RSS

Anak Jaman Sekarang

12 Feb

kids

Kalau mamaku lagi ngumpul bersama sesama orang tua, dan membicarakan soal anak-anak mereka, biasanya kalimat seperti berikut ini terucapkan oleh salah satu dari mereka.

“Anak jaman sekarang itu nggak kayak kita dulu waktu kecil. Dulu, kita lebih sering di rumah, bantu orang tua. Ada saja yang bisa dikerjakan. Dari kecil sudah bisa masak. Trus tidak pernah melawan orang tua. Anak sekarang jarang di rumah, ndak les-lah.. main ke rumah temannya lah.. kalau di rumah, di kamar aja main komputer. Ngerjain tugas katanya. Jangankan masak, cuci piring saja tidak tahu..”

Dan yang lain mengiyakan sambil menganggukkan kepala. Saya yang dengar itu senyum-senyum saja. Untung saya bukan produk jaman sekarang, soalnya saya bisa kok cuci piring.🙂

Seorang teman berpendapat bahwa tantangan orangtua sekarang memang lebih berat. Di jaman teknologi yang semakin mudah didapatkan, dan banyaknya kegiatan anak di luar rumah menimbulkan kekuatiran tersendiri. Apalagi ada kejadian yang menuduh facebook menyebabkan anak melarikan diri.

Saya belum menjadi orangtua, sehingga mungkin saya belum merasakan kekuatiran seperti itu. Saya teringat dengan obrolan bersama seorang tante saya mengenai pendidikan moral anak. Obrolan itu kira-kira sebelum saya menikah. Tante itu menasehati saya bahwa pendidkan moral bagi anak harus dilakukan sejak dini. Tante saya juga mengingatkan saya agar nantinya lebih memperhatikan anak-anak, walaupun masih bekerja. Kalau perlu, kata tante, berhenti saja bekerja demi anak.

Seringkali orangtua tanpa sadar memberikan tanggung jawab kepada pihak ketiga untuk memberikan pendidikan moral bagi anak, seperti sekolah atau rumah ibadah. Tante saya mengambil contoh misalnya di agama kami, anak-anak biasanya harus ikut Sekolah Minggu setiap hari Minggu, sementara orangtuanya beribadah dalam gereja. Beberapa orang tua menganggap pelajaran dan binaan moral di Sekolah Minggu sudah cukup. Apalagi di sekolah diajar juga budi pekerti, pendidikan moral dan kewarganegaraan.

Berapa lama sih anak belajar di Sekolah Minggu? Efektifnya paling lama 1 jam. Lebih dari itu, anak-anak sudah bosan dan tidak memperhatikan lagi. Bandingkan dengan 7 X 24 jam waktu anak sampai datang lagi di Sekolah Minggu. Sangat tidak sebanding. Pelajaran budi pekerti atau pendidikan kewarganegaraan juga kurang lebih sama lah bandingannya. Belum lagi kalau si anak di dalam Sekolah Minggu hanya bermain-main dengan temannya. Se-perhatian perhatiannya si anak sama gurunya, yang dia terima hanyalah teori yang bisa saja dilupakan begitu keluar dari gedung gereja.

Waktu anak sebenarnya paling banyak di rumah. Contoh panutan yang pertama dilihatnya juga di rumah, yaitu orang tua mereka. Bagaimana orangtua saling menghormati satu sama lain, tidak marah apalagi saling membentak apalagi di depan anak-anak, tenggang rasa dengan tetangga, dan sebagainya. Biasakan juga menyediakan waktu khusus untuk beribadah bersama di rumah (misalnya berdoa atau sholat bersama), makan bersama di meja makan, membacakan cerita dari kitab suci sebelum tidur (daripada membacakan dongeng-dongeng mimpi ala Cinderella yang mencari prince chraming). Bahkan kalau perlu, pantaulah apa yang dilihat/ditonton atau dibaca oleh anak. Sedapat mungkin dampingilah si anak.

Nasihat dari tante saya itu saya iyakan. Bukan karena sekedar iya saja, tapi karena saya sendiri sudah merasakan manfaat dari apa yang tante saya katakan itu. Sejak kecil, begitulah yang terjadi di dalam rumah kami. Dan hasilnya, walaupun kami (anak-anak) ada yang merantau jauh dari orang tua, orang tua tidak lagi cemas karena bekal kami sudah cukup.

Saya tidak munafik, saya terkadang ingin mencoba dan mencari tahu apa yang pernah dilarang oleh orang tua saya. Saya pernah nonton film porno, saya juga pernah membaca buku cerita stensilan. Saya pernah ingin kabur dari rumah karena dimarahi. Saya ikut di hampir di semua jejaring sosial yang lagi tren. Saya berusaha mengikuti perkembangan teknologi dan gadget-gadget terkini. Tapi saya tahu batasan mana yang tidak boleh saya langgar. Bukan karena takut pada orang tua, tetapi karena ada Dia Yang Tak Terlihat yang selalu mengawasi saya. Dia yang sudah begitu baik dalam kehidupan saya yang tidak mungkin saya khianati.

Jadi, tidak usah takut sama jaman sekarang. Perubahan selalu ada. Jaman akan datang mungkin lebih menyeramkan daripada sekarang. Tetap dampingi anak-anakmu.

diposting juga di sini

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2010 in Ngerumpi

 

Tag: , ,

16 responses to “Anak Jaman Sekarang

  1. cK

    Februari 12, 2010 at 1:12 am

    postingan yang sangat mencerahkan. saya sendiri sudah mencoba memikirkan bagaimana membesarkan anak di jaman sekarang ini, jaman yang semakin gila.😛

    orang tua mesti pintar-pintar supaya anak tidak mudah terjerumus pada hal-hal negatif.🙂

     
    • lindaleenk

      Februari 12, 2010 at 1:38 am

      udah punya anak chik?
      sama…mengasuh adik jg harus pinter2..jaman sekarang beda sama jaman kita kecil dulu :&

       
  2. alice pngen gituan

    Februari 12, 2010 at 1:14 am

    @ck : setuju….

     
  3. christin

    Februari 12, 2010 at 1:15 am

    orang tua saya jadi teman buat anak-anaknya mbak… bikin saya gak takut tapi hormat sama orang tua🙂

     
    • desty

      Februari 12, 2010 at 1:21 am

      setuju ama christin… ntar saya mau jadi sahabat untuk anak saya.

       
  4. waterbomm

    Februari 12, 2010 at 1:53 am

    ah coba para orang tua itu dilahirkan jaman sekarang ini, pasti akan terjadi hal yang sama…

    tapi anak jadi begitu khan karena didikan orang tua juga, kalo dari kecilnya udah diajarkan seperti mereka diajarkan oleh orang tua mereka, pasti akan ngikutin.. tapi gak bisa sepenuhnya seperti mereka…

    *ngomong apa sih* hihi

     
  5. Eru

    Februari 12, 2010 at 2:00 am

    Yup, orang tua yang mendampingi anak-anaknya..
    Tidak mengekang dengan orotiter tapi memposisikan jadi sahabat
    mungkin tidak akan membuat anak-anak itu lari karena facebook hehe

    *saya juga bisa cuci piring :D*

     
  6. kheaz

    Februari 12, 2010 at 4:04 am

    Yup, bagaimana pun didikan orang tua adalah tanda kasih sayang. Makin ke depan, tugas,tanggung jawab dan peran ortu makin berat, di lingkungan iptek yang makin menjauhkan hubungan ortu dan anak.
    Dulu aku adalah anak dan sekarang menjadi ortu dari bayi perempuan yang kedepan akan tumbuh juga menjadi orang dewasa. Jadi beruntunglah kita yang pernah dididik ortu dan sekarang sudah menjadi calon Ortu atau Ortu. Tah bagaimana rasanya menajdianak dan sekarang merasakan mendidik anak🙂
    Apa yang baik dari ortu, kuteruskan ke anak dan yang terutama “mendidik anak didalam TUHAN” takut TUHAN is the BEST!! 🙂

     
  7. mas stein

    Februari 12, 2010 at 4:10 am

    konon ndak ada anak bandel, yang ada orang tua yang susah dibilangin. repot mbak, karena banyak ortu yang bilang do as i say, not as i do

     
  8. Delpietocs

    Februari 12, 2010 at 6:56 am

    saya jg bisa cuci piring tapi males he7x =d

     
  9. aRuL

    Februari 12, 2010 at 8:17 am

    salah satu pertimbangan berkeluarga adalah punya cara bagaimana membesarkan anak2 nanti…
    namun yang saya liat malah nikah hanya sekedar cinta dalam bentuk nafsu bukan dalam cinta sebagai bentuk tanggungjawab..
    *halah ngomong apa sih rul, hehe*

     
  10. Eka Situmorang-Sir

    Februari 15, 2010 at 10:50 pm

    benuuullll…..😉

    btw non.. baby.ku lom ada😦 mo dampingi sapa ya… mikir2😛

     
  11. Zian X-Fly

    Februari 18, 2010 at 11:17 am

    Salah satu solusinya ialah pesantren, seperti saya. Wkwkwk

     
  12. clingakclinguk

    Februari 18, 2010 at 11:54 am

    tantangan bagi orantua jaman skarang dalam mendidik anak semakin besar, tapi bagaimanapun orangtua ndak boleh lepas tangan, orangtua tetap harus selangkah atau bahkan 10 langkah lebih maju daripada anaknya, yang artinya kita tak boleh berhenti belajar, belajar dan belajar😀

     
  13. Riza-Arief Putranto

    Februari 18, 2010 at 8:17 pm

    udh cocok jd ibu.. segera kah? ^^

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: