RSS

At the end of that day

06 Jan

Jadi, 20 Desember kemarin adalah hari ulang tahunku. Setelah mewujudkan impian untuk menikah di usia yang ke-25, maka impian pertama saya di usia ke-26 adalah merayakannya bersama suami tercinta. Tapi apa daya, karena suamiku sedang mengadu nasib di pulau paling timur Indonesia, impian itu mulai terkubur dengan sendirinya.

Dari pagi, sms dan telepon mengucapkan selamat ulang tahun terus berdatangan di hapeku. Tentu saja, Jojo juga menelepon setelah terlebih dahulu mengirimkan sms selamat ulang tahun yang kata dia tujuannya untuk membangunkan aku terlebih dahulu sebelum menerima teleponnya. Tapi mengingat hari itu akan kulalui sendirian, tidak urung membuatku sedikit bersedih.

“Jadi acaramu apa hari ini?”, tanya Jojo
“Belum tahu. Mungkin cari makan siang aja di luar.”
“Oh gitu..ohya, aku keluar dulu ya..mau cari jahe merah pesananmu. Kalau sore pasarnya tutup.”
“Kamu ga kerja hari ini?”
“Kerja sih..tapi lagi mati lampu, jadi jalan-jalan aja dulu..hehe”
“Ya sudahlah…ntar telepon lagi ya”

Menjelang siang, seorang sahabat lama , Tika, mengirimkan sms dan mengajak untuk nonton bersama di XXI Botani Square. Tentu saja tawaran ini tidak aku lewatkan, hitung-hitung bisa melewati hari ini bersama seseorang. Tapi Tika, temanku terlambat datang. Aku menunggu sambil menelepon Jojo. Telpon Jojo juga tidak aktif. Mungkin dia lagi berada di tempat yang tidak ada sinyalnya. Akhirnya Tika datang dan jadilah kami menonton film Twilight yang lagi happening itu, walaupun sempat ketinggalan 20 menit di awal film. Kata orang sih film ini bakal jadi the next Harry Potter. Tapi setelah menontonnya aku berpendapat film ini ga ada apa-apanya dibandingkan dengan Harry Potter. Alih-alih film tentang vampire yang jatuh cinta, lebih cocok disebut film percintaan yang dilakoni oleh vampire.

Sementara menonton, Jojo sms lagi.
Jadi ngapain dek? Sinyalnya lagi jelek nih. Battrey hapeku jadi habis karena sinyal jelek.”

“Lagi nonton ama teman. Film Twilight, film vampire untuk abg.”

Habis nonton, kami makan siang (makan sore lebih tepatnya). Sementara makan, aku menelepon Jojo. Sempat ngobrol sebetar, karena Jojo mau ngecahrge hape-nya mumpung lagi nyala lampunya. Di tempat Jojo sekarang memang sering mati lampu. Setelah makan, aku pulang ke rumah, soalnya Tika juga mau ke tempat temannya di Jakarta.

Malamnya, seperti biasa sebelum tidur aku menelepon Jojo. Ada nada panggil tapi tidak diangkat. Ga lama kemudian ada sms dari Jojo.

Hon di mess masih rame ada tamu. Ntar agak malaman aku telepon ya..hehe. Tamunya menyebalkan bawa kerjaan lagi.

Ya sudah…aku menunggu aja sambil baca buku. Tapi sampai jam 22.00 WIB dia belum menelepon. Di sana berarti sudah jam 00.00 WIT. Berkali-kali aku coba menelepon, tapi tidak diangkat juga. Sampai sms dari Jojo datang lagi.

“Sori mbak. Pak zul lg keluar anter temennya. Sbntr kembali. Hp nya ada tertinggal”

Ough…ternyata temannya yang sms pake hape Jojo. Aku jadi semakin uring-uringan. Harusnya malam ini aku dan dia bisa ngobrol panjang sebelum tidur. Setengah jam kemudian aku mengirimkan sms ke Jojo.

“Hon kalo dah pulang telepon aku. Aku ga mau tidur sebelum kamu pulang.”

Beberapa menit kemudian, akhirnya Jojo menelpon. Belum sempat dia berbicara aku sudah nyerocos duluan, marah-marah karena dia pulang larut malam. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Dan begitu pintu aku buka…

“Selamat ulang tahun, sayang…”

Aku terperanjat melihat Jojo berdiri di depan pintu. Aku langsung memeluk Jojo sambil terus melanjutkan omelanku, dan tentu saja sambil menangis. Entah tangisan lega atau bahagia.

“Kamu jahat, hon…kamu ngerjain aku…”, omelku dalam pelukan Jojo.
“Katanya mau kado ulang tahun bersama aku? Selamat ulang tahun…Jangan nangis..”, kata Jojo sambil mencium keningku.

Ternyata Jojo sudah lama merencanakan akan pulang dan memberi kejutan di hari ulang tahunku. Tapi dia tidak mengatakan kepada siapapun, kecuali ke teman mess-nya untuk jaga-jaga seandainya aku menelpon ke temannya menanyakan dia.

Dan di akhir hari itu, aku bisa bersama Jojo merayakan ulang tahunku. Ternyata impianku tidak terkubur begitu saja. Walaupun tetap saja tidak tiup lilin bersama tapi tidur dalam pelukan Jojo sudah menjawab keinginanku tanpa harus meniup lilin terlebih dahulu.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih sayangku…Love you much.

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2009 in tentang mereka

 

Tag: ,

One response to “At the end of that day

  1. tika

    Januari 8, 2009 at 4:28 am

    woy… mana nh selametan rumah baru nya…^^

    sorry… gw datang udah telat pake banget yak waktu itu..hehe.. tau ga?? ceritanya tuh dr awal udah salah perhitungan pas berangkatnya. trus nungguin bis, lama banget kaga nongol2. eh pas dapet, leletnya na’udzubillah deh. tambah parah pas di tengah jalan di pindahin ke bis lain gara2 mogok. sumpah. sial bgt gw hari itu…

    tapi jadi berasa lebih muda 10 tahun ga seeh?? secara qt nonton bareng2 ma abg2 gitu…hahaha..

    ps. sorry bgt yaa.. makan siangnya juga jd telat..

    hehe…serasa lebih muda emang…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: