RSS

dari Palembang menuju ke Bali

21 Mar

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, kalau saya siap-siap mau ke Palembang untuk menghadiri acara pernikahan kakak ipar, dan menjenguk keponakan dan bapatua di Jakarta. Tapi yang membuat perjalanan kali ini istimewa adalah tempat tujuan terakhir yaitu Bali. Okey, silahkan nyebut saya udik, karena udah segede ini barulah ada kesempatan mengunjungi ikon wisata Indonesia itu. Dan karena ke sana hanya berdua dengan suami, anggap saja ini perjalanan honeymoon yang ke sekian.

Sempat ribet juga acara siap-siapnya, mulai dari mengatur ulang jadwal kuliah, nyari pakaian sesuai dresscode untuk suami dan saya, packing, sampai menghubungi saudara yang tinggal di Bali untuk mencarikan penginapan. Belum juga mengatur rencana perjalanan yang mencakup Indonesia bagian barat sampai Indonesia bagian Timur.

Untuk menghemat biaya, saya dan suami janjian bertemu di Makassar. Suami dari Kaimana, tiba sehari sebelumnya di Makassar pada tanggal 9 Maret, sementara saya baru berangkat dari Palopo malam harinya. Besoknya, tanggal 10 Maret, setelah numpang mandi di hotel tempat suami menginap di Makassar, kami langsung ke bandara Internasional Hasanuddin untuk penerbangan ke Jakarta dan selanjutnya ke Palembang. Penerbangan ke Jakarta lumayan mulus, tapi waktu menuju Palembang sempat mengalami turbulensi udara. Penumpang panik karena pesawat rasanya mau jatuh, tapi pramugari atau pilotnya tidak ada yang meminta maaf atas ketidaknyamanan penerbangan. “Yah.. mau murah minta selamat..”, kata suami saya bercanda. Ohya, kami menggunakan maskapai penebangan berlambang singa itu.

Di Palembang, kami dijemput oleh bapak mertua, adik ipar, dan seorang keponakan. Nah, keponakan yang bernama Princess Zoena ini, menjadi idola keluarga besar suami. Maklumlah, masih cucu satu-satunya. Anaknya lucu, sangat responsif terhadap musik yang nge-beat dan kamera, padahal umurnya baru setahun. Kami menginap di Hotel Malaka, di daerah Kenten. Tempatnya bersih dan tenang, pegawai hotelnya ramah, dan harganya (lagi-lagi) terjangkau. Semalam untuk kamar deluxe hanya Rp. 200.000,- dengan fasilitas double bed, AC, televisi, sarapan pagi, dan air mineral setiap hari.

Karena acara utama adalah pernikahan kakak ipar, jadi acara jalan-jalannya nggak memuaskan. Kami hanya sempat mengunjungi Benteng Kuto Besak sebentar (yah..cukuplah waktunya untuk foto-foto dengan latar belakang Jembatan Ampera di malam hari). Saya bahkan tidak sempat mencicipi duku dan  pempek khas palembang. Dan yang paling menyedihkan tidak sempat kopdar dengan mbak Ira (itikkecil).

Tanggal 13 Maret sore, kami terbang lagi ke Jakarta, masih menggunakan maskapai penerbangan yang sama (lha itu yang paling murah terjangkau soalnya). Kali ini penerbangannya smooth, ga ada turbulensi lagi. Saya bahkan tertidur selama perjalanan sampai ke Jakarta. Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, kami langsung ke Cibubur, ke rumah saudara sepupu suami saya, Mas Jarwo. Di sana, kami mengejutkan dua keponakan, Minerva dan Khrisna, yang tidak menyangka kami akan datang. Kedua anak kecil itu tidak berhenti bercerita, sampai bapaknya menyuruh mereka berdua tidur karena besok pagi harus ke gereja. Paginya kami semua gereja di GKI Pondok Indah yang besar dan bagus itu. Apalagi pagi itu pianis dan keyboardistnya cakep dan segar. Tambah semangat deh ibadahnya..hehe. Pulang gereja, kami makan siang di Hanamasa Cibubur, dan sorenya berangkat ke Cikini untuk menjenguk bapatua (om-nya suami) yang sedang dirawat karena stroke. Kami memutuskan untuk menginap di tempat bapatua malam itu, karena besoknya akan mengantar bapatua menjalani fisioterapi di Rumah Sakit PGI Cikini.

Setelah mengantar bapatua ke rumah sakit, kami bertolak langsung ke Bandara Soekarno Hatta untuk penerbangan berikutnya ke Bali. Rencana ke Bali ini sengaja tidak kami ceritakan ke banyak orang. Ternyata mas Jarwo sekeluarga juga akan ke Bali, pada hari dan jam yang sama, tetapi menggunakan maskapai yang berbeda. Kedua keponakan itu kembali terkejut ketika kami bertemu kembali di Bandara Ngurah Rai, Bali. Tetapi kami harus berpisah lagi, karena mereka menginap di Kuta, sementara kami menginap di Sanur.  Kenapa di Sanur?

(To be continued…)

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2010 in jalan-jalan, tentang kita

 

Tag: , , , ,

3 responses to “dari Palembang menuju ke Bali

  1. tink

    Maret 22, 2010 at 3:25 am

    bapatua tu yang datang ke palopo kah????

     
  2. catering di denpasar bali

    Oktober 27, 2012 at 3:21 pm

    Keren nih tulisannya, keep posting ya…
    Sudah Coba Empat Tempat Makan Unik Di Bali
    Klik http://goo.gl/ZGcfU

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: