RSS

dari Bedugul ke Uluwatu

21 Mar

Sebelumnya : Setelah menghadiri acara pernikahan kakak ipar di Palembang dan mengunjungi bapatua di Jakarta, tibalah pada tujuan perjalanan yang utama, Bali.  Kami memilih penginapan di daerah Sanur. Kenapa di Sanur?

Ini rekomendasi dari saudara. Alasannya, di Sanur ga seramai di Kuta, cocoklah buat bulan madu. Kami menginap di Agung and Sue (Watering Hole) Homestay, sebuah penginapan dengan arsitektur khas Bali, yang jaraknya hanya 10 meter dari pantai Sanur (jadi kalau mau ke pantai Sanur tidak usah membayar lagi).

Berhubung besoknya adalah Hari Raya Nyepi, malam itu ada pawai ogoh-ogoh. Kayaknya semua warga tumpah ke jalan menyaksikan arak-arakan patung simbol kejahatan dalam berbagai rupa. Yang nggak enaknya, hampir semua tempat makan tutup dan ada beberapa ruas jalan yang ditutup. Pihak penginapan juga tidak bisa menyediakan makan malam. Untungnya, kami menemukan sebuah rumah makan padang yang masih buka tidak jauh dari penginapan. Tidak lama setelah kami makan, tempat itu kemudian diserbu banyak orang yang pastinya juga kelaparan.

Hari Raya Nyepi. Benar-benar sepi. Tidak ada kendaraan lalu-lalang, tidak ada siaran televisi atau radio, bahkan orang-orang pun tidak ada yang lalu lalang. Para turis dihimbau untuk tetap berada di hotel masing-masing. Hanya beberapa pecalang yang terlihat di jalan. Kami yang tidak terbiasa dengan suasana sepi, keadaan itu jadi sedikit membosankan. Seharian di kamar, ditemani sebuah laptop dan koneksi internet yang putus nyambung dan beberapa buku bacaan. Makanan tamu penginapan khusus hari itu disiapkan oleh pemilik penginapan dan diantarkan ke kamar.  Malam harinya, kami pun ikut tidak menyalakan lampu. Menurut pemilik penginapan, sebenarnya tamu boleh menyalakan lampu. Hanya saja kami memilih untuk menghormati adat istiadat di tempat itu. Nyepi di malam hari lebih menyenangkan. Kami mendapatkan kesempatan langka melihat langit dengan jutaan bintang. So beautiful!  Sayangnya langit yang indah itu tidak bisa difoto oleh kamera saku biasa.

Besoknya, berbekal Google Map di hape dan papan petunjuk jalan, kami memulai petualangan di Bali. Saran kami, menyewa sepeda motor jauh lebih praktis, cepat, menyenangkan daripada harus menyewa mobil atau ikut rombongan tour.  Sewa untuk sebuah sepeda motor hanya Rp 50.000 sehari. Tujuan pertama adalah Tanah Lot. Walaupun banyak yang bilang di Tanah Lot sebaiknya sore saja, karena sunsetnya indah, tapi kami memilih tempat itu sebagai tujuan pertama. Tidak menyesal, karena saat kami tiba di sana belum banyak orang, jadi bisa menikmati keindahan tempat itu lebih baik.

Dari Tanah Lot, tujuan berikutnya adalah Bedugul. Pengen lihat Pura Ulun Danu dengan danau dan suasana pegunungannya. Dari Bedugul, mampir sebentar di Jalan Legian (Monumen Bom Bali I) dan menyusuri pantai Kuta. Karena ramai, kami tidak singgah di Pantai Kuta. Begitu juga dengan pantai Jimbaran (yang merupakan lanjutan dari Pantai Kuta). Kami langsung lanjut ke Uluwatu tapi bukan Pura Uluwatu, soalnya suami ga mau berurusan dengan monyet-monyet yang suka merampas kacamata (jadinya semua objek wisata yang ada monyetnya di-skip dari daftar). Kami pergi ke Pantai Uluwatu a.k.a Pantai Suluban (sebelum masuk area parkir Pura Uluwatu, langsung belok kanan. Ada papan petunjuknya). Tempat ini belum begitu terkenal di antara turis domestik. Namun, banyak turis mancanegara yang memilih pantai ini sebagai tempat berselancar. Ombaknya tinggi dan pantainya masih virgin. Saya bisa bilang inilah pantai terindah di Bali. Dari atas tebing, kita bisa melihat koral-koral karena airnya jernih. Untuk ke pantai harus menuruni tangga sejauh 100 meter. Karena sepi, jangan heran kalau ada turis yang memilih untuk berenang naked di sini. Sayangnya kami tidak membawa baju ganti, jadi tidak bisa menikmati berenang di pantai itu. Ohya, kalau mau ke pantai ini jangan lupa bawa alat snorkeling.

Dari Pantai Suluban kami ke Garuda Wisnu Kencana Cultural Park. Sempat mencicipi air abadi di sana yang katanya bisa membawa berkah bagi yang berdoa dan meminum air itu. Konon, ada yang bertahun-tahun tidak mendapatkan keturunan jadi bisa punya anak karena minum air itu. Yah semoga itu terjadi juga sama saya. Tidak ada salahnya mencoba kan? Yang menarik di cultural park ini adalah tebing-tebingnya itu. Patungnya sih biasa saja, toh belum jadi juga. Dari GWK kami langsung pulang ke Sanur.

Tiba di penginapan, badan rasanya udah remuk dan kulit kakiku perih. Rupanya kulit kakiku merah terbakar karena lupa pakai sunblock dan hanya bercelana pendek saja. Kami sempat ngobrol sebentar dengan pemilik penginapan saat mengambil kunci kamar.

Ibu penginapan : “Habis jalan-jalan ya… dari mana tadi?”

Suami                    : “ Dari Tanah Lot ke Bedugul, bu.”

Ibu penginapan: “Ha?? Jauhnya… naik motor kan? Habis itu ke mana lagi?”

Suami                    :” Ke Uluwatu, bu”

Ibu penginapan: “ Haaa???”

Setelah melihat kembali di peta, wajarlah si ibu kaget. Perjalanan kami rupanya melintasi 2/3 pulau Bali dari utara ke selatan. Pantesan badan remuk dan kulit terbakar.

Hari kedua, kami hanya ke Ubud. Penasaran dengan Bebek Bengil yang terkenal itu. Bebek crispy-nya lumayan enak, tapi sambelnya nggak nendang. Dari Ubud, lanjut ke Pasar Badung dan Pasar Kumbasari di Denpasar untuk mencari titipan oleh-oleh. Saran kami (lagi), daripada jauh-jauh ke pasar Sukawati di Gianyar, mending ke pasar Kumbasari saja. Harganya sama, yang penting bisa nawar. Habis belanja, kami menyempatkan mengunjungi saudara sepupu yang tinggal di daerah Jimbaran. Tidak banyak yang dilakukan di hari kedua ini. Sampai di penginapan, baru nyadar kalo belum beli souvenir apa-apa buat diri sendiri. Tidak apa-apalah, jadi ada alasan kan buat kembali ke Bali?

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 21, 2010 in jalan-jalan, tentang kita

 

Tag: , ,

8 responses to “dari Bedugul ke Uluwatu

  1. dila

    Maret 21, 2010 at 11:34 pm

    wow seharian langsung jelajah bedugul sampai ke uluwatu….ckckckck
    waktu di bali dulu sy habis di transpor gara2 gak bisa bawa motor kak echy hehehe
    nice foto….
    tripod did works…(^^,)b
    yg di palembang dunk kak echy….sy blom pernah ke palembang soalnya hehehehe

     
  2. life choice

    Maret 22, 2010 at 5:31 am

    wah, seru banget sepertinyaaaa.. ^^
    btw, apa kabar? lama ga berkunjung kemarii.. 🙂

     
  3. v esti windiastri

    Maret 22, 2010 at 11:01 am

    ya ampyun mb desty!!!
    aku aja yang cuman naek bus tinggal duduk dan monyong merasa capek koq…
    ckckckckck
    tp kayanya pantai Suluban aku belum pernah deh
    besok deh kalo ke bali lagi, pas honey moon
    hahahahhahahahhahaha (kapan yaaa???)

     
  4. venus

    Maret 25, 2010 at 12:38 am

    uuuuh bikin sirik aja. ke palembang, ke bali. eh tapi aku jg mau jalan2 sama si twintah bentar lagi. ke jogja, bali, thailand (dua yg terakhir masih lama kayaknya, hihihi…)

     
  5. hanif IM

    Maret 25, 2010 at 10:33 am

    bali begitu Indah ya? pantes aja gak wisatawan dalam negeri gak luar negeri lebih senang kesana.

     
    • desty

      Maret 25, 2010 at 10:52 pm

      @dila : yg palembang ada di cerita satunya, tapi ga banyak juga..soalnya emang ga sempat jalan2 di palembang

      @esti : hehe, lo capek monyongnya kali, es…

      @venus : next trip juga jogja. suamiku belum pernah ke jogja. dia harus lihat my 2nd hometown

      @hanif : indah? yah..beberapa tempat sih. yang pasti pemerintah Bali sangat perhatian sama sektor pariwisatanya. di setiap objek wisata ga ada sampah yg berserakan.

       
  6. kayu jabon

    Maret 11, 2011 at 5:05 pm

    waduh.. enak tuch yang nikahan.. hehe

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: