RSS

Terima kasih, suamiku

19 Nov

thanks

Sesekali, (atau bisa saja setiap kali), seorang istri perlu mengucapkan kalimat itu untuk suaminya.

Kemarin malam, seperti biasanya, sebelum tidur saya menelpon suami yang (karena tuntutan pekerjaannya) tinggal di kota lain. Tapi yang tidak seperti biasanya, dia mendominasi percakapan dengan menceritakan harinya yang melelahkan. Selama hampir 30 menit dia bercerita tentang bos-nya, tugas-tugasnya, dan kesulitan yang dia hadapi. Sesekali saya berusaha menanggapi, walaupun pengetahuan saya soal pekerjaannya sangat minim.

Setelah telepon ditutup, saya berusaha mencerna curhatan suami. Sebenarnya bukan sekali ini dia bercerita (baca: curhat) soal pekerjaannya. Biasanya saya akan menanggapinya dengan kalimat, “Kalau kamu ga betah, keluar saja. Tapi ya…setiap pekerjaan pasti ada kesulitannya. Contohnya saya, tadi di kantor….bla…bla…bla…” (dan subjeknya pun beralih dari dia ke saya).

Dalam pemikiranku,  sebagai kepala rumah tangga sudah menjadi “kewajiban” bagi seorang suami untuk bekerja menghidupi keluarganya. Kalaupun seorang istri (harus) bekerja, itu hanya sebagai additional. Tambahan.  Saya sempat melupakan bahwa selain sebagai kewajiban, adalah suatu “kehormatan” bagi seorang kepala rumah tangga jika dia mampu mencari nafkah buat keluarganya.

Dan apakah saya pernah mengucapkan terima kasih padanya, ketika dia masih mampu (dan mau) melakukan “kehormatannya” itu (yang tentu saja akan berdampak pada kelangsungan hidupku juga)?

Belum.

Padahal di luar sana, ada kepala keluarga yang entah karena ketidak mampuannya atau ketidak mauannya, tidak dapat memberi nafkah bagi keluarganya.

Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan seorang istri sebagai wujud terima kasih. Hal yang paling sederhana misalnya menyambut suami pulang kerja dengan senyuman, menyiapkan air hangat untuk mandinya, dan menyediakan makanan untuknya,.  Tetapi karena masalah jarak, saya (bahkan) belum pernah melakukan hal yang paling sederhana itu.

Saya lalu mengambil kembali telepon genggam, dan menuliskan pesan singkat kepada suami :

“maaf (kalau)  aku belum pernah bilang, terima kasih atas kerja kerasmu mencari nafkah buat keluarga kecil kita. Aku bersyukur pada Dia karena kamu masih dimampukan untuk itu. Love you, hon. ”

Pesan terkirim. Dan hatiku belum pernah selega ini.

Iklan
 
10 Komentar

Ditulis oleh pada November 19, 2009 in Ngerumpi, tentang kita

 

Tag: , ,

10 responses to “Terima kasih, suamiku

  1. dila

    November 19, 2009 at 4:21 pm

    wow….ngebacanya bikin jadi pengen punya seseorang yang dipanggil “suami” around hehehe….

     
  2. itikkecil

    November 20, 2009 at 6:22 am

    ohh… so sweet…
    *jadi ngiri*

     
  3. desty

    November 20, 2009 at 9:43 am

    @dila + @itikkecil : ayo cepetan *halah*

     
  4. Prita

    November 21, 2009 at 10:37 am

    Awesome 🙂

     
  5. boneth

    November 21, 2009 at 11:50 am

    iya yah..
    hahaha tak pernah terpikir.. 😀 😀

    boleh dicoba nih.. hihihi
    *selama ini aku kemanaaaa ya???

     
    • desty

      November 30, 2009 at 10:43 pm

      @prita : 🙂
      @boneth : ayo…di mana aja??:D

       
  6. tukangobatbersahaja

    November 26, 2009 at 6:48 am

    Saya harus mengingat part ini.
    Berterimakasih atas kewajiban rutinnya hehehe.

     
  7. elia|bintang

    November 30, 2009 at 7:39 pm

    wah suaminya pasti seneng banget denger kata-kata itu! laki2 itu biar ga seemosional perempuan, tapi tetap menganggap kata-kata semacam itu menyentuh dan berarti.. 😀

     
  8. desty

    November 30, 2009 at 10:45 pm

    @tukang obat : benar…ntar dipraktekkan ya..
    @elia : dan suami saya berkata, “sama-sama hon..kamu juga sudah bekerja keras” 😉

     
  9. Paijo

    Februari 10, 2010 at 12:53 am

    Curhat suami atau istri tentang masalah/kesulitan di tempat kerja merupakan hal yang normal/biasa. Sebenarnya yang diperlukan bukan tanggapan yang terlalu detail apalagi menyarankan berhenti kerja karena masalah tersebut. Suami atau istri lebih memerlukan jawaban yang dapat memberi dukungan semangat dan dapat menyejukkan hatinya sehingga dapat mengatasi semua masalah tersebut. Selain itu, suami/istri sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya untuk didengarkan keluh kesahnya, mungkin di tempat kerja tidak ada tempat berkeluh kesah. Oleh karena itu, pasangan tidak perlu berkecil hati jika tidak dapat memberi jawaban teknis yang dapat menyelesaikan masalah suami/istri di kantor karena bukan itu yang sebenarnya diminta. Terimakasih dan salam eksperimen.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: