone saja? Satu untuk kerjaan, satu lagi untuk pribadi. Hehe.. saya orang yang ga mau ribet. Kemana-mana bawa dua handphone, nggak deh. Atau pakai handphone dengan fitur dual-simcard saja? Punya satu handphone saja menghidupinya udah payah apalagi dua handphone… Plus faktor M tadi. Malas.🙂

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 20, 2011 in entahlah...

 

Tag:

6 responses to “Handphone Sandungan

  1. Riza-Arief Putranto

    Mei 20, 2011 at 7:34 pm

    susah ya🙂 semua barang kan ‘pisau bermata dua’, kadang memudahkan, kadang menyulitkan. bagaimana kalo dijelaskan, ‘barang siapa mau menghubungi saya mohon sms dulu’.

     
    • desty

      Mei 20, 2011 at 8:49 pm

      sudah, Mon. Tapi ya tetap aja nelpon. alasannya macam-macam. Mulai dari males ngetik sms atau “nelpon kan lebih murah..”

       
  2. aRuL

    Mei 20, 2011 at 9:56 pm

    hal pertama yg saya tanyakan dari no yg ngak ada di HP adalah nama dan ada kepentingan apa, kalo tidak jelas matikan😀 hhe

     
  3. Ikkyu_san

    Mei 21, 2011 at 5:29 am

    di Jepang orang tidak boleh memberikan nomor orang lain tanpa persetujuan. Misal si A tanya nomor B, maka saya akan tanya ke B, “Eh si A mau tanya nomor kamu nih, boleh kasih tahu? Atau kamu telpon dia aja, nomornya bla-bla bla”. Jadi saya tidak akan dimarahi jika terjadi apa-apa. Dan biasanya di sini drpd memberitahukan nomor telepon, lebih umum memberikan alamat email HP (di sini tidak ada PIN BB atau sms).

    Kami di sini tidak bisa mengangkat HP jika sedang berada dalam kendaraan umum (dilarang bicara dlm kereta) sehingga email adalah jalan yg paling aman utk tetap bisa berkomunikasi.

    EM

     
  4. desty

    Mei 21, 2011 at 7:20 am

    maunya begitu mbak..🙂 salam lenal. Mbak dosen apa?

     
    • Imelda

      Mei 21, 2011 at 5:29 pm

      aku ngajar bahasa Indonesia di Tokyo. Berkunjung ke sini dari blognya si itik kecil nih😀

      EM

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: