RSS

Jangan Terbiasa

21 Feb

Dua tahun lamanya saya menjalani Long Distance Relationship (LDR), terhitung sejak pacaran hingga menikah. Dulu semuanya terasa berat, sekarang pun masih, tetapi tidak lagi seberat awalnya. Mungkin karena sudah terbiasa. Ternyata setelah dijalani, saya masih bisa bertahan.

Tapi faktor “terbiasa” ini yang sebenarnya paling saya takuti dalam menjalani hubungan jarak jauh. Karena faktor “terbiasa” ini bisa menjadi jebakan seperti bumerang. Terbiasa sendiri, terbiasa tidak bertemu, dan terbiasa-terbiasa lainnya.

Salah satu hal terbiasa yang saya alami dan telah menjadi bumerang bagi saya adalah ngobrol setiap malam bersamanya via henpon. Jadwal ngobrol ini biasanya kami lakukan menjelang tidur, sekalian berdoa bersama. Yang kami obrolkan macam-macam, tapi yang sering tentu saja apa yang sudah kami lakukan siang tadi. Durasi menelpon paling sebentar 40 menit. Jangan ditanya biaya pulsa yang habis setiap bulannya.

Di awal LDR, nelpon tiap malam ibarat kebutuhan pokok. Kalau tidak menelpon, rasanya seperti ada yang hilang. Biasanya saya yang lebih banyak berbicara (konon, ada penelitian dimana perempuan memang lebih banyak menggunakan kata-kata dibanding lelaki). Tapi, akhir-akhir ini isi percakapan kami menurun walaupun durasinya tetap sama. Terkadang saya diam sambil internetan atau membaca, dia pun hanya bersenandung sambil utak-atik henponnya. Pulsa jadi mubazir, tapi kalau hubungan telpon diputuskan rasanya tidak tega. Tidak menelponnya sehari rasanya sama dengan mengkhianati dirinya.

Kalau hubungan non-LDR, saat mulut tidak lagi berbicara maka bahasa tubuh yang mengambil alih. Tentu saja kami tidak bisa melihat apalagi merasakan bahasa tubuh dari jarak jauh. Bukannya kami tidak menyadari degradasi percakapan itu, karena suatu waktu suamiku pernah bertanya mengapa saya jadi tidak banyak bicara. Waktu itu saya menjawab, entahlah rasanya tidak ada yang bisa dibicarakan.

Terbiasa ngobrol setiap malam inilah yang membuat saya menjadi terjebak dalam suatu rutinitas yang kualitasnya menurun. Mungkin benar jika ada yang mengatakan ketika kuantitas meningkat kualitas dapat menurun. Tapi saya tidak mau mencoba untuk mengurangi kuantitas, karena nantinya saya akan terbiasa pada hal yang baru, terbiasa tidak berbicara dengannya. And I don’t let it happen.

Hingga suatu saat, dia ditugaskan ke suatu tempat yang tidak dijangkau sinyal selama seminggu lebih. Empat hari pertama, saya merasa biasa saja. Saya mencari-cari rasa kehilangan karena tidak mendengar suaranya, dan saya menjadi takut ketika saya jujur pada diri sendiri bahwa saya tidak merasakannya. Segala upaya saya lakukan, mengirimkan pesan-pesan singkat lewat jejaring sosial, melihat foto-fotonya, mendengar lagu yang biasanya mengingatkan saya padanya. Saya nyaris putus asa, ketika di hari kelima tiba-tiba rasa itu datang dengan sendirinya. Menyerbu sedemikian kuatnya sampai saya menangis karena rasa rindu yang seperti mengiris-iris hati. Dan lebih sakitnya lagi karena saya (masih) tidak bisa menghubungi dia untuk mendengar suaranya. Tapi saya lega. Sangat lega karena saya bebas dari jebakan faktor terbiasa tadi.

Love will find you. Pepatah itu bekerja dalam berbagai cara. Bagi saya, ketika saya nyaris kehilangan dia datang menemui saya dengan sendirinya. All you need is faith to believe that love is always around you. Cinta juga harus diusahakan. Jangan membuatnya menjadi cinta yang terbiasa.

And you, get home soon darling… Missing you badly.

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 21, 2010 in tentang kita

 

Tag: , ,

8 responses to “Jangan Terbiasa

  1. venus

    Februari 21, 2010 at 11:48 pm

    love will find you 🙂

    mudah2an cepet berakhir LDR-nya ya des, supaya gak kuatir lagi, supaya kalian bisa berdoa bersama setiap malam menjelang tidur, dan dia menjadi yang pertama kamu lihat dan pandangi setiap pagi *hugs*

     
  2. christin

    Februari 22, 2010 at 6:18 am

    aaaaarrrrggghhhhh :(( aku benci LDR

     
  3. aRuL

    Februari 22, 2010 at 6:24 am

    berat juga LDR, tapi org yg bisa menjalaninya orang hebat, salut kak… 🙂

     
  4. desty

    Februari 22, 2010 at 10:07 am

    @venus : *hugs* tengkyu mbok..

    @christin : I hate it too, but sometimes we don’t have a choice

    @arul : udah pernah ngalami LDR, rul?

     
  5. elia|bintang

    Februari 25, 2010 at 1:45 am

    ini baru tulisan cinta yang dewasa 🙂

     
  6. Mas Ben

    Februari 25, 2010 at 4:15 am

    Betul cinta itu seperti page rank, harus diupayakan untuk mendapat piint banyak. Kalau didiamkan saja sebagaimana air mengalir yang surut deh, kembali ke 0 seperti page rank 🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

     
  7. fisto

    Februari 26, 2010 at 1:11 am

    mudah2an cepet selesai LDR-nya….anggap aja sebagai ujian supaya naik kelas… 🙂

     
  8. omeng

    Maret 3, 2010 at 2:51 am

    yg penting LDRnya jgn kelamaan…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: