RSS

Arsip Penulis: desty

Meet Our Son, Yobel Nugraha Panggabean

Dulu, waktu belum hamil, saya berangan-angan akan menuliskan semacam jurnal selama saya hamil. Nyatanya begitu hamil, angan-angan ga jadi kenyataan. Sebenarnya sih malas nulis aja… :)

Padahal ada banyak hal yang bisa diceritakan selama hamil kemarin. Kalau soal ngidam, mual-muntah, itu sudah biasa dan umumnya dialami semua ibu hamil. Salah satu yang spesial adalah karena kehamilan dengan placenta previa totalis yang saya alami. Kondisi spesial ini membuat saya harus ekstra hati-hati menjaga janin di dalam kandungan.

Hingga minggu ke 34 nyaris tidak ada masalah, kecuali gerakan si baby yang sangat aktif. Berhubung kami sudah tahu dia adalah baby boy, kami merasa itu hal yang wajar. Namun, tanggal 11 April dini hari, tiba-tiba saya mengalami pendarahan. Kami berdua panik, dan segera ke IGD di RS. Panti Rapih. Hasil observasi dokter mewajibkan saya untuk bedrest total. Empat hari di RS, semua kegiatan dilakukan di atas tempat tidur. Setelah pendarahan berhenti dan tinggal flek-flek saja, dokter membolehkan untuk pulang ke rumah dengan syarat tetap bedrest (tapi urusan kamar mandi tidak lagi di atas tempat tidur). Jadilah saya hanya tiduran saja sampai bosan.

Pas usia kandungan 36 minggu, pendarahan kembali terjadi. Kali ini dokter tidak membolehkan saya pulang dari RS. Seminggu saya kembali bedrest total. Kedua tangan sampai bengkak gara2 berurusan dengan infus yang sering macet. Dokter baru mau melakukan operasi caesar setelah kandungan berusia 37 minggu.

Sabtu, 3 Mei 2014, usia kandungan 37 minggu, waktu operasi caesar ditentukan jam 12 siang. Jam 11, perawat mulai melakukan persiapan. Mulai dari pasang kateter, sampai ganti infus (lagi). Jam 11.30 saya diantar ke ruang bedah. Jam 12.00 masuk ke dalam ruang operasi. Sampai di ruang operasi, ternyata saya harus menunggu 1 jam lebih, karena dokter kandungan-nya masih ada pasien di poliklinik. Setelah ada konfirmasi bahwa dokter kandungan sudah menuju ke ruanh operasi, barulah dokter anestesi bekerja. Saya mulai dibius spinal, perut kebawah mulai kebas dan mati rasa. Begitu dokter kandungan datang, operasi segera dimulai. Jam 13.47 suara tangisan anak saya (yang kami beri nama Yobel) untuk pertama kalinya terdengar. Kencang banget, sampai rasanya saya ingin langsung memeluknya. Apa daya, saya hanya bisa menitikkan air mata bahagia. Yobel langsung dibawa pergi untuk diobservasi (ditimbang, diukur panjangnya, dicek kelengkapannya), didampingi sama bapaknya. Sementara saya lanjut “dibereskan”.

Yobel saat diobservasi

Yobel saat diobservasi

Ohya, ada yang menarik saat Yobel lahir. Pada saat Yobel diangkat dari dalam kandungan, kata suster di luar lagi hujan deras. Padahal langitnya terang. Dokternya langsung bilang, “anaknya bawa hujan berkat ya, Bu.” Amin…

Operasi beres, saya diantar ke ruang pemulihan. Di sana, saya sampai menggigil sampai badan saya bergetar semua. Saya sampai minta diselimuti 2 lapis. Ada sejam saya menggigil di ruang pemulihan, sampai perawat membolehkan untuk kembali ke kamar. Jam 15.30 saya diantar ke kamar ditemani suami dan mama. Suami pun memperlihatkan video yang dia ambil saat Yobel diobservasi. Waduh… saya nangis lagi pas liat videonya. Apalagi pas Yobel diantar suster masuk ke kamar jam 21.00. Pengen langsung meluk, tapi saya ga bisa gerak dari tempat tidur. Seharusnya malam itu Yobel sudah bisa rawat gabung bersama saya, tapi mama menganjurkan untuk rawat gabungnya mulai besoknya saja. Tunggu saya pulih dulu. Ternyata besoknya, saya harus transfusi darah, karena menurut hasil lab pasca operasi, Hb saya turun sampai 8,6.
Selebihnya proses pemulihan pasca operasi lumayan lancar. Kami diperbolehkan pulang pada hari ke-3. Sukacita saya berlipat-lipat, anak saya lahir dengan selamat, plus saya terbebas dari bedrest total :)

Yobel Nugraha Panggabean

Yobel Nugraha Panggabean

Ohya, soal nama anak kami ada ceritanya sendiri. Nama lengkapnya Yobel Nugraha Panggabean. Nama Yobel itu diberikan oleh opungnya, yang diambil dari nama tahun di Alkitab yang berarti tahun pembebasan/kemenangan. Dari kakeknya (papa saya) tadinya mau dikasih nama Anugerah, tapi saya dan bapaknya Yobel kurang sreg. Saya pun kepikiran nama saya sendiri Nugrainy itu artinya anugerah juga. Saya pun mengusulkan nama Nugraha sebagai nama keduanya. Lagian nama Yobel mirip nama bapaknya, Joel; nama Nugraha mirip sama mamanya dong… :D

So, world… Please welcome our son, Yobel Nugraha Panggabean.

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 10, 2014 in entahlah..., tentang kamu, tentang kita, tentang saya

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 498 pengikut lainnya.