RSS

[ter]hipnotis

19 Sep

Salah satu tindakan nekat yang pernah saya lakukan adalah merelakan diri dihipnotis di depan banyak orang. Yang pasti bukan kayak acaranya Uya Kuya yang membuka aib orang di depan umum itu. Jadi ceritanya di kampus diadakan workshop mengenai Metode Pembelajaran Inovatif. Tujuan workshop ini adalah bagaimana biar dosen-dosen di kampus tempat saya mengajar bisa lebih berinovasi dalam mengajar, sehingga proses belajar di kelas lebih baik. Kalau selama ini mengajar hanya menggunakan metode ceramah dan diskusi, dalam workshop ini disajikan kiat-kiat mengajar yang lebih inovatif.

Salah satu pembicaranya memaparkan bahwa dalam mengajar, kita bisa melakukan metode unconscious mind atau bahasa populernya hipnotis. Jadi peserta didik yang akan kita ajar bisa kita hipnotis terlebih dahulu sebelum menerima pelajaran. Sebenarnya lebih ke arah memberikan sugesti kepada peserta didik supaya lebih siap dalam belajar. Karena pola pikir manusia sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh pikiran bawah sadarnya (88%) ketimbang pikiran sadarnya (12%). Untuk merangsang pikiran bawah sadar itu, digunakanlah bahasa imajinatif yang bersifat positif. Misalnya

” Semakin anda belajar, semakin anda bisa menguasai mata kuliah ini”

bukan dengan kalimat

” Jangan malas belajar !”

Sebab konon katanya manusia itu semakin dilarang maka semakin ingin dilakukan. Jadi kalau dilarang malas, maka pikiran bawah sadarnya akan memicu dirinya untuk malas belajar.

Itu teorinya.

Nah, untuk simulasinya pembicara itu meminta kesediaan peserta yang ikhlas dihipnotis. Otomatis saya mengangkat tangan. Soalnya saya memang penasaran banget gimana sih rasanya dihipnotis. Mumpung ada kesempatan, sayang untuk dilewatkan. Jadilah saya dengan dua orang peserta lainnya maju untuk jadi “korban”.

Pertama, kita disuruh narik nafas panjang, rileks, menutup mata, dan mengangkat satu tangan ke depan. Pembicaranya lalu mulai memberikan sugesti dengan mengatakan bahwa di tangan kami diikatkan balon gas yang ringan. Semakin banyak balon gas yang digantung semakin ringan rasanya tangan kami. Terus terang, waktu itu saya kesulitan berimajinasi tentang balon gas di tangan.  Saya sulit sekali berkonsentrasi, mungkin karena saya takut. Saya malah lebih jelas mendengar detak jantung saya daripada sugesti dari pembicara tadi. Hingga akhirnya ketika pembicara mengatakan bahwa balonnya sudah dilepaskan dan tangan kami jatuh ke bawah, tangan saya tetap saja terangkat ke depan. Semua peserta lain yang melihatnya tertawa. Saya menyimpulkan bahwa saya tidak berhasil terhipnotis.

Pembicaranya masih penasaran. Akhirnya saya dihipnotis sendirian. Saya disuruh menutup mata, rileks, semakin rileks, dan semakin rileks. Di sini kerasa badan saya ringan. Lalu pembicara memberikan sugesti, bahwa ketika saya mendengar sebuah suara yang memanggil nama saya (seorang penonton memanggil nama saya), saya akan tertawa terbahak-bahak karena saya menganggap suara itu lucu seperti Donald Bebek. Itu sugestinya.

Saya dibangunkan. Satu per satu penonton diminta memanggil nama saya. Saya diam dan melihat saja ke arah mereka sambil tersenyum. Kemudian seorang bapak memanggil nama saya, dan saat itu senyum saya berubah menjadi tawa biasa (tidak terbahak-bahak). Hal tersebut diulang lagi, peserta lain memanggil saya dan saya hanya tersenyum, tetapi ketika bapak itu memanggil saya, saya langsung tertawa. Rasanya aneh, seperti otomatis saja, suara itu terasa lucu di telinga saya. Selanjutnya saya disuruh menutup mata lagi dan diberikan sugesti bahwa ketika saya mendengar suara yang sama saya akan bersikap normal saja. Dalam hitungan ketiga saya membuka mata, dan ketika bapak yang sama itu memanggil saya saya hanya tersenyum padanya seperti biasa.

Sampai di sini pembicara itu bilang bahwa saya sudah terhipnotis dengan sugesti kalimat imajinatif yang diberikan pada pikiran bawah sadar saya. Tapi yang membuat saya bingung, kenapa kejadian itu masih saya ingat sedetail-detailnya? Kalau mendengar cerita orang-orang yang pernah terhipnotis, ketika mereka dihipnotis dan sadar kembali mereka tidak mengingat kejadian selama dihipnotis itu. Jadi sebenarnya saya tidak terhipnotis, bukan?

Saking penasarannya, saya bertanya kepada pembicara itu. Menurut beliau, terkadang kita memang menyadari kalau kita diberikan sugesti. Bahkan merasa tidak jatuh dalam pengaruh hipnotis (tidak ada perbedaan). Rasanya masih sadar saat sugesti itu diberikan, tetapi sebenarnya sugesti itu sudah tertanam di dalam pikiran bawah sadar kita.

Jadi tambah bingunglah saya…😀

Anyway, saya percaya jika kita memberikan sugesti berupa  kalimat positif kepada seseorang, kita bisa saja mempengaruhi orang tersebut, apalagi jika dilakukan berulang-ulang. Info tambahan dari pembicara itu, bahwa pada usia anak-anak (sampai dengan 7 tahun) pikiran bawah sadar lebih dominan dibandingkan pikiran sadarnya. Di sinilah waktu emas untuk membentuk watak anak-anak. Kurangi pemakaian kata “jangan” atau “tidak boleh”, sebaliknya berikan kalimat yang positif dan membangun.

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2010 in lihat..baca..dengar

 

Tag: , , ,

8 responses to “[ter]hipnotis

  1. aRuL

    September 19, 2010 at 7:22 pm

    sip.. info yg bermanfaat nih, coba2 ah belajar menghipnotis juga😀 hihihi

     
  2. devieriana

    September 20, 2010 at 9:39 am

    Sama, aku juga yang pas adegan balon itu juga diem aja:mrgreen:, nggak tambah tinggi atau tambah rendah tangannya, tetep disitu aja posisinya. Temen aku bisa nurut banget & ekspresif pas dihipnotis😆

    Paragraf penutupnya tips yang bagus banget jeng. Bakal dicatet😉

     
  3. warm

    September 23, 2010 at 6:33 am

    duh, saya ga berani dihipnotis gitu, apalagi di depan publik
    bisa2 semua rahasia saya meluncur dengan derasnya hingga menghancurkan dunia *halah*

    dan tapi, sepertinya, saya memang perlu dihipnotis juga nih, males masaih merajalela hehe, pembelajarannya ok banget

     
  4. Remaja Helda

    September 24, 2010 at 2:36 am

    Waa.. Di sini lebih detil disebutkan kenapa ngga boleh pake kata “jangan” especially ke anak-anak ya, Bu.
    Saya juga pernah dengar tentang ituh. Waktu ituh nalar saya begini (mungkin pada dasarnya hampir mirip dengan soal sugesti yg Ibu ceritain, maap inih otak sayah masih pentium agak sulit memahami. hehe): kalu anak diberi tahu dengan memakai kata “jangan”, misal jangan berantem. Yang cenderung didengarnya adalah “berantem”-nya, karena dia mendengar kata yg ituh. Makanya, lebih baik mengucapkan kata yg baik saja.

     
  5. nadiafriza

    September 25, 2010 at 2:09 am

    wow🙂 kalau saya gak bakal mau maju deh, daripada bakal “dipermalukan” seperti itu hehe

     
  6. r10

    September 29, 2010 at 10:06 am

    hipnotis itu berbahaya.. krn dapat disalahgunakan oleh orang yg menghipnotis

     
  7. dadan

    Oktober 19, 2010 at 12:00 pm

    klo dpet hurf N yosan bkal terhipnotis gk???

    http://dadanpurnama.blogspot.com/2010/03/dapat-huruf-n-yosan.html

     
  8. ifah syarifah nur

    Januari 31, 2011 at 11:11 pm

    good info 4 me

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: