RSS

Novelworm

15 Okt

Saya baru menyadari, ketika saya sedang suntuk-suntuknya dengan pekerjaan, maka pelarian saya adalah membeli buku. Eh, tepatnya membeli novel. Koleksi novel-novel saya sudah lumayan banyak, sampai suami saya sendiri heran setiap kali saya mengajukan “proposal” untuk membeli buku.

“Novel lagi??”, bisa dipastikan itu yang akan dia bilang dan saya akan menjawab dengan senyum, ” Sudah terlambat, hon..untuk menyesal..”

Saya bahkan pernah meminta “dana kesepian” dari suami sebesar Rp. 100.000,- per bulan untuk membeli buku 😀

Kalau dihitung sejak kuliah, entah sudah berapa banyak novel yang saya miliki. Dan buku-buku ini yang selalu menjadi “masalah” setiap kali saya berpindah tempat hidup. Terakhir waktu pindah dari Bogor, saya “merelakan” beberapa koleksi saya berpindah tangan ke teman-teman dan juga disumbangkan ke Timor-Timur.

Kenapa saya memilih novel? Sebenarnya saya juga suka membaca jenis lainnya, tapi paling suka dengan novel. Segala genre novel bisa saya nikmati. Bagi saya, novel itu punya banyak manfaat sekaligus yang bisa diambil dalam sekali membaca.

Manfaat pertama, tentu sisi entertainment-nya. Novel itu bisa  menghibur pastinya. Sama halnya dengan saat menonton suatu film, saya akan menempatkan diri sebagai tokoh utama agar bisa memahami jalan ceritanya. mengapa menghibur? Membayangkan diri saya sebagai seseorang yang lain tanpa perlu menjadi “lain” bisa mengalihkan pikiran saya dari rutinitas yang saya alami dalam kehidupan nyata. Saya bisa jadi seorang fashionista saat membaca novel chicklit, atau bisa menjadi seorang psikolog ketika membaca novelnya Jodi Picoult. Bahkan bisa menjadi pengacara waktu membaca novelnya Sidney Sheldon.

Manfaat kedua, pelajarannya. Masih berkaitan dengan manfaat pertama, saya bisa mendapatkan pelajaran dari setiap novel yang saya baca. Baru-baru ini saya membaca novel berjudul divortiare karya Ika Natassa.  Ceritanya tentang bagaimana seorang wanita berusia twenty-something yang harus mengalami perceraian akibat egonya terhadap pekerjaan. Yang saya dapatkan dari novel itu adalah setinggi apapun karier yang kamu capai, tapi kalo komunikasimu dengan suami tidak beres, yah keluargamu bisa jadi korbannya. Cheesy but absolutely true!

Ketiga, belajar bahasa dan budaya lebih mudah dengan membaca novel. Sudah bukan hal yang aneh jika dalam sebuah novel berbahasa Indonesia terselip istilah-istilah dalam bahasa asing. Ketimbang buka kamus, bukankah lebih menyenangkan buka novel? Atau saya mengenal budaya suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi ketika membaca novel. Budaya Timor, misalnya, saya peroleh dari novelnya Sepatumerah, Istoria da Paz. Atau tentang Kupang, saat membaca Cinta -nya Ollie.

Kebetulan, kakak dan adikku juga senang membaca (novel). Biasanya kami saling berbagi dalam membeli novel. Tapi tetap saja, kuantitas novel saya lebih banyak…hehe. Kendala yang saya jumpai, di Palopo belum ada toko buku yang senyaman dan selengkap Gramedia. Biasanya saya membeli buku secara online di kutukutubuku atau di bukukita. Hanya ongkos kirimnya itu yang ga nguatin…hehe

Ohya, obsesi saya adalah punya sebuah ruangan di rumah mungil saya nantinya yang penuh dengan buku. Semacam perpustakaan pribadi. Sewaktu diminta membayangkan tempat yang paling nyaman buat saya ketika dihipnotis dulu, saya membayangkan sebuah ruangan berdinding kayu, dengan rak-rak penuh buku dan sebuah sofa empuk di sana. Hehe.. sound comfortable, isn’t it?

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 15, 2010 in lihat..baca..dengar

 

Tag: ,

8 responses to “Novelworm

  1. win

    Oktober 15, 2010 at 8:42 pm

    Salam kenal Mbak..
    Ada saran judul-judul novel yang bagus yang pernah mbak baca??Aku sedang semangat-semangatnya kembali menumbuhkan minat baca yang hilang.. 🙂
    Terima kasih

     
  2. jarwadi

    Oktober 16, 2010 at 9:24 am

    saya juga suka membaca novel, paling tidak membaca novel pinjaman, hehehe

    salam

     
  3. devieriana

    Oktober 19, 2010 at 1:23 pm

    hei kok kita sama ya, aku juga sukanya baca novel. Kadang kita bisa dapet ilmu apa aja lho dari situ, padahal kesannya aja “ah cuma novel”. Tapi kita justru bisa dapat beberapa nilai dan bahan postingan blog dari hasil membaca novel :mrgreen:

     
    • desty

      Oktober 19, 2010 at 6:51 pm

      sangat setuju !! 🙂

       
  4. Ceritaeka

    November 19, 2010 at 5:24 pm

    I’m a novel freak!!!
    TOS jeung 🙂

     
  5. kendis

    Desember 23, 2010 at 2:59 pm

    saya juga penggemar novel,,sekarang masih terobsesi ma novel barunya okke sepatu merah yang judulnya ” Lajang dan nikah,sama enaknya, sama ribetnya” yang sampai sekarang belum nemu..hiks,,,

     
  6. kendis

    Desember 23, 2010 at 2:59 pm

    saya juga penggemar novel,,sekarang masih terobsesi ma novel barunya okke sepatu merah yang judulnya ” Lajang dan nikah,sama enaknya, sama ribetnya” yang sampai sekarang belum nemu..hiks,,,
    btw, tinggal di palopo ya?

     
    • desty

      Desember 23, 2010 at 6:53 pm

      iya… tinggal di Palopo. Coba hubungi langsung penulisnya.. siapa tahu masih ada sama mereka

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: