gubuk cerita

It Takes Two, Baby

it takes two

Ketika cinta hinggap di hati, kita tidak ingin dia pergi. Kita ingin menikmatinya selama mungkin. Tetapi kita sering berpatokan pada “ingin menikmati” dan agak lupa dengan usahanya. Kita sering bercokol pada keinginan tanpa mengingat bahwa untuk mencapainya diperlukan kerja keras dan usaha yang tidak sedikit. Saat waktu berjalan, kita sering lupa menjaga nyala api cinta ini. Kita terlalu yakin ia akan menyala, tumbuh subur dengan sukarela, tanpa perlu pupuk. Maaf, cinta tak bisa dibiarkan sendiri. Kita harus tumbuh bersamanya. Kita harus giat menyiraminya. Caranya? Dengan saling membuka hati. Jujur, berani menerima kritik dan saran dari pasangan. Ditambah kemauan untuk memakai akal sehat. Memang ini tidak gampang. Tetapi bukannya mustahil buat dilakukan. Sebaliknya, cinta menjadi bekal saat kita melakukannya. Ketika si dia menyampaikan keluhannya, cinta menguatkan kita untuk mendengarkan hingga tuntas. Cinta pula yang menjadikan kita mau mencari jalan keluar.
Diperlukan dua hati seia-sekata, setuju untuk menjaga nyala api cinta. Mau tidak mau, perlu dua hati yang setuju mempertahankan cinta. Dan untuk itu kita harus merelakan waktu untuk benar-benar bicara dari hati ke hati. Tentang isi hati, kekhawatiran, ketakutan, kebahagiaan. Apa saja. Lalu bergantian melakukan hal yang sama untuk pasangan. Kita tak bisa hanya ingin didengar, tapi enggan mendengar. Dan sebaliknya. Masalah sepele, bisa jadi malapetaka bila dihadapi dengan emosi. Tapi masalah besar bisa jadi remeh bila dihadapi dengan hati yang bening. It takes two strong heart to build a strong relationship.

Cosmopolitan Magazine, Februari 2002

Manusia ditakdirkan menjadi ciptaan-Nya yang paling sempurna di antara ciptaan lainnya. Tapi manusia tidak bisa menciptakan kesempurnaan.

Juli 1, 2009 - Ditulis oleh desty | Ngerumpi | | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar